RADAR PALU – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Tengah merilis data inflasi terbaru untuk bulan Mei 2026. Hasilnya, secara tahunan inflasi di Sulteng tercatat sebesar 2,77 persen. Sektor transportasi menjadi penyumbang utama kenaikan harga pada periode ini.
Data BPS yang dirilis Selasa (2/6/2026) menunjukkan, inflasi bulanan (month to month) Mei 2026 sebesar 0,27 persen. Sementara inflasi tahun kalender (year to date) mencapai 1,98 persen.
Kelompok transportasi memberikan andil inflasi sebesar 0,16 persen. Angka ini menjadi yang tertinggi dibanding kelompok lainnya. Selain itu, kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga juga ikut menyumbang dengan andil 0,08 persen.
Baca Juga: Pansus Dibubarkan, Komposisi AKD Fraksi PDIP di DPRD Sulteng Berubah
Secara bulanan, kelompok transportasi tercatat naik 1,28 persen. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya naik 0,50 persen, sementara kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran meningkat 0,39 persen.
Kabar Baiknya, Harga Pangan Turun
Di sisi lain, ada kabar baik untuk masyarakat. Kelompok makanan, minuman dan tembakau justru mengalami deflasi 0,31 persen. Artinya, harga di kelompok ini cenderung turun sehingga bisa menahan laju inflasi agar tidak lebih tinggi.
Baca Juga: 13 Kali Berturut-turut Raih WTP, Mohammad Safri: Bukti Pengelolaan Keuangan Daerah Clean and Clear
BPS mencatat, komoditas yang menjadi pemicu utama inflasi bulanan antara lain angkutan udara, bahan bakar rumah tangga, minyak goreng, cabai merah, beras dan mi kering instan.
Sementara komoditas yang memberikan andil deflasi atau penurunan harga paling besar adalah cabai rawit, bawang merah dan telur ayam ras.
Kalau dilihat dari kacamata tahunan (year on year) sebesar 2,77 persen, kelompok makanan, minuman dan tembakau justru menjadi penyumbang terbesar dengan andil mencapai 1,05 persen. Komoditas seperti beras, tomat dan minyak goreng masih dominan memicu kenaikan harga.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menyumbang andil 0,89 persen untuk inflasi tahunan. Ini dipicu oleh naiknya harga emas perhiasan, hand body lotion dan pasta gigi.
Sektor transportasi di level tahunan memberikan andil 0,24 persen. Komoditas utama penyumbangnya adalah angkutan udara, sepeda motor dan solar.
Tolitoli Tertinggi, Palu Relatif Rendah
Dari empat daerah yang menjadi sampel penghitungan inflasi di Sulawesi Tengah, Kabupaten Tolitoli mencatat inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,79 persen. Bahkan inflasi tahunannya tembus 3,98 persen.
Baca Juga: Dua Kapal Ditangkap, Pertamina Dukung Penuh Penindakan Penyalahgunaan BBM Subsidi
Kota Palu mengalami inflasi bulanan 0,11 persen dengan inflasi tahunan 2,82 persen. Kabupaten Morowali mencatat inflasi bulanan 0,12 persen dan inflasi tahunan 1,61 persen. Sedangkan Kabupaten Banggai atau Luwuk mengalami inflasi bulanan 0,63 persen dengan inflasi tahunan 2,90 persen.
BPS Sulawesi Tengah menyimpulkan, meskipun laju inflasi Mei 2026 secara umum masih relatif terkendali, ada beberapa hal yang perlu diwaspadai. Kenaikan tarif angkutan udara, harga bahan bakar rumah tangga dan sejumlah kebutuhan pokok masih menjadi faktor utama pendorong peningkatan harga konsumen di daerah ini.
Masyarakat diimbau tetap bijak dalam berbelanja dan mengatur pengeluaran, terutama menjelang momen-momen tertentu yang biasanya memicu lonjakan harga.***
Editor : Muhammad Awaludin