Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

NTP Sulteng di Bawah 100 Sejak Februari, Data BPS Tunjukkan Tekanan

Muhammad Awaludin • Selasa, 5 Mei 2026 | 07:22 WIB
ILUSTRASI aktivitas petani di Sulawesi Tengah saat NTP turun di bawah 100 hingga April 2026 berdasarkan data BPS. (Foro Dok. Kementan)
ILUSTRASI aktivitas petani di Sulawesi Tengah saat NTP turun di bawah 100 hingga April 2026 berdasarkan data BPS. (Foro Dok. Kementan)

 

RADAR PALU - Daya beli petani di Sulawesi Tengah terus tertekan sejak awal tahun. Dalam tiga bulan beruntun, indikator utama mereka jatuh dan belum menunjukkan pemulihan berarti. 

Data resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan, setelah keluar dari zona aman, posisi petani kini tertahan di level lemah. 

Pada Januari 2026, Nilai Tukar Petani (NTP) masih berada di angka 101,30. Angka ini menandakan kondisi petani relatif stabil. 

Baca Juga: Ngaku Debt Collector, Tiga Pelaku Curanmor Ditangkap Polresta Palu

Namun situasi berubah cepat. Pada Februari 2026, NTP turun menjadi 99,34 atau merosot 1,94 persen. 

Ini menjadi titik balik. Untuk pertama kalinya di 2026, NTP jatuh ke bawah 100—ambang batas yang menunjukkan daya beli petani mulai tertekan. 

Tekanan berlanjut di bulan berikutnya. 

Pada Maret 2026, NTP kembali turun ke 94,10. Lalu pada April 2026, naik tipis menjadi 94,33. 

Baca Juga: Direktur Baru RSUD Undata Dilantik, Reny Lamadjido Minta UGD Lebih Cepat dan Profesional

Sekilas terlihat membaik. Namun secara tren, kondisi belum berubah. 

Selama tiga bulan berturut-turut (Februari–April), NTP tetap berada di bawah 100. Artinya, pendapatan petani masih kalah dibanding pengeluaran mereka. 

Data BPS juga menunjukkan sumber tekanan datang dari dua arah sekaligus. 

Pada Februari 2026, Indeks Harga yang Diterima Petani (It) turun 1,40 persen. 

Di sisi lain, Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) justru naik 0,55 persen. 

Kondisi ini menciptakan tekanan ganda. Harga jual turun, sementara biaya produksi meningkat. 

Tren tersebut berlanjut hingga April. 

Meski It naik 1,28 persen, Ib juga ikut meningkat 1,03 persen. Selisih yang tipis membuat pemulihan NTP tidak signifikan. 

Baca Juga: Macet Parah di Rorotan, Video Viral Tunjukkan Antrean Mengular

Ketimpangan antar subsektor juga makin terlihat. 

Subsektor hortikultura menjadi pengecualian. Pada Februari, NTP-nya mencapai 118,89, lalu melonjak ke 141,74 pada April 2026. 

Namun subsektor lain justru tertinggal. 

Tanaman pangan berada di 90,64 pada Februari dan tidak menunjukkan lonjakan berarti di bulan berikutnya. 

Sementara itu, subsektor perkebunan rakyat menjadi yang paling tertekan, turun hingga 88,57 pada April. 

Data ini menunjukkan pemulihan tidak merata. Sebagian kecil petani bertahan, tetapi mayoritas masih menghadapi tekanan. 

Indikator lain, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP), juga menguatkan tren tersebut. 

Pada Februari 2026, NTUP masih berada di 102,25, meski turun 1,41 persen dibanding Januari. 

Namun pada April 2026, NTUP turun ke 98,03. Ini menandakan usaha pertanian mulai kehilangan daya tahan. 

Secara keseluruhan, pola pergerakan NTP terlihat jelas. 

Januari masih di atas 100.

Februari mulai turun ke bawah.

Maret hingga April tertahan di zona lemah. 

Kenaikan tipis pada April belum cukup membalikkan tren. 

Data BPS memberi sinyal, tanpa dorongan signifikan, baik dari stabilisasi harga, subsidi input, maupun efisiensi biaya produksi, daya beli petani di Sulawesi Tengah berpotensi tetap tertekan dalam waktu dekat.***

Editor : Muhammad Awaludin
#Ekonomi Pertanian #BPS #sulawesi tengah #daya beli petani #NTP Sulteng