Forecaster BMKG, Ahmad Reza, menjelaskan bahwa peningkatan suhu di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Palu, dipengaruhi oleh posisi semu matahari yang saat ini berada di selatan garis khatulistiwa.
“Saat ini matahari posisinya ada di selatan khatulistiwa. Karena itu, wilayah selatan dan tengah Indonesia sedang mengalami cuaca yang panas,” ujar Reza.
Ia menambahkan, selain faktor pergeseran posisi matahari, angin kering dari Benua Australia turut berperan dalam menurunkan kelembapan udara di wilayah Indonesia bagian tengah, termasuk Kota Palu.
“Anginnya dari Australia, membawa massa udara kering. Akibatnya, pembentukan awan di Palu jadi sedikit, dan udara terasa lebih panas,” katanya.
Menurut data BMKG, suhu tertinggi di Palu dalam tiga hari terakhir tercatat mencapai 35 derajat Celsius. Angka ini dinilai masih dalam kategori normal, karena pada periode El Niño tahun 2023, suhu di kota tersebut pernah mencapai 37 derajat Celsius, yang dikategorikan ekstrem.
“Sekarang masih di 35 derajat, jadi belum termasuk ekstrem,” ujar Reza.
BMKG memprediksi kondisi panas ini akan berlangsung hingga akhir Oktober, sebelum berangsur menurun pada awal November seiring masuknya musim hujan. “Prediksinya sampai akhir bulan Oktober. Mungkin awal November atau seminggu ke depan sudah mulai hujan,” jelasnya.
Reza menegaskan bahwa peningkatan suhu ini bukan fenomena luar biasa, melainkan bagian dari perubahan musiman yang wajar “Ini hanya peningkatan suhu saja, bukan heat wave. Karena awan sedikit, sinar matahari langsung mengenai permukaan bumi tanpa penghalang, jadi terasa lebih panas,” katanya.
Selain faktor astronomis dan angin, kondisi geografis Kota Palu yang berada di lembah dan dikelilingi pegunungan juga turut memengaruhi perbedaan suhu di wilayah tersebut. “Di pegunungan biasanya awannya lebih banyak, sedangkan di lembah seperti Palu pembentukan awannya sedikit, jadi lebih panas,” jelasnya.
Mengenai potensi terulangnya suhu tinggi dalam waktu dekat, BMKG menilai kemungkinan tersebut ada, namun tidak akan mencapai level ekstrem. “Karena kategorinya masih normal, bisa saja terulang, tapi tidak sampai ekstrem,” kata Reza.
Sebagai langkah antisipasi, BMKG mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan selama cuaca panas ini berlangsung. “Masyarakat sebaiknya perbanyak minum agar tidak dehidrasi, kurangi aktivitas di luar ruangan, gunakan sunblock atau sunscreen, dan yang paling penting selalu pantau informasi dari BMKG,” imbau Reza.
Ia juga menekankan bahwa BMKG terus berkoordinasi secara nasional dan aktif menyampaikan informasi cuaca melalui berbagai kanal, termasuk media sosial, agar masyarakat tetap waspada terhadap kemungkinan perubahan cuaca mendadak seperti hujan lebat atau angin kencang. “Kami rutin memperbarui informasi di media sosial BMKG, jadi masyarakat bisa memantau dari sana,” tutup Reza. (mg2)
Editor : Nur Soima Ulfa