RADAR PALU - Aktivitas konsumsi harian ribuan karyawan yang bekerja di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) terus menjadi penggerak utama roda ekonomi Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.
Hingga menjelang akhir 2025, wilayah ini mencatat kenaikan signifikan perputaran uang yang mencapai Rp499,1 miliar per bulan, meningkat tajam dibandingkan estimasi Juni 2025 sebesar Rp338 miliar.
Lonjakan tersebut dipicu oleh besarnya belanja kebutuhan dasar para pekerja. Hasil survei perilaku ekonomi yang dilakukan tim Research and Support Departemen SGA PT IMIP pada Oktober 2025 mencatat, rata-rata pengeluaran warga mencapai Rp5,75 juta per bulan.
Dengan jumlah karyawan mencapai 86.804 orang, pola konsumsi ini menciptakan ekosistem ekonomi yang bergerak konsisten setiap hari.
Media Relations Head PT IMIP, Dedy Kurniawan, menjelaskan tingginya kebutuhan pokok tenaga kerja membentuk pola ekonomi saling bergantung antara permintaan masyarakat dan ketersediaan barang maupun jasa lokal.
“Rantai ekonomi ini berjalan setiap hari dan jumlah usaha terus meningkat secara kontinu setiap tahun,” ujarnya, Jumat (12/12/2025).
Kondisi tersebut memicu lahirnya berbagai usaha baru, mulai dari kuliner, kios harian, jasa laundry, hingga transportasi. Survei menunjukkan, 57 persen warga memilih berbelanja di kios lokal karena faktor kedekatan lokasi dan kemudahan akses.
Riset mencatat lima jenis UMKM terbanyak di Bahodopi, yaitu Kios Pertamini (981 unit), Stan Minuman (735), Stan Makanan non-bangunan (670), Kios umum (648), dan Warung Makan (591).
Keberadaan usaha-usaha ini menjadi penyedia utama kebutuhan dasar warga sekaligus aktor penting dalam menjaga stabilitas konsumsi harian.
Dari sisi omzet, sebagian besar UMKM berada pada kategori usaha mikro dengan pendapatan hingga Rp300 juta per tahun. Salah satunya, stan makanan non-bangunan yang meraih omzet rata-rata Rp234 juta per tahun.
Sementara pada kategori usaha kecil, pendapatan lebih tinggi tampak pada stan minuman, kios, dan Pertamini yang menembus Rp1,08 miliar per tahun. Bahkan, sejumlah warung makan mampu memperoleh omzet hingga Rp2,34 miliar per tahun.
Pertumbuhan usaha ini membawa dampak signifikan bagi ekonomi Kabupaten Morowali dan Sulawesi Tengah.
Bank Indonesia Perwakilan Sulteng sebelumnya merilis bahwa pertumbuhan ekonomi provinsi pada triwulan III 2025 menjadi yang tertinggi kedua secara nasional, didorong oleh akselerasi investasi manufaktur, termasuk aktivitas industri di kawasan IMIP.
Berikut rincian pos pengeluaran bulanan warga Bahodopi:
Makanan & Minuman: Rp2.191.273
Kos/Kontrakan: Rp1.260.835
Rokok: Rp828.336
Transportasi: Rp717.595
Kesehatan: Rp752.841
Melalui dinamika konsumsi yang stabil dan pertumbuhan usaha lokal yang masif, Bahodopi kini memasuki fase perkembangan ekonomi baru.
Ke depan, akses permodalan, pendampingan, dan peningkatan kapasitas pelaku usaha menjadi kunci untuk mengarahkan UMKM naik kelas menuju usaha kecil dan menengah. ***
Editor : Talib