“Karena itu, saya berpikir, kalau kelurahan wajib punya bank sampah, mengapa sekolah tidak?” tuturnya.
Guna mendukung program bank sampah di sekolahnya dia mewajibkan setiap kelas punya tempat sampah pilah. Agara siswanya sudah terbiasa memilah antara plastik, organik, dan kertas. Agar pengelolaanya lebih teraraha Elvira bahkan membentuk pengurus bank sampah yang sudah disahkan lewat SK kepala sekolah.
“Sampah yang terkumpul diolah menjadi hiasan dan kerajinan di kelas. Sekarang lingkungan sekolah jadi lebih bersih dan indah,” tambahnya.
Dengan berbagai inovasi yang ia jalankan, tentu dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Namun, dana sekolah yang terbatas tidak menjadi penghalang baginya. Berbekal koneksi dan jaringan yang dimiliki, ia mampu menggerakkan berbagai pihak untuk turut berkontribusi dalam memajukan sekolah.
“Saya membangun kemitraan. Dengan lurah, camat, dan warga sekitar. Saya tidak pernah meminta uang dari guru atau orang tua murid. Tapi saya berkomunikasi baik dengan pihak luar. Saya bilang terus terang, “Saya butuh semen lima sak,” dan alhamdulillah mereka bantu. Dari situ, guru-guru juga ikut tersentuh dan membantu secara sukarela. Jadi semuanya berawal dari komunikasi dan kepercayaan.
Sebagian memang ada yang saya bantu pribadi, tapi saya anggap itu bagian dari tanggung jawab moral. Karena ini dapur kita bersama, jadi kita harus ikut menjaga dan membangunnya,” bebernya.
Pantauan Radar Palu, Kamis (23/10) pagi, sekolah yang berlokasi di Jalan Mantikulore, Kelurahan Lasoani ini kini dihuni oleh 286 murid.(win)
Editor : Nur Soima Ulfa