RADAR PALU – Sistem keuangan Indonesia dinilai tetap kuat dan solid di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Kondisi tersebut didukung pertumbuhan ekonomi yang tetap baik serta stabilitas makroekonomi yang terjaga.
Hal itu disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Solikin M. Juhro dalam peluncuran buku Kajian Stabilitas Keuangan (KSK) No. 47, Agustus 2026, di Bank Indonesia, Jakarta, Senin (14/9/2025).
Solikin mengibaratkan sistem keuangan Indonesia seperti akar bambu yang kokoh menghadapi tekanan, namun tetap lentur mengikuti arah angin.
Baca Juga: 22 Ekskavator PETI Bodi Tidak Diamankan di Kantor Polisi, Diduga Berada di Lokasi Pengusaha di Buol
“Layaknya akar bambu yang kokoh untuk bertahan menghadapi tekanan namun lentur mengikuti arah angin, demikian pula sistem keuangan kita dengan fundamental ekonomi yang kuat dalam menghadapi guncangan, namun tetap responsif dan adaptif terhadap perubahan yang terjadi,” ujar Solikin.
Dalam kesempatan tersebut, Solikin menekankan pentingnya memaknai resiliensi melalui empat prinsip. Pertama, RE atau responsif dalam membaca perubahan dan gejolak global.
Kedua, SI atau sinergi antar kementerian, lembaga, otoritas, dan industri. Ketiga, LIEN yang dimaknai sebagai lincah dan enduring dalam beradaptasi serta bertahan. Keempat, SI atau siaga dalam mengantisipasi kerentanan dan menjaga ketahanan sistem keuangan menghadapi berbagai tantangan ke depan.
Baca Juga: BRI Unit Pendolo Salurkan Bantuan Sembako untuk Warga Terdampak Karhutla Poso
Menurut Solikin, sistem keuangan yang resilien tidak hanya harus mampu bertahan menghadapi tekanan. Ketahanan tersebut juga perlu diubah menjadi pembiayaan yang lebih kuat bagi perekonomian.
Untuk mendukung momentum tersebut, Bank Indonesia terus memperkuat bauran kebijakan makroprudensial yang longgar guna mendorong intermediasi perbankan ke sektor-sektor produktif dan prioritas.
Upaya itu antara lain dilakukan melalui penguatan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) serta implementasi program Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI), dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian atau prudential principle.
Baca Juga: Reny Lamadjido Ungkap Kebiasaan Sederhana yang Bikin Anak Suka Membaca
Dengan ketahanan yang solid dan ruang pembiayaan yang masih terbuka lebar, Bank Indonesia optimistis kredit atau pembiayaan perbankan pada 2026 mampu tumbuh pada kisaran 8 hingga 12 persen.
Untuk memperkuat pemahaman dan optimisme pelaku industri keuangan mengenai perkembangan stabilitas sistem keuangan terkini serta upaya bersama mendorong kontribusi intermediasi terhadap pertumbuhan ekonomi, Bank Indonesia juga menggelar seminar nasional.
Seminar tersebut mengangkat tema “Resiliensi Sistem Keuangan sebagai Fondasi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia”.
Baca Juga: Silaturahmi Radar Palu-Kejari Palu, Perkuat Komunikasi dan Edukasi Hukum
Seminar menghadirkan Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia Dhaha Praviandi K. yang menyampaikan peran kebijakan makroprudensial dalam menjaga resiliensi.
Selain itu, Direktur Perencanaan Fiskal, Moneter, dan Sektor Keuangan Kementerian PPN Tari Lestari memaparkan kebutuhan pembiayaan yang selaras dengan arahan pembangunan nasional.
Sementara itu, Ketua Umum APINDO Shinta Widjaja Kamdani menjelaskan berbagai permasalahan yang terjadi dari sisi pelaku usaha.
Baca Juga: 5.167 Penerima Bansos di Palu Terindikasi Judi Online
Ketiga narasumber menekankan kebutuhan untuk terus mendorong optimisme dan memperkuat sinergi dalam berkontribusi menyelesaikan permasalahan struktural yang menjadi kendala dari sisi pelaku usaha, sehingga pertumbuhan intermediasi dapat lebih tinggi.
Seminar juga dilengkapi penyampaian testimoni mengenai upaya menggiatkan ekonomi melalui pembiayaan produktif oleh Sekretaris Himpunan Bank Milik Negara, Eko Setyo Nugroho.
Sementara itu, buku KSK No. 47 mengusung tema “Menjaga Resiliensi Sistem Keuangan, Memperkuat Momentum Pertumbuhan Ekonomi”.
Baca Juga: Guru Laki-Laki Berdandan Seperti Perempuan Viral, DPRD Sulteng Minta Pembinaan
Tema tersebut menegaskan bahwa stabilitas sistem keuangan Indonesia pada semester I 2026 tetap kuat di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Kondisi tersebut ditopang likuiditas dan permodalan perbankan yang memadai. Rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan pada Juni 2026 tercatat sebesar 23,70 persen.
Di sisi lain, risiko kredit juga tetap rendah. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) pada Juni 2026 tercatat sebesar 2,09 persen secara bruto dan 0,82 persen secara neto.
Baca Juga: Revisi Kepmen ESDM 157, DPRD Sulteng Percayakan Proses ke Pemerintah Pusat
Ketahanan tersebut memperluas ruang intermediasi bagi perbankan untuk terus mendukung akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional.
Peluncuran buku KSK No. 47 diharapkan menjadi referensi strategis bagi pembuat kebijakan, pelaku industri, akademisi, dan masyarakat luas.
Terbitnya kajian tersebut juga diharapkan menjadi momentum untuk membangun ekspektasi positif, khususnya bagi dunia usaha, atas kondisi sistem keuangan yang berdaya tahan dan tumbuh tinggi.
Baca Juga: Buaya Muncul di Palu, Komisi C Minta BPBD Siapkan Alat Khusus
Peluncuran buku KSK No. 47 turut dihadiri Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae dan Sekretaris KSSK Arief Wibisono.
Hadir pula perwakilan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN), LPS, perbankan, industri keuangan nonbank, asosiasi, ekonom, dan akademisi.***
Editor : Rina Abd Halik