Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Sukses Catat Rekor MURI, Kepala Cikasda: Insya Allah 2026 Bisa Tarwih di Masjid Raya Baitul Khairat

Taswin • Kamis, 16 Oktober 2025 | 16:46 WIB

 

CATATAKAN MURI : Kadis Cikasda Sulteng (Tengah) saat menerima Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) di Jakarta belum lama ini.
CATATAKAN MURI : Kadis Cikasda Sulteng (Tengah) saat menerima Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) di Jakarta belum lama ini.

RADAR PALU – Kepala Dinas Cipta Karya dan Sumber Daya Air (Cikasda) Provinsi Sulteng Andi Ruly Djanggola, mengungkapkan umat Islam di Kota Palu dan sekitarnya, berpeluang besar salat tarwih berjamaah di Masjid Raya Baitul Khairat pada 2026 mendatang.

Perhitungan ini muncul berdasarkan situasi terkini pembangunan masjid yang dulunya akrab dikenal dengan nama Masjid Agung ini. Menurut Ruly Masjid Raya Baitul Khairat kini memasuki tahapan finishing-finishing dan membutuhkan ketelitian yang baik.

Dia membeberkan usai dibangun kembali, di masjid ini nantinya akan dihadirkan beberapa fasilitas seperti ruang terbuka hijau yang akan disi oleh UMKM Syariah, fasilitas lantai dasar ada aula yang bisa menampung hingga 500 orang, kemudian ada fasilitas museum peradaman muslim di Sulteng serta perpustakaan.

Baca Juga: Persekutuan Perempuan Sinode GKST Gelar Pertemuan Raya, Posisinya Sangat Penting dan Strategis
“Tahun 2026 akan dimanfaatkan dan akan digunakan, kita tarawih disana semua dan lebaran disana. Insha Allah,” ungkapnya.


Sementara itu, Masjid Raya Baitul Khairat mencatatkan sejarah baru dalam bidang infrastruktur keagamaan. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah resmi menerima dua penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) atas pembangunan Masjid Raya Baitul Khairat yang memiliki kubah dan jam menara terbesar di Indonesia.


Penyerahan sertifikat rekor MURI berlangsung di kantor MURI, Jakarta, Rabu (15/10) dan diterima langsung oleh Kepala Dinas Cikasda Sulteng, Dr. Andi Ruly Djanggola, mewakili Gubernur Sulawesi Tengah.


Direktur Operasional MURI, Yusuf Ngadri, dalam sambutannya menyampaikan bahwa masjid yang mulai dibangun sejak 23 Oktober 2023 hingga direncanakan rampung pada 15 November 2025 ini, tidak hanya menjadi ikon baru Kota Palu, tetapi juga menjadi simbol kemegahan arsitektur Islami di Indonesia.


“Masjid Raya Baitul Khairat memiliki kubah berdiameter 90 meter, menjadikannya yang terbesar di Indonesia, serta menara dengan jam analog berdiameter 19,3 meter, juga terbesar di Tanah Air,” ungkap Yusuf Ngadri saat menyerahkan sertifikat MURI.


Data yang diterima media ini, selain dua pencapaian tersebut, Masjid Raya Baitul Khairat juga menyimpan beragam makna filosofis dalam setiap unsurnya, 99 ornamen jendela merepresentasikan Asmaul Husna, Menara kembar setinggi 66,66 meter melambangkan 6.666 ayat Al-Qur’an dan Tinggi bangunan utama 30 meter menggambarkan 30 juz Al-Qur’an.


Dalam sambutan Gubernur Sulawesi Tengah yang dibacakan oleh Kepala Cikasda Andi Ruly Djanggola, disebutkan bahwa pembangunan Masjid Raya Baitul Khairat merupakan proyek lintas kepemimpinan yang telah melalui perjalanan panjang.

“Pembangunan masjid ini bukan semata untuk meraih rekor MURI, tetapi lahir dari desain sayembara tahun 2021 yang kemudian diwujudkan sesuai hasil perencanaan tahun 2022. Penghargaan MURI justru datang sebagai pengakuan atas skala dan keunikan arsitekturnya,” ujar Ruly.


Lebih jauh, Ruly menjelaskan, filosofi angka 9 yang mendasari desain kubah berdiameter 90 meter dan jam analog berdiameter 19 meter diambil dari makna Surah At-Taubah, surah ke-9 dalam Al-Qur’an yang berarti pengampunan.


“Masjid Raya Baitul Khairat diharapkan menjadi rumah kebaikan, tempat memohon ampunan dan keberkahan bagi masyarakat Kota Palu dan Sulawesi Tengah,” sambungnya.(win)

 

Editor : Nur Soima Ulfa
#Dinas Cikasda #Masjid Raya Baitul Khairat #Dinas Cipta Karya dan Sumber Daya Air Provinsi Sulteng #Masjid Agung Palu