Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Banjir di Poso Dipicu Cuaca Ekstrem, BMKG: Awan Cumulonimbus Dominan

Mugni Supardi • Senin, 13 April 2026 | 10:01 WIB
BMKG mengungkap penyebab banjir yang merendam sekitar 60 rumah warga di Desa Saojo, Kecamatan Pamona Utara, Kabupaten Poso, pada Minggu (12/4/2026) dini hari.(DOK BPBD Sulteng)
BMKG mengungkap penyebab banjir yang merendam sekitar 60 rumah warga di Desa Saojo, Kecamatan Pamona Utara, Kabupaten Poso, pada Minggu (12/4/2026) dini hari.(DOK BPBD Sulteng)

RADARPALU – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap penyebab banjir yang merendam sekitar 60 rumah warga di Desa Saojo, Kecamatan Pamona Utara, Kabupaten Poso, pada Minggu (12/4/2026) dini hari.

Dalam analisis resmi Stasiun Meteorologi Mutiara Sis Al-Jufri Palu, banjir terjadi akibat hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dipicu oleh kombinasi sejumlah faktor atmosfer dan kondisi laut di wilayah Sulawesi Tengah.

Berdasarkan data curah hujan, wilayah Pamona Barat mencatat hujan hingga 74 mm (kategori lebat) pada 11 April 2026, sementara wilayah Tentena mencapai 62 mm pada 12 April 2026. Intensitas hujan tinggi ini menjadi pemicu utama meluapnya air dari arah pegunungan hingga merendam permukiman warga.

Baca Juga: Gubernur Sulteng Anwar Hafid Ajak Semua Pihak Bersatu Atasi Kemiskinan dan Akses Pendidikan

BMKG menjelaskan, suhu muka laut di sekitar perairan Sulawesi Tengah berada pada kisaran 30–32 derajat Celsius dengan anomali positif antara +0,5 hingga +1,0 derajat Celsius. Kondisi ini meningkatkan penguapan dan suplai uap air ke atmosfer yang mendukung pembentukan awan hujan.

Selain itu, terdeteksi adanya aktivitas gelombang atmosfer Rossby Ekuatorial serta pola belokan angin (shearline) di wilayah Sulawesi Tengah. Kedua fenomena ini memperkuat pertumbuhan awan konvektif yang berpotensi menghasilkan hujan lebat.

Dari citra satelit Himawari-9, BMKG mengidentifikasi pertumbuhan awan konvektif jenis Cumulonimbus di wilayah Kabupaten Poso sejak pukul 12.00 UTC pada 11 April 2026.

Baca Juga: Berani Cerdas Makin Kuat, Pemprov Gandeng Askrindo Lindungi Pelajar dari Risiko Kecelakaan

Awan tersebut berkembang pesat dan mencapai puncak pada pukul 14.00 UTC dengan suhu puncak mencapai -62 hingga -80 derajat Celsius, yang mengindikasikan potensi hujan lebat disertai kilat dan angin kencang.

“Awan Cumulonimbus ini menjadi indikator kuat terjadinya hujan intensitas sedang hingga lebat yang dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir,” tulis BMKG dalam laporannya.

Sementara itu, faktor global seperti Madden Julian Oscillation (MJO), ENSO, dan SOI dinyatakan tidak berpengaruh signifikan terhadap pembentukan awan hujan di wilayah ini.

 

BMKG juga menyebut kondisi kelembapan udara di berbagai lapisan atmosfer tergolong tinggi, yakni mencapai 70–100 persen dari lapisan 850 hPa hingga 500 hPa. Kelembapan tinggi ini semakin memperkuat proses pembentukan awan hujan.

Ke depan, BMKG memperingatkan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpeluang terjadi dalam 1 hingga 3 hari ke depan di wilayah Sulawesi Tengah.

Kondisi tersebut dapat disertai petir dan angin kencang, sehingga masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi bencana lanjutan seperti banjir dan tanah longsor.

Baca Juga: Sempat Dikeroyok Warga saat Mencuri di Pasar Masomba, Pria Berstatus ODGJ Dikembalikan ke Keluarga

Sebelumnya, banjir yang terjadi di Desa Saojo pada Minggu (12/4) pukul 00.30 WITA disebabkan hujan deras sejak pukul 22.00 WITA. Selain merendam puluhan rumah, genangan air juga mengganggu akses transportasi warga.(*)

Editor : Mugni Supardi
#banjir Poso #banjir Desa Saojo #penyebab banjir #Cuaca ekstrem Sulawesi Tengah #BMKG Sulteng