Kepada Radar Palu Jawa Pos Group, Lurah Baru Bachira Ulfah SSos, mengungkapkan ada lima kasus anak stunting di wilayahnya. Namun dari lima anak tersebut, baru dua anak yang mendapatkan bantuan makanan tambahan.
“Saat ini ada lima kasus stunting di wilayah kami, tapi yang mendapat makanan tambahan ada dua anak di RT 02,” kata Bachira, yang ditemui belum lama ini.
Setelah dilakukan verifikasi bersama puskesmas, jumlah kasus pun menurun. “Dulu ada sebelas anak, tapi setelah kami turun langsung dan memberikan makanan tambahan, tinggal lima. Berat badan anak-anak juga mulai meningkat,” ujarnya.
Meski program berjalan baik, Bachira mengakui masih ada kendala. Salah satunya adalah rendahnya partisipasi sebagian ibu dalam kegiatan posyandu. “Karena ini wilayah perkotaan, ibu-ibu yang ekonominya menengah ke atas lebih memilih langsung ke klinik atau dokter,” jelasnya.
Tim kelurahan bersama kader PKK, Satgas Pancasila, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas turun langsung ke lapangan. “Kami melakukan swiping, mendatangi rumah warga yang malas datang ke posyandu untuk memberikan edukasi,” kata Bachira.
Ia juga menambahkan bahwa kegiatan posyandu berjalan rutin di empat lokasi, seperti Melati 1 hingga Melati 4, dengan jadwal bergilir setiap dua minggu. “Kami terus melakukan kontrol dan pelatihan agar kader dan masyarakat tetap aktif,” imbuhnya.
Bachira berharap seluruh program yang sudah berjalan tidak berhenti begitu saja, meskipun terjadi pergantian kepemimpinan. “Ke depan, program ini harus terus berlanjut. Jangan sampai selesai hanya di periode ini,” tegasnya.
Ia menargetkan pada tahun 2026, angka stunting di Kelurahan Baru tidak ada lagi. “Bersama tim PKK, kami berupaya keras agar wilayah kami bebas stunting. Masyarakat juga sangat mendukung karena merasakan manfaatnya,” pungkasnya. (mg1)
Editor : Nur Soima Ulfa