Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Buktikan Potensi Pasar yang Tak Pernah Surut, Pedagang Uve Poi di Inpres Manonda Tetap Bertahan Sejak 2010

Mugni Supardi • Senin, 10 November 2025 | 17:15 WIB

SEJAK 2010: Lapak milik Nur Faidah, pedagang kuliner tradisional Kaili di Pasar Inpres Manonda, tetap menjadi jujukan warga yang mencari cita rasa masakan kampung.
SEJAK 2010: Lapak milik Nur Faidah, pedagang kuliner tradisional Kaili di Pasar Inpres Manonda, tetap menjadi jujukan warga yang mencari cita rasa masakan kampung.
 

RADAR PALU - Sejak 2010 hingga kini, lapak milik Nur Faidah, pedagang kuliner tradisional Kaili di Pasar Inpres Manonda, tetap menjadi jujukan warga yang mencari cita rasa masakan kampung. Setiap hari, ia sudah memulai aktivitas sejak pukul 04.00 WITA untuk menyiapkan beragam menu yang dibutuhkan pembeli.

"Bangun jam empat subuh. Banyak yang harus saya siapkan karena menu di sini macam-macam," ujarnya saat ditemui Radar Palu Jawa Pos Group pada Senin (10/11/2025).

Meski sudah berada di pasar sejak dini hari, beberapa menu baru siap sekitar pukul 08.00 WITA atau 10.00 WITA. Hal ini karena proses memasaknya memakan waktu cukup panjang, terutama menu yang berbahan dasar tulang.

Selain kue-kue tradisional, lapaknya menyajikan aneka masakan rumahan seperti sayur dadah, sayur kelor, sayur nangka, sayur bening, duo goreng, ikan bakar, rono pepes, palumara, hingga ikan goreng. Namun menu yang paling banyak dicari adalah uve poi, salah satu makanan khas Kaili berbahan dasar tulang.

"Kalau uve poi itu dibilang kue asam. Bedanya dengan kaledo cuma di bagian dagingnya. Kalau kaledo pakai kikil atau kaki, makanya harganya mahal. Kalau uve poi pakai tulang isi," jelasnya.

Meski serupa dari segi kuah dan bumbu, uve poi dan kaledo tetap memiliki perbedaan harga. Untuk uve poi, harga seporsi kini berada pada kisaran Rp20 hingga Rp25 ribu. Sementara kaledo, terutama yang menggunakan kaki atau kikil, bisa mencapai Rp85 ribu hingga Rp100 ribu per porsi.

"Harga Rp15 ribu itu dulu, tahun 2020. Sekarang sudah beda. Kalau Rp15 ribu dagingnya sedikit sekali," ucapnya.

Nur Faidah mengatakan, sejak pertama berjualan hingga sekarang, rasa masakannya tidak pernah berubah. Ia tetap mempertahankan cara masak tradisional agar pelanggan merasakan cita rasa yang sama setiap kali datang.

"Dari dulu sampai sekarang rasanya tetap. Tidak ada yang diubah. Kalau orang bilang enak, ya begini terus," katanya.

Ia berharap masyarakat Palu tetap mendukung para pedagang kecil di Pasar Inpres dengan membeli makanan lokal, termasuk uve poi yang menjadi warisan kuliner khas Kaili.(rna)

Editor : Mugni Supardi
#cita rasa masakan kampung #makanan khas Kaili #uve poi #pedagang kuliner tradisional Kaili #Pasar Inpres Manonda #kaledo