RADAR PALU – Implementasi Program Women Empowerment Nexus (WE Nexus) di Kabupaten Sigi memasuki tahap refleksi melalui kegiatan Workshop Pembelajaran (Lesson Learned) yang digelar sebagai ruang evaluasi, pembelajaran, sekaligus perumusan arah keberlanjutan program ke depan, Kamis (29/1) di salah satu hotel di kota Palu.
Kegiatan ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, mitra pembangunan, hingga perwakilan masyarakat.
Manajer Climate Resilience and Humanitarian Portfolio, Rene Picasso, menjelaskan bahwa workshop ini dirancang sebagai forum terbuka untuk meninjau capaian, tantangan, serta pembelajaran utama selama dua tahun pelaksanaan program di lapangan.
Menurutnya, diskusi berbasis pengalaman nyata menjadi kunci untuk memastikan program tidak berhenti pada laporan administratif, tetapi menghasilkan rekomendasi yang aplikatif.
“Forum ini menjadi ruang refleksi bersama. Kita melihat apa yang sudah berjalan baik, apa tantangan yang dihadapi, serta pembelajaran penting dari implementasi pendekatan WE Nexus di Kabupaten Sigi,” ujar Rene dalam sambutannya.
Program WE Nexus sendiri mendapat dukungan dari UN Women dan Korea International Cooperation Agency (KOICA). Program ini hadir di tengah kompleksitas persoalan daerah, mulai dari krisis kemanusiaan, dampak perubahan iklim, hingga dinamika sosial yang terus berkembang.
Dalam konteks tersebut, pendekatan Nexus tidak lagi diposisikan sebagai pilihan, melainkan sebagai kebutuhan strategis.
Rene berharap, melalui workshop ini, lahir rekomendasi yang rinci dan mudah diterapkan, sekaligus memperkuat kolaborasi lintas sektor yang telah terbangun selama program berlangsung. Ia juga mendorong agar praktik-praktik baik yang dinilai berhasil dapat direplikasi atau diperluas skalanya, baik oleh masyarakat maupun Pemerintah Kabupaten Sigi.
Mewakili pemerintah daerah, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Sigi, Anwar, menegaskan pentingnya forum pembelajaran ini dalam konteks pembangunan daerah yang berkelanjutan.
Ia menyebut Kabupaten Sigi sebagai wilayah dengan tingkat kerentanan tinggi terhadap bencana alam dan dinamika sosial politik.
“Kondisi ini tidak hanya berdampak pada aspek fisik dan ekonomi, tetapi juga memengaruhi kemampuan masyarakat dalam merespons krisis dan membangun pemulihan jangka panjang,” kata Anwar.
Ia menekankan bahwa ketangguhan daerah tidak cukup jika hanya berfokus pada kesiapsiagaan teknis. Ketangguhan sejati, menurutnya, harus bersifat inklusif, sensitif terhadap konflik, serta mampu memperkuat kohesi sosial dan perlindungan kelompok rentan, khususnya perempuan dan pemuda sebagai aktor penting pembangunan dan perdamaian.
Dalam konteks tersebut, Program WE Nexus dinilai relevan karena menghadirkan pendekatan transformatif yang mengintegrasikan dimensi sosial, perlindungan, dan partisipasi kelompok rentan.
Anwar berharap hasil workshop ini dapat menjadi pijakan nyata dalam perencanaan pembangunan daerah, bukan sekadar menjadi dokumen rekomendasi.
“Jangan sampai pembelajaran berhenti di atas kertas. Ini harus menjadi dasar untuk memperkuat ketangguhan daerah dan memastikan tidak ada kelompok masyarakat yang tertinggal,” tegasnya.
Sementara itu, CEO Yayasan CARE Indonesia, Dr. Abdul Wahib Situmorang, menyoroti pentingnya memahami makna pembelajaran itu sendiri.
Ia menjelaskan bahwa workshop ini bukan sekadar belajar, tetapi belajar dari apa yang telah dipelajari selama dua tahun implementasi program.
Menurut Wahib Situmorang, pendekatan WE Nexus menggabungkan tiga pilar utama, salah satunya adalah pendekatan kemanusiaan yang menempatkan martabat manusia sebagai prinsip dasar. Pendekatan ini tidak membedakan latar belakang suku, agama, gender, maupun status sosial ekonomi.
“Kita semua diciptakan dengan martabat yang sama dan harus diperlakukan setara. Itu inti dari prinsip kemanusiaan,” ujarnya.
Ia menilai keberhasilan pendekatan inklusif terlihat dari meningkatnya partisipasi perempuan dalam program, bahkan jumlah peserta perempuan dalam forum ini lebih banyak dibanding laki-laki. Hal tersebut menunjukkan adanya perubahan pola partisipasi dalam pembangunan.
Pendekatan kedua dalam WE Nexus adalah pembangunan manusia dan masyarakat. Wahib menegaskan bahwa pembangunan tidak hanya soal infrastruktur fisik, tetapi juga pembangunan modal sosial dan kapasitas manusia, terutama kelompok rentan seperti perempuan.
Ia mencontohkan praktik pelatihan yang selama ini lebih banyak berpusat di kota dan tidak ramah bagi perempuan. Melalui WE Nexus, pendekatan pelatihan didorong lebih dekat ke desa dan komunitas, sehingga perempuan memiliki akses yang setara untuk meningkatkan kapasitas dan kemandirian ekonomi.
“Jika perempuan dan laki-laki sama-sama memiliki keterampilan, maka ketahanan ekonomi keluarga akan lebih kuat dan ketergantungan pada bantuan negara dapat berkurang,” pungkasnya.
Editor : Wahono.