Kisah Wallace Saat Gempa Guncang Sulawesi, Warga Teriak “Tana Goyang”

Muhammad Awaludin • Dipublikasikan Senin, 6 April 2026 | 08:45 WIB
Monumen Alfred Russel Wallace (1823-1913) yang dibangun untuk memperingati 100 tahun Natuurmonument atau Cagar Alam Goenoeng Tangkoko Batoeangoes, sekaligus menghormati jasa Wallace. Menurut catatannya dalam The Malay Archipelago, ia singgah di Minahasa selama tiga bulan, sejak Juni 1859.  (Mahandis Yoanata Thamrin / National Geographic)
Monumen Alfred Russel Wallace (1823-1913) yang dibangun untuk memperingati 100 tahun Natuurmonument atau Cagar Alam Goenoeng Tangkoko Batoeangoes, sekaligus menghormati jasa Wallace. Menurut catatannya dalam The Malay Archipelago, ia singgah di Minahasa selama tiga bulan, sejak Juni 1859. (Mahandis Yoanata Thamrin / National Geographic)

RADAR PALU – Pengalaman mencekam gempa bumi di Sulawesi ternyata sudah tercatat sejak ratusan tahun lalu. Naturalis asal Inggris, Alfred Russel Wallace, menjadi salah satu saksi langsung dahsyatnya guncangan tersebut.

Dalam catatannya yang dikutip dari National Geographic Indonesia, Wallace menggambarkan detik-detik ketika gempa mengguncang kawasan Minahasa, Sulawesi Utara, pada 1859.

“Ketika saya sedang membaca, rumah saya bergetar lemah,” tulis Wallace. Getaran itu kemudian semakin kuat hingga membuatnya berhenti dan mencoba merasakan langsung sensasi gempa. 

Baca Juga: Sepekan, 147 Gempa Guncang Sulteng, Didominasi Magnitudo Kecil

Saat itu, Wallace berada di pondokannya di perbukitan Rurukan, wilayah utara Danau Tondano. Dalam hitungan detik, guncangan berubah menjadi semakin keras, menggoyang meja, kursi, bahkan membuat rumah terasa seperti hendak roboh.

Suasana mendadak panik. Dari luar rumah terdengar teriakan warga, “Tana goyang! Tana goyang!”

Warga berhamburan keluar rumah. Perempuan menjerit, anak-anak menangis. Ketakutan menyelimuti kampung yang baru saja bersiap beristirahat malam. 

Baca Juga: Sepekan 151 Gempa Guncang Sulteng, Mayoritas Dangkal

Wallace pun ikut berlari menyelamatkan diri. Setelah guncangan mereda, ia kembali masuk ke pondokannya dan mendapati barang-barang berantakan.

“Lampu dan botol arak telah jatuh. Penyangga lampu bahkan terlempar dari tempatnya,” tulisnya.

Ia mencoba menganalisis fenomena tersebut. Menurutnya, getaran gempa terasa merambat hampir vertikal dengan intensitas tinggi—indikasi gempa kuat.

Gempa Besar dan Riwayat Panjang Sulawesi

Dari penuturan warga, Wallace mengetahui bahwa sekitar satu dekade sebelumnya juga pernah terjadi gempa besar yang merobohkan bangunan dan menewaskan banyak orang.

Data historis memperkuat catatan tersebut. Arsip Global Historical Earthquake Archive mencatat gempa besar sekitar 1859 dengan magnitudo diperkirakan mencapai 7,0. 

Baca Juga: Mengenal Sesar Naik Tolo, yang Punya Potensi Gempa Capai M 7,6

Gempa itu bahkan diduga berpusat di laut antara Halmahera dan Sulawesi Utara, dengan potensi merusak hingga memicu tsunami.

Tak berhenti di situ, rangkaian gempa susulan juga terus terjadi hingga berminggu-minggu. Warga pun berkali-kali keluar masuk rumah karena takut guncangan berikutnya lebih besar.

Nusantara: Wilayah Aktif Secara Geologis

Bagi Wallace, pengalaman ini sangat berbeda dengan kehidupannya di Inggris yang relatif bebas gempa. Ia menyadari bahwa Nusantara berada di kawasan geologi aktif dengan frekuensi gempa tinggi. 

Baca Juga: 921 Gempa Susulan Guncang Maluku Utara, BMKG: Proses Stabilisasi Masih Berlangsung

Sulawesi Utara sendiri berada di zona tumbukan lempeng aktif serta dekat dengan jalur vulkanik dan subduksi.

Kondisi ini membuat gempa menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Menariknya, Wallace mencatat respons warga yang cenderung lebih adaptif. Di tengah ketegangan, bahkan muncul tawa saat warga berlarian keluar masuk rumah setiap kali gempa susulan terjadi.

“Perbedaan antara tragedi dan komedi sangat tipis di sini,” tulisnya.

Dari Catatan Ilmiah ke Warisan Pengetahuan

Catatan perjalanan Wallace kemudian dibukukan dalam The Malay Archipelago pada 1869, yang hingga kini menjadi salah satu referensi penting tentang kondisi alam dan masyarakat Nusantara.

Selain dikenal sebagai pelopor teori evolusi bersama Charles Darwin, Wallace juga dikenang lewat konsep “Garis Wallace” yang membagi wilayah fauna Asia dan Australia. 

Baca Juga: Kepala BNPB Sambangi Rumah Korban Gempa M 7,6 di Sulut

Namun lebih dari itu, pengalamannya menghadapi gempa di Sulawesi menjadi pengingat bahwa Indonesia adalah wilayah yang hidup secara geologis—indah, tetapi juga rentan bencana.

“Gempa besar merupakan bencana alam paling destruktif dan mengerikan yang dapat melanda manusia,” tulis Wallace.

Pertanyaannya, apakah kita hari ini sudah cukup siap menghadapinya?***

Editor : Muhammad Awaludin
Alfred Wallace Sejarah Indonesia Geologi Nusantara gempa sulawesi barat Bencana Alam