RADAR PALU - Keretakan internal muncul di lingkaran kekuasaan Washington. Wakil Presiden JD Vance dikabarkan mulai meragukan validitas data yang disodorkan Pentagon terkait konflik dengan Iran. Ia secara langsung menyampaikan keresahannya mengenai menipisnya stok rudal AS kepada Presiden Donald Trump, seperti yang dilansir dari Anadolu.
Kekhawatiran ini mencuat setelah para penasihat JD Vance memberi sinyal bahwa ada disparitas besar antara klaim kemenangan Pentagon dengan fakta di lapangan. Padahal, Donald Trump selama ini percaya penuh pada laporan Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Dan Caine yang menyebut militer Iran telah "lumpuh total".
Di balik klaim optimis Gedung Putih, realitasnya jauh lebih pelik. Pasukan AS terjebak dalam perang atrisi. Stok rudal pencegat milik AS terus terkuras habis hanya untuk menangkis gelombang drone dan rudal murah buatan Iran. Ironisnya, Donald Trump sempat sesumbar di media sosial pada 2 Maret bahwa amunisi AS dalam kondisi aman dan perang bisa dimenangkan dalam jangka panjang.
Baca Juga: Tak Mau Sekadar Lewat, Arteta Minta The Gunners Ukir Sejarah Saat Hadapi Atletico
Data di lapangan justru berkata lain. Laporan dari lembaga pemikir Center for Strategic and International Studies (CSIS) mengungkap fakta pahit: butuh waktu hingga empat tahun untuk memulihkan stok rudal AS ke level normal. Analisis ini bahkan menyebut bahwa sebelum konflik meletus, cadangan amunisi AS sebenarnya sudah berada di titik kritis.
Temuan intelijen yang bocor ke publik kian memojokkan klaim Pentagon. Penilaian intelijen menunjukkan Iran masih memiliki dua pertiga kekuatan angkatan udara, mayoritas rudal balistik, dan armada kapal cepat yang siap beroperasi di Selat Hormuz. Bahkan pasca-gencatan senjata 7 April, Iran tercatat telah berhasil mengaktifkan kembali setengah dari peluncur rudal balistik mereka.
Baca Juga: Laskar Sape Kerrab Incar Momentum Keluar Zona Degradasi Saat Hadapi Kabau Sirah
Meski juru bicara Pentagon, Sean Parnell, bersikeras telah memberikan data yang akurat, seorang pejabat senior di lingkaran Donald Trump menyebut sang presiden tetap tenang dan tidak mempermasalahkan narasi yang selama ini dibangun oleh otoritas pertahanan.***
Editor : Muhammad Awaludin