Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Mengenal Sesar Palu Koro, Dan Bom Seismik yang Pernah Ditimbulkan 28 September 2018

Syahril. • Selasa, 30 September 2025 | 10:02 WIB
SAMPAIKAN MATERI : Ir Abdulllah saat menyampaikan materi kepada para peserta diskusi, Minggu (28/9/2025).
SAMPAIKAN MATERI : Ir Abdulllah saat menyampaikan materi kepada para peserta diskusi, Minggu (28/9/2025).

RADAR PALU - Dulu, namanya bukan Sesar Palu-Koro (SPK) tetapi Sesar Fossa Sarassin ditemukan oleh dua peneliti yang masih sepupu sekali dari Swiss bermarga Sarassin. 

"Sesar ini diidentifikasi oleh Paul dan Fritz Sarassin. Kemudian orang bingung sesar Fossa Sarassin ini dimana? Supaya tidak membingungkan, kemudian dirubah namanya sesuai dengan wilayah yang dilewati. Kemudian melewati lembah Palu dan lembah Koro, maka dinamai Sesar Palu Koro," jelasnya.

Sebelum gempa yang merenggut ribuan nyawa pada 2018 silam, sesar ini, tak dikenal banyak orang.

"Seperti mahluk gaib. Diyakini ada, tetapi dimana dan seperti apa bentuknya, itu banyak yang tidak tahu," jelas Abdullah. Tetapi pasca gempa, banyak masyarakat mulai mengetahui sesar ini.

Sesar Palu-Koro sendiri melewati selat Makassar mulai dari perbatasan laut Sulawesi mengarah ke lembah Palu hingga berujung di Sungai Koro dengan panjang di darat sejauh 250 Kilometer (Km) hingga ke Teluk Bone, Kecamatan Masamba, Luwu Utara. Sedangkan di laut juga membentang sejauh 250 Km.

Pada 28 September 2018 lalu, SPK bergerak dan menyebabkan 5 bencana sekaligus, yakni gempa, likuifaksi, tsunami, longsor dan downlift, serta memunculkan beberapa bencana turunan seperti kebakaran dan banjir bandang.

Bencana tersebut tersebar di wilayah Palu, Donggala, Sigi dan Parigi Moutong (Padagimo), yang kemudian lebih akrab di masyarakat dengan istilah Palu Sigi dan Donggala (Pasigala).

"Sebenarnya di Kabupaten Parigi Moutong terdapat 30 lebih korban dan 5 ribu lebih rumah yang rusak se Parimo," sebut Akademisi dari Universitas Tadulako (Untad) ini.

Selain 5 bencana tersebut sambung dia, juga terjadi bencana ikutan yakni kebakaran di wilayah Petobo dan Balaroa serta bencana sosial berupa masifnya penjarahan.

"Kemudian terjadi bencana turunan. Di wilayah barat Desa Bangga, Kabupaten Sigi terjadi longsor besar, ketika terjadi hujan deras November 2018, Februari 2019 dan April 2019, bekas longsoran dialirkan ke tempat yang rendah dan terjadi bencana di Dusun 1 Bangga," sebutnya.

Di Desa Lompio dan Desa Tompe, Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala mengalami downlift dan sampai saat ini menjadi lokasi banjir rob setiap bulan selama 4-5 hari ketika air laut pasang.

Melihat ciri-ciri yang ditimbulkan, Abdullah mengkategorikan bencana 2018 sebagai gempa bumi supershear atau gempa yang retakan buminya lebih cepat dibanding kecepatan gempanya sendiri serta menciptakan bom seismik.

Ini merupakan gempa supershear ke lima yang pernah terjadi di dunia.

Bom seismik inilah yang meningkatkan dampak gempa itu sendiri. "Jadi banyak masyarakat bertanya betulkah magnitudo gempa 7,4? Rasa-rasanya lebih besar. Itu karena bom seismik tadi," sebut Abdullah.

Abdullah menganalogikan cara kerja gempa supershear ini seperti pesawat yang melaju dengan kecepatan supersonic. Ketika sebuah pesawat melaju dengan kecepatan supersonic maka akan memunculkan bom suara di belakangnya.

Bahkan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menyebut energi gempa Pasigala magnitudo 7,4 setara dengan 200 kali bom Hiroshima.

Episenter atau titik yang pertama kali melepaskan gelombang dapat berbentuk titik, tetapi pusat gempa yang terjadi pada 28 September 2018 itu memanjang dari Desa Lende, Kecamatan Sirenja Kabupaten Donggala hingga ke Desa Boladangko, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi sepanjang 156 Km.

Dosen dan pemerhati bencana ini juga merincikan beberapa titiknya. Di antaranya di Jalan Cemara, jalan yang tadinya lurus, tiba-tiba menjadi zig-zag dengan pergeseran horizontal sepanjang 5,4 meter.

"Di tempat lain juga ada seperti di Pewunu (Sigi), di Jalan Diponegoro Palu, dan dibeberapa desa lain. Tetapi pergeseran di Jalan Cemara ini yang terbesar," urainya.

Selain itu, terkait tsunami di Teluk Palu sebut Abdullah, kurang lebih sebanyak 10 titik.

Tsunami di sisi Timur Teluk Palu disebabkan oleh longsor bawah laut, sedangkan sisi Baratnya lantaran patahan sesar Palu-Koro. Gempa juga menyebabkan Sungai Buluri hilang sepanjang 115 meter ke arah laut dan menjadi salah satu pusat tsunami.

Tsunami tidak hanya terjadi di Teluk Palu, tetapi juga terjadi di Tambu dan Tompe, Kabupaten Donggala.

Muara Sungai Olaya Kabupaten Parigi Moutong serta di wilayah Budong-budong, Mamuju Tengah, Sulawesi Barat.

"Jadi masing-masing daerah itu punya sumber tsunami sendiri, bukan tsunami dari Tompe yang mengarah ke lima titik itu," jelas Abdullah.

Baca Juga: Beragam Produk Unggulan dari IKM Binaan DP2KB Kota Palu Tampil di IKM Expo dan Pameran OPD 

Menurut Abdullah, d Teluk Palu sendiri masih ada retakan yang belum jatuh tepatnya di sisi Timur Teluk Palu.

"Masih banyak retakan dan hanya satu-dua yang sudah jatuh, dan itu sewaktu-waktu bisa menyebabkan tsunami meskipun tak ada gempa atau tsunami senyap," pungkasnya. (ril)

Editor : Syahril.
#Sesar Palu Koro #Ir Abdullah #Pasigala