LPS Sulampua dan Hannah Asa Indonesia Tingkatkan Literasi Keuangan Jurnalis Sulawesi Tengah

Talib • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 14:22 WIB
LPS Regional III Sulampua bersama Media dan Hannah Asa Indonesia membekali jurnalis Sulawesi Tengah agar semakin siap menyampaikan informasi ekonomi yang akurat, edukatif, dan mampu meningkatkan kepercayaan publik terhadap sistem keuangan nasional. (Ist)
LPS Regional III Sulampua bersama Media dan Hannah Asa Indonesia membekali jurnalis Sulawesi Tengah agar semakin siap menyampaikan informasi ekonomi yang akurat, edukatif, dan mampu meningkatkan kepercayaan publik terhadap sistem keuangan nasional. (Ist)

 

RADAR PALU – Literasi keuangan menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga ketahanan ekonomi masyarakat di tengah ketidakpastian global, kenaikan biaya hidup, serta pesatnya perkembangan teknologi digital. 

Berangkat dari kebutuhan tersebut, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Regional III Sulampua berkolaborasi bersama media dan Hannah Asa Indonesia menggelar Seminar Literasi Keuangan bagi jurnalis Sulawesi Tengah di Kota Palu, Senin (28/7/2026).

Kegiatan ini menghadirkan Founder Hannah Asa Indonesia sekaligus Certified Financial Planner (CFP), Mardiyah, ST., CFP, IFP, AWP, QWP, AEPP, QLP, yang membawakan materi bertajuk "Cara Mengelola Keuangan di Kondisi Ekonomi Saat Ini."

Baca Juga: Lebih dari Perlindungan, ASABRI Hadirkan Layanan Bernilai Tambah bagi Peserta

Kepala Kantor Perwakilan LPS Regional III Sulampua, Fuad Zaen, mengatakan media memiliki posisi strategis dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap sistem keuangan nasional melalui penyajian informasi yang akurat dan bertanggung jawab.

Menurutnya, sinergi antara regulator dan media menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan literasi masyarakat sekaligus menangkal penyebaran informasi yang menyesatkan mengenai sektor keuangan.

"Kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan dibangun melalui informasi yang akurat. Karena itu media merupakan mitra strategis dalam menyampaikan edukasi kepada masyarakat sekaligus menangkal hoaks terkait sektor keuangan," ujarnya.

Baca Juga: Kinerja Positif Kemenkum Sulteng Jadi Modal Perkuat Pelayanan Hukum kepada Masyarakat

Sementara itu, Deputi Kepala Kantor Perwakilan LPS Regional III Sulampua, Prayitno Amigoro, memaparkan bahwa hingga 30 Juni 2026 sebanyak 5,90 juta rekening atau 99,98 persen rekening nasabah bank di Sulawesi Tengah dijamin penuh oleh LPS. 

Persentase tersebut berada di atas rata-rata nasional yang mencapai 99,95 persen.

Ia menjelaskan, LPS menjamin simpanan hingga Rp2 miliar per nasabah per bank sepanjang memenuhi persyaratan 3T, yakni simpanan tercatat dalam pembukuan bank, bunga yang diterima tidak melebihi Tingkat Bunga Penjaminan (TBP), serta nasabah tidak melakukan tindakan yang merugikan bank.

Baca Juga: Ketua DPRD Sulawesi Tengah Tegaskan Komitmen Perkuat Tata Kelola Pemerintahan Bersih pada Rapat Koordinasi Pemberantasan Korupsi Bersama KPK RI

Dalam sesi utama, Mardiyah menyoroti bahwa tantangan ekonomi saat ini tidak semata-mata dipengaruhi besarnya pendapatan, melainkan kemampuan masyarakat mengelola setiap keputusan finansial secara bijak.

Ia mengungkapkan terdapat tiga tantangan utama yang dihadapi masyarakat Indonesia, yaitu meningkatnya biaya hidup, masih adanya kesenjangan antara tingkat literasi dan inklusi keuangan, serta rendahnya kesiapan menghadapi kondisi darurat akibat minimnya dana darurat dan perencanaan keuangan jangka panjang.

Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, tingkat literasi keuangan Indonesia telah mencapai 66,46 persen, sedangkan tingkat inklusi keuangan mencapai 80,51 persen. 

Baca Juga: DPRD Kota Palu dan Sekretariat Perkuat Sinergi, Tegaskan Isu Internal Tak Ganggu Kinerja

Data tersebut menunjukkan semakin banyak masyarakat menggunakan layanan keuangan, namun belum seluruhnya memahami pengelolaannya secara tepat.

Mardiyah juga mengajak peserta merefleksikan pengalaman triple disaster Sulawesi Tengah pada 28 September 2018 sebagai pelajaran penting mengenai ketahanan finansial keluarga.

Menurutnya, bencana bukan hanya menguji kesiapan fisik, tetapi juga kesiapan ekonomi setiap rumah tangga. Karena itu, kepemilikan dana darurat, perlindungan finansial, dan perencanaan keuangan harus dipersiapkan jauh sebelum risiko terjadi.

Baca Juga: Ketua DPRD Sulteng: Rakor KPK Jadi Pengingat Penting Agar Pokir Tak Menyimpang

Sebagai solusi praktis, Hannah Asa Indonesia memperkenalkan HANNAH Financial Resilience Framework, sebuah kerangka pengelolaan keuangan yang terdiri atas enam tahapan, yakni membangun kesadaran finansial, mengalokasikan keuangan secara bijak, membentuk kebiasaan finansial yang sehat, mengelola risiko, meningkatkan pertumbuhan aset dan pendapatan, serta membagikan literasi keuangan kepada masyarakat.

Menurut Mardiyah, literasi keuangan tidak berhenti pada kemampuan mengatur pengeluaran, tetapi harus mampu membentuk perilaku, memperkuat ketahanan keluarga, sekaligus menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan.

Ia juga menegaskan bahwa media memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas literasi keuangan masyarakat karena setiap informasi yang disampaikan jurnalis dapat memengaruhi cara publik memahami isu ekonomi dan mengambil keputusan finansial.

Baca Juga: Terungkap, Ini Alasan KORMI Nasional Batalkan Sulteng sebagai Tuan Rumah FORNAS IX 2027

Kolaborasi antara LPS Regional III Sulampua, media, dan Hannah Asa Indonesia diharapkan mampu memperkuat ekosistem literasi keuangan di Sulawesi Tengah sekaligus mendorong terciptanya masyarakat yang semakin tangguh menghadapi dinamika ekonomi.

Bagi penyelenggara, pembangunan literasi keuangan merupakan tanggung jawab bersama yang memerlukan kolaborasi regulator, media, dunia pendidikan, pelaku usaha, organisasi masyarakat, hingga komunitas agar mampu melahirkan Indonesia yang lebih kuat dan berdaya saing secara finansial. ***

 

Editor : Talib
Hannah Asa Indonesia Jurnalis Sulawesi Tengah Literasi Keuangan media LPS Sulampua