Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Perempuan Sulteng Ini Tak Takut Peluru: Rismayati Mustamin Ukir Prestasi Nasional di Dunia Airsoft Gun

Nur Soima Ulfa • Sabtu, 6 Desember 2025 | 19:00 WIB

BUKAN PEREMPUAN BIASA: Anggota ABU Sulteng, Rismayati Mustamin peraih Juara 1 Nasional kategori TSOC Riffle perorangan pada ajang bergengsi Fornas di Lombok.
BUKAN PEREMPUAN BIASA: Anggota ABU Sulteng, Rismayati Mustamin peraih Juara 1 Nasional kategori TSOC Riffle perorangan pada ajang bergengsi Fornas di Lombok.
RADAR PALU-Di tengah medan permainan yang penuh adrenalin, suara tembakan, strategi, dan ketegangan, nama Rismayati Mustamin muncul sebagai salah satu pembuktian bahwa dunia airsoft gun. Bukan hanya milik laki-laki.

Perempuan kelahiran Sulawesi Tengah yang akrab disapa Yati, ini berhasil mencuri perhatian dengan prestasi membanggakan yakni berhasil meraih Juara 1 Nasional kategori TSOC Riffle perorangan pada ajang bergengsi Fornas di Lombok.

Masuk ke dunia airsoft gun pada tahun 2023, perjalanan Yati tidak diawali dengan ragu atau sekadar coba-coba. Ia masuk sebagai pemain serius yang langsung mencoba unit AEG, bukan spring seperti kebanyakan pemula. Dunia yang awalnya terlihat menantang dan penuh intimidasi, justru menjadi ruang baru bagi dirinya untuk berkembang dan menemukan kepercayaan diri.

“Awalnya minder, Karena hampir semua yang main laki-laki. Perlengkapannya juga mahal. Tapi karena saya suka, saya lanjut.”

Yati mengaku pertama kali diperkenalkan pada komunitas airsoft gun oleh iparnya yang sudah lebih dulu tergabung. Ia hanya berniat melihat-lihat. Namun setelah mencoba pertama kali, rasa takut berganti menjadi tantangan, lalu berubah menjadi hobi yang sulit dilepaskan.

Selama latihan, ia ditempatkan di klub Mercenary (Mercy) yang berada di bawah payung besar airsoft gun resmi RR Abu Sultan.

Penempatan pemain tidak ditentukan keinginan pribadi, tetapi diputuskan langsung oleh ketua agar pembagian klub seimbang. Dari situlah Yati mulai menemukan ritme, tim, dan identitasnya sebagai player.

Latihan dilakukan rutin setiap Minggu, sementara latihan spring dilakukan pada Sabtu. Lokasinya berganti-ganti, mulai dari Hutan Kota hingga Lapangan di Jalan Elang, dengan mode permainan berbeda, mulai dari CQB yang intens jarak dekat hingga skema permainan lapangan luas.

Senjata Mahal, Mental Lebih Mahal

Yati menggunakan AEG M4, unit yang menurutnya paling cocok dengan gaya bermainnya, yakni cepat, agresif, dan fokus tembakan berulang. Namun di balik kenyamanan itu, ada harga yang harus dibayar. “Unit paling murah 8 juta. Itu belum atribut,” ungkap Yati.

Dalam airsoft gun, satu set perlengkapan lengkap, yakni helm, kacamata pelindung, vest, rompi, sarung tangan, pelindung lutut, hingga unit—bisa menyentuh angka belasan hingga puluhan juta. Namun bagi Yati, harga hanyalah bagian dari hobi, bukan penghalang.

Karena ia pernah merasakan jadi pemula tanpa unit, klub menyediakan pinjaman senjata untuk anggota baru agar tidak ada yang terhalang hanya karena peralatan.

Menuju Podium Nasional

Ketika Federasi Olahraga Rekreasi Nasional (Fornas) digelar di Lombok, Yati tidak sekadar ikut. Ia membawa ambisi dan keyakinan. Didukung komunitas dan difasilitasi sponsor dari Abu Sultan, ia berangkat bersama sejumlah pemain lainnya.

Di antara ratusan peserta dari berbagai daerah, Yati tampil percaya diri. Ketelitian, kontrol napas, fokus, dan strategi menembak menjadi penentu. Hingga akhirnya, namanya dipanggil sebagai Juara 1 Nasional TSOC Riffle Perorangan Perempuan Pertama dari Abu Sultan yang meraihnya.

Baginya, bukan piala atau medali yang paling berharga melainkan momen ketika ia mampu membuktikan bahwa perempuan bisa dan layak berada di arena yang sama.(mg1)

Editor : Nur Soima Ulfa
#Fornas #airsoft gun #FORNAS 2027 #Rismayati Mustamin #ABU Sulteng #Airsoft Brotherhood United Sulawesi Tengah #komunitas airsoft gun