Bank Indonesia: QRIS Bukan Pengganti Uang Tunai, Melainkan Pelengkap Transaksi Masyarakat

Rina Khalik • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 13:56 WIB
Pelayanan Scan QRIS untuk mendapatkan kupon Rp3.000 di stand BI Sulteng yang ada di Pasar Ramadan.
Ilustrasi 

RADARPALU - Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) tidak dimaksudkan untuk menggantikan transaksi menggunakan uang tunai.

Sejak pertama kali diperkenalkan, QRIS hadir sebagai alternatif pembayaran digital yang melengkapi pilihan masyarakat dalam bertransaksi.

Hal tersebut disampaikan Pelaksana Senior Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tengah, Khairul Rozeki, saat membawakan materi Cinta Bangga Paham Rupiah (CBP).

Baca Juga: Lima Pengurus Percasi Kabupaten di Sulteng Lakukan Mosi Tidak Percaya kepada Ketua Percasi Provinsi Sulawesi Tengah untuk Mundur

Menurut Khairul, masyarakat tetap memiliki kebebasan memilih metode pembayaran sesuai kebutuhan.

Kehadiran QRIS bertujuan memudahkan transaksi, terutama ketika seseorang tidak membawa uang tunai atau lupa melakukan penarikan melalui ATM, namun masih memiliki akses ke mobile banking.

“Sejak awal, Bank Indonesia selalu menyampaikan bahwa QRIS bukan pengganti uang tunai, melainkan pelengkap. Jadi masyarakat memiliki pilihan dalam melakukan transaksi,” ujar Khairul pada Senin (3/8/2026).

Baca Juga: Wabup Morowali Iriane Ajak ASN Maksimalkan Penyerapan Anggaran

Menanggapi adanya sejumlah pelaku usaha yang hanya menerima pembayaran menggunakan QRIS dan tidak melayani pembayaran tunai, Khairul mengatakan Bank Indonesia memandang persoalan tersebut dari dua sisi.

Dari sisi sistem pembayaran, penggunaan QRIS memang memiliki berbagai keunggulan. Selain meminimalkan risiko peredaran uang palsu, transaksi digital juga menghilangkan persoalan uang kembalian serta memudahkan pencatatan keuangan karena seluruh transaksi terekam secara otomatis.

Namun, dari sisi penggunaan uang Rupiah, BI juga tidak sepenuhnya membenarkan apabila pelaku usaha menolak pembayaran tunai. Menurutnya, tidak semua masyarakat memiliki kemampuan dan pemahaman yang sama dalam menggunakan teknologi digital.

Baca Juga: Taruna Bakti Polri Hadir di Sekolah Rakyat Touna, Bangun Karakter Siswa

“Masih banyak masyarakat, termasuk orang tua, yang bepergian dan lebih nyaman menggunakan uang tunai. Mereka juga harus tetap mendapatkan kemudahan dalam bertransaksi,” katanya.

Khairul menilai kebijakan menerima atau tidak menerima pembayaran tunai pada akhirnya menjadi keputusan masing-masing pelaku usaha. Namun, pelaku usaha juga harus mempertimbangkan karakteristik konsumennya agar tidak kehilangan potensi pembeli.

Ia menjelaskan, sebagian pelaku usaha memilih QRIS karena transaksi lebih mudah dipantau dan seluruh pembayaran langsung tercatat sehingga mengurangi potensi penyalahgunaan uang oleh karyawan.

Khairul juga menekankan manfaat QRIS bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Seluruh transaksi yang tercatat secara digital akan menjadi pembukuan otomatis yang dapat digunakan sebagai bukti perkembangan usaha saat mengajukan pinjaman atau tambahan modal ke perbankan.

Baca Juga: Warga Siuna Blokade PT ABM, Desak Bongkar Rincian Dana PPM Rp500 Juta per Tahun

Ia mengungkapkan, selama ini masih ditemukan pelaku usaha yang menyusun laporan keuangan secara manual bahkan tidak sesuai kondisi sebenarnya. Dengan QRIS, seluruh transaksi tercatat secara riil sehingga memudahkan proses evaluasi oleh lembaga keuangan.

“Kalau menggunakan QRIS, seluruh transaksi akan tercatat secara otomatis. Perbankan dapat melihat perkembangan usaha berdasarkan transaksi yang benar-benar terjadi, sehingga lebih kredibel saat mengajukan pembiayaan,” tandasnya.***

Editor : Mugni Supardi
Cinta Bangga Paham Rupiah CBP Khairul Rozeki bank indonesia QRIS