RADAR PALU - Nilai tukar rupiah hari ini, Selasa (19/5/2026), dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada awal perdagangan pagi, rupiah berada di level Rp17.716 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda terkoreksi 48 poin atau turun 0,27 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Pelemahan rupiah terjadi di tengah pergerakan beragam mata uang Asia terhadap dolar AS.
Sejumlah mata uang kawasan Asia juga tercatat melemah pada perdagangan pagi. Yen Jepang melemah 0,11 persen, dolar Hongkong turun 0,1 persen, dan dolar Singapura terkoreksi 0,09 persen.
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp17.671, Ekonom Soroti Risiko Global
Selain itu, dolar Taiwan melemah 0,28 persen, sementara Won Korea Selatan turun lebih dalam hingga 0,67 persen. Rupee India juga tercatat melemah 0,4 persen dan Baht Thailand turun 0,15 persen.
Di tengah tekanan terhadap rupiah hari ini, beberapa mata uang Asia justru bergerak menguat terhadap dolar AS. Peso Filipina naik 0,03 persen, Yuan China menguat 0,02 persen, dan Ringgit Malaysia bertambah 0,01 persen.
Pergerakan beragam tersebut mencerminkan respons pasar terhadap sentimen global dan dinamika perdagangan internasional. Nilai tukar di kawasan Asia masih dipengaruhi arah kebijakan ekonomi global serta penguatan dolar AS.
Baca Juga: Keyakinan Konsumen Maret 2026 Tetap Kuat, Bank Indonesia Soroti Optimisme Ekonomi
Pelemahan rupiah juga terjadi setelah perdagangan sebelumnya ditutup di bawah level pembukaan hari ini. Tekanan terhadap mata uang regional terlihat merata di sebagian besar pasar Asia.
Euro dan Pound Sterling Menguat
Di pasar Eropa, pergerakan mata uang terhadap dolar AS juga terpantau bervariasi. Euro menguat 0,09 persen, sedangkan Pound Sterling naik 0,13 persen pada perdagangan pagi.
Sebaliknya, Franc Swiss melemah 0,11 persen. Krona Swedia turun 0,2 persen dan Krona Denmark melemah 0,1 persen terhadap dolar AS.
Pergerakan mata uang global tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi nilai tukar rupiah hari ini. Pelaku pasar masih mencermati perkembangan ekonomi global dan arah kebijakan moneter sejumlah negara.
Dengan kondisi tersebut, rupiah masih berada dalam tekanan pada awal perdagangan Selasa pagi. Pergerakan kurs diperkirakan tetap dipengaruhi sentimen eksternal dan fluktuasi mata uang utama dunia.***
Editor : Muhammad Awaludin