Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Penjualan Naik Turun, Pelaku UMKM Sambal Sesuaikan Produksi Berdasarkan Permintaan

Nur Soima Ulfa • Selasa, 27 Mei 2025 | 10:47 WIB
Photo
Photo

Ilustrasi sambal ikan roa produksi UMKM Palu.(Foto: chatgpt)  

PALU – Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Kota Palu dalam hal ini usaha sambal, terus bertahan di tengah fluktuasi pasar dan harga bahan pokok yang tidak menentu. Utamanya komoditi cabai. Meski tidak selalu stabil, pelaku usaha tetap menjaga produksi dan kualitas produk agar tetap dilirik konsumen.

 

Pemilik sambal botolan "Sambal Roa Miako Palu", Nurul Ismiati N, mengaku penjualannya tidak bisa ditebak, kadang ramai namun kadang juga sepi. Ia menyebutkan peningkatan biasanya terjadi pada hari kerja.

 

"Kalau hari Senin sampai Jumat lumayan, tapi kalau Sabtu dan Minggu kadang-kadang saja ada," ujar Pemilik sambal botolan "Sambal Roa Miako Palu", Nurul kepada Radar Palu pada Senin (26/5/2025).

 

Ia menjual sambalnya dalam dua varian kemasan, isi 100 gram seharga Rp25 ribu dan isi 200 gram seharga Rp45 ribu. Dirinya menuturkan bahwa menjelang hari besar keagamaan, biasanya permintaan meningkat.

 

Untuk kebutuhan harian, Nurul memproduksi sekitar satu kilogram sambal per hari atau sekitar 10 botol isi 100 gram. Jika ada pesanan besar, produksinya bisa ditingkatkan hingga 3 kilogram.

 

"Kalau untuk produksi banyak dia biasa bisa sampai 3 Kg dapat 30 botol, isi 100 gram," ujarnya.

 

Soal bahan baku, khususnya cabai yang menjadi bahan utama, Nurul mengaku cukup berpengaruh terhadap omzet. Namun ia tetap bersyukur karena setiap takaran bahan selalu ditimbang dengan teliti sehingga tetap efisien.

 

"Kalau rica naik, memang berpengaruh di pendapatan, tapi alhamdulillah masih ada jalan karena semuanya kami takar dengan pasti," jelasnya.

 

Sementara itu, Yuli A. Kasim, pelaku UMKM lainnya dengan produk "Sambal Rumahan", menghadapi tantangan yang serupa. Ia mengatakan penjualannya tidak bisa diprediksi dalam sebulan.

 

"Kadang sebulan ada pembeli, kadang sepi. Saya hanya produksi sekali sampai dua kali dalam sebulan," tutur Yuli.

 

Harga sambal rumahan milik Yuli berkisar antara Rp20 ribu hingga Rp30 ribu per botol. Meski permintaan tidak terlalu tinggi, ia berharap produknya bisa terus dikenal luas. "Semoga makin banyak peminatnya," harap Yuli.

 

Dengan harga bahan baku utama, yakni cabai yang mengalami perubahan harga yang tidak menentu, membuat kedua pelaku usaha ini tetap optimis, menjaga kualitas produk. Harapannya usahanya tetap  berjalan.(cr2)

 

Editor : Nur Soima Ulfa
#Sambal ikan roa #UMKM Palu