RADAR PALU – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah terus mendorong peningkatan produktivitas sektor peternakan, khususnya pengembangan sapi sebagai salah satu produk hewan strategis yang memiliki nilai ekonomi tinggi bagi peternak.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Sulawesi Tengah, Dandy Alfita, mengatakan sapi menjadi salah satu komoditas yang terus dikembangkan karena memiliki nilai jual tinggi dan dapat menjadi sumber tabungan bagi peternak.
“Untuk subsector peternakan, produk hewan yang strategis itu adalah sapi. Karena sapi mempunyai nilai yang tinggi dan bisa cepat menjadi tabungan bagi para peternak,” ujarnya.
Baca Juga: Dinas UMKM Palu Permudah Akses Modal dan Legalitas Usaha, Pengajuan Bisa Lewat Sangupalu
Menurutnya, selain melakukan usaha tanaman pangan maupun perkebunan, masyarakat juga dapat menjadikan sapi sebagai usaha yang dapat memberikan nilai ekonomi ketika dijual.
"Sapi ini juga pada suatu waktu bisa dibutuhkan dengan nilai jual yang tinggi pada saat hari raya kurban, makanya itu juga mempunyai potensi menjadi produk yang strategis karena nilai jual tinggi.” Katanya.
Ia menjelaskan, pengembangan sapi juga didukung dengan teknologi inseminasi buatan untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas ternak. Melalui teknologi tersebut, peternak dapat memilih indukan produktif yang layak untuk dikembangkan.
Baca Juga: Ranperda Penanggulangan Kemiskinan Sulteng Bidik Warga di Wilayah Terpencil
Pelaksanaan inseminasi buatan menggunakan sumber bibit yang dihasilkan oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perbibitan di Sidera serta sumber bibit dari pemerintah pusat melalui Balai Inseminasi Buatan Singosari dan Lembang.
Menurut Dandy, beberapa jenis bibit unggul yang banyak diminati peternak antara lain limosin, simental, dan belgian blue.
Berdasarkan data Sensus Pertanian 2023, jumlah populasi sapi di Sulawesi Tengah mencapai sekitar 224 ribu ekor. Populasi tersebut tersebar di sejumlah wilayah, dengan potensi terbesar berada di Kabupaten Banggai, Donggala, dan Sigi.
Baca Juga: Dinas UMKM Palu Bidik 600 UMKM Naik Kelas Pada 2026, Fokus Perkuat Daya Saing Usaha
"Dari 224 ribu itu, sekitar 42 persen merupakan betina produktif yang bisa dijadikan indukan untuk dilakukan inseminasi buatan," jelasnya.
Untuk mendukung peningkatan populasi dan produktivitas ternak, pemerintah juga memberikan bantuan kepada peternak. Bantuan tersebut berupa pengadaan bibit dan indukan ternak.
Dandy mengatakan bantuan tidak hanya diberikan untuk sapi, tetapi juga mencakup ternak kecil seperti kambing serta usaha budidaya unggas dalam rangka mendukung penanganan kemiskinan.
"Setiap tahun ada pengadaan bibit dan indukan. Jumlahnya sekitar ribuan karena memang kita memacu peningkatan produktivitas dan populasi," ujarnya.
Baca Juga: 20 Hektare Lahan Produktif di Nuhon Hangus Terbakar
Selain bantuan ternak, pemerintah juga memberikan pendampingan kepada peternak melalui bimbingan teknis. Pendampingan tersebut diberikan agar peternak memahami cara pemeliharaan sesuai kebutuhan ternak.
Untuk ternak ayam, bantuan juga dilengkapi dengan obat, vitamin, kandang, dan pakan. Dandy menjelaskan, ayam mulai berproduksi pada usia sekitar enam bulan dan diharapkan dapat menghasilkan hingga dua tahun sehingga dapat membantu memenuhi kebutuhan hidup peternak, baik untuk konsumsi sendiri maupun dikomersialkan.
"Bimbingan teknis diberikan bagaimana pemberian pakan yang sesuai, apakah untuk budidaya penggemukan atau pemeliharaan ternak produktif," pungkasnya.***
Editor : Rina Khalik