Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

China Tak Bergeming, Upaya AS Tekan Iran Lewat KTT Beijing Mandek

Agung Sumandjaya • Jumat, 15 Mei 2026 | 18:19 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump berjabat tangan dengan Presiden China Xi Jinping di Great Hall of the People, Beijing. [Kenny Holston/Pool via AFP]
Presiden Amerika Serikat Donald Trump berjabat tangan dengan Presiden China Xi Jinping di Great Hall of the People, Beijing. [Kenny Holston/Pool via AFP]

RADAR PALU – Pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing belum menghasilkan terobosan berarti terkait upaya mengakhiri perang Iran yang kini telah memasuki hari ke-77.

Selama beberapa pekan sebelum kunjungan Trump ke China, pemerintahan AS terus mendesak Beijing agar menggunakan pengaruhnya terhadap Iran guna mendukung negosiasi damai antara Washington dan Teheran. Namun setelah serangkaian pertemuan selama lebih dari 40 jam di Beijing, kedua negara tampak tetap bertahan pada posisi masing-masing.

Perang Iran pecah sejak 28 Februari ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran di tengah pembicaraan mengenai program nuklir Teheran. Iran kemudian membalas dengan serangan rudal dan drone ke sejumlah target di kawasan, termasuk aset militer AS di Bahrain, Kuwait, Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

Baca Juga: Komnas HAM Cek Langsung Pemenuhan Hak Kelompok Rentan di Palu

Pemerintah Trump bersikeras bahwa operasi militer tersebut bertujuan mencegah Iran memperoleh senjata nuklir, meskipun Teheran berulang kali menegaskan tidak berniat mengembangkan bom nuklir.

Di sisi lain, China kembali menegaskan penolakannya terhadap perang tersebut. Dalam pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri China saat Trump masih berada di Beijing, disebutkan bahwa konflik telah menimbulkan kerugian besar bagi rakyat Iran dan negara-negara kawasan.

“Menemukan jalan penyelesaian secepat mungkin bukan hanya demi kepentingan AS dan Iran, tetapi juga kawasan dan dunia,” demikian isi pernyataan tersebut.

Baca Juga: Penelitian BRIN di Toro Ungkap Relasi Manusia dan Alam Lewat Bahasa

China juga mendukung upaya gencatan senjata yang dimediasi Pakistan dan menegaskan bahwa dialog merupakan jalan terbaik untuk menyelesaikan konflik. Beijing kembali menawarkan rencana empat poin Presiden Xi Jinping yang menekankan hidup berdampingan secara damai, penyelesaian politik, keamanan bersama, dan kerja sama pembangunan.

Salah satu isu utama dalam pertemuan itu adalah Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dunia. Gedung Putih menyatakan kedua negara sepakat bahwa selat tersebut harus tetap terbuka demi kelancaran distribusi energi global.

Sejak awal Maret, Iran membatasi pelayaran di Selat Hormuz dan mewajibkan kapal tertentu bernegosiasi dengan Garda Revolusi Iran (IRGC). Situasi itu memicu krisis energi global karena sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia sebelumnya melewati jalur tersebut.

Baca Juga: Kepala Kanwil Kemenag Sulteng Jadi Pembicara NGOPI: Ajak Tokoh Lintas Agama Rawat Toleransi Menuju Sulteng Nambaso

Gedung Putih juga mengklaim Xi Jinping menolak militerisasi Selat Hormuz serta rencana Iran mengenakan tarif bagi kapal yang melintas. Selain itu, Xi disebut tertarik membeli lebih banyak minyak AS guna mengurangi ketergantungan China terhadap jalur tersebut.

Namun dalam pernyataan resmi China, tidak ada penyebutan mengenai penolakan terhadap tarif Iran ataupun isu militerisasi Selat Hormuz. Beijing hanya menyoroti dampak konflik terhadap ekonomi global, rantai pasok, perdagangan internasional, dan stabilitas energi dunia.

Perbedaan sikap juga tampak pada isu program nuklir Iran. Gedung Putih menyatakan kedua negara sepakat Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Sebaliknya, China tidak secara eksplisit menyebut larangan tersebut. Beijing hanya menekankan pentingnya penyelesaian politik melalui dialog dan konsultasi yang mengakomodasi kepentingan semua pihak.

Hingga kini Iran tidak pernah secara resmi menyatakan ingin memiliki senjata nuklir. China sebelumnya juga ikut terlibat dalam perjanjian nuklir era Presiden Barack Obama bersama AS, Rusia, dan negara-negara Eropa untuk membatasi program nuklir Iran.

Meski pemerintahan Trump sebelumnya berharap China dapat memainkan peran lebih aktif menekan Iran, hasil KTT Beijing menunjukkan tidak ada perubahan signifikan dalam posisi kedua negara.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya meminta China ikut mendukung operasi internasional untuk membuka kembali Selat Hormuz. Sementara Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Washington berharap Beijing menggunakan pengaruhnya agar Iran menghentikan aksinya di Teluk Persia.

Namun pada akhirnya, pertemuan Trump dan Xi belum mampu menghasilkan langkah konkret guna mengakhiri konflik yang terus mengguncang Timur Tengah dan memicu ketidakstabilan ekonomi global. (*)

Editor : Agung Sumandjaya
#Xi Jinping #Donald Trump #iran vs amerika #selat hormuz