RADAR PALU – Di saat banyak BUMD masih berjibaku mengejar profit, Bank Sulteng justru melaju dengan dua “mesin” sekaligus: pertumbuhan dan kesehatan kinerja.
Bank daerah ini membuktikan bahwa skala kecil bukan penghalang untuk tampil solid. Bahkan, di tengah ketatnya industri perbankan, Bank Sulteng sukses menempatkan diri sebagai salah satu BPD dengan performa paling stabil di kelasnya.
Pengakuan itu datang dari ajang THE ASIANPOST BUMD Awards 2026 di Solo, Kamis (16/4/2026). Bank Sulteng diganjar penghargaan “BPD dengan Kinerja Sangat Baik Tahun 2025 kategori KBMI 1”.
Baca Juga: Ini Jadwal Kapal Pelni dari Pantoloan Palu pada April–Mei 2026
Penghargaan tersebut diterima langsung oleh Direktur Utama Bank Sulteng, Ramiyatie, dari Chairman Infobank Media Group Eko B. Supriyanto bersama Dewan Pakar Infobank Sigit Pramono.
Namun capaian ini bukan sekadar seremoni. Angkanya bicara. Di level nasional, dari lebih 1.000 BUMD, hanya sekitar 650 yang mampu mencetak laba. Di sinilah posisi BPD menjadi krusial menguasai hampir 80 persen aset BUMD dan menyumbang hampir setengah total laba.
Artinya, setiap BPD yang sehat bukan hanya penting bagi daerahnya, tapi juga bagi stabilitas ekonomi nasional. Dan Bank Sulteng masuk dalam kelompok yang menjaga peran itu dengan baik.
Baca Juga: ASN Wajib Naik Trans Palu, DPRD Dukung tapi Ingatkan Soal Biaya
Sepanjang 2025, bank ini mencatat laba bersih Rp277,6 miliar naik signifikan dari tahun sebelumnya Rp242,2 miliar. Lebih dari sekadar tumbuh, profitabilitasnya juga terjaga, dengan ROA 2,90 persen dan ROE 11,23 persen.
Ekspansi pun berjalan tanpa ugal-ugalan. Total aset meningkat menjadi Rp13,65 triliun, sementara kredit tersalurkan Rp8,55 triliun menunjukkan fungsi intermediasi tetap berjalan dalam koridor yang sehat.
Dari sisi pendanaan, struktur semakin kuat. Dana pihak ketiga mencapai Rp9,26 triliun, dengan dominasi dana murah (CASA) lebih dari 50 persen. Ini memberi ruang bagi bank untuk menekan biaya dana sekaligus menjaga likuiditas.
Baca Juga: Palu Jadi Kota Terpanas di Indonesia
Mesin utama pendapatan tetap stabil. Bank Sulteng membukukan pendapatan bunga Rp1,08 triliun, dengan margin bunga bersih (NIM) terjaga di level 6,43 persen angka yang menunjukkan daya tahan bisnis tetap kuat.
Yang menarik, kekuatan Bank Sulteng bukan hanya di pertumbuhan, tetapi di kualitas. Efisiensi membaik, terlihat dari rasio BOPO 72,32 persen dan CIR sekitar 58 persen. Artinya, pertumbuhan tidak “dimakan” oleh biaya operasional.
Di sisi lain, keseimbangan antara kredit dan pendanaan juga terjaga. LFR berada di level 90,52 persen cukup agresif untuk tumbuh, tapi tetap aman untuk likuiditas. Risiko pun terkendali. Rasio kredit bermasalah (NPL) tercatat 2,72 persen (gross) dan 1,93 persen (net), masih jauh di bawah batas regulator.
Semua itu ditopang modal yang tebal. Dengan CAR 23,11 persen, Bank Sulteng punya bantalan kuat untuk ekspansi ke depan. Pada akhirnya, kisah Bank Sulteng ini memberi pesan sederhana: di industri perbankan, bukan soal siapa yang paling besar, tapi siapa yang paling disiplin menjaga kualitas. Dan di kelas KBMI 1, Bank Sulteng sedang menunjukkan bahwa mereka siap naik level. (*)
Editor : Agung Sumandjaya