Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Ketika Palu Menunggu Delapan Tahun untuk Kembali Menyebrang

Muhammad Awaludin • Jumat, 13 Februari 2026 | 12:15 WIB
Ilustrasi Dulu dan sekarang: Jembatan Palu IV berdiri kembali. Bentuknya berbeda, tetapi fungsinya sama: menyambung dua sisi kota, dan perlahan, menyatukan kembali ingatan yang pernah patah.
Ilustrasi Dulu dan sekarang: Jembatan Palu IV berdiri kembali. Bentuknya berbeda, tetapi fungsinya sama: menyambung dua sisi kota, dan perlahan, menyatukan kembali ingatan yang pernah patah.

RADAR PALU - Tidak semua orang langsung menatap ke atas saat melintasi Jembatan Palu IV, Jumat (13/2/2026).

Sebagian hanya fokus pada setir. Sebagian lain memperlambat laju kendaraan, seperti memastikan ini benar-benar nyata: jalur itu kembali ada. 

 

 

 

Delapan tahun lalu, di titik yang sama, lengkung kuning Jembatan Ponulele berdiri gagah. Warga mengenalnya sebagai Jembatan Kuning — ikon yang diresmikan Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono pada 2006. 

Ia pernah disebut sebagai jembatan lengkung pertama di Indonesia dan ketiga di dunia setelah Jepang dan Prancis.

Sore hari, orang datang sekadar duduk. Malam hari, lampunya memantul di permukaan Teluk Palu.

Lalu 28 September 2018 mengubah semuanya.

Gempa 7,5 magnitudo mengguncang, disusul tsunami yang menyapu pesisir. Peristiwa yang tercatat sebagai Gempa dan tsunami Sulawesi 2018 itu membuat jembatan terbelah dan runtuh ke laut. 

Banyak warga mengingat suara logam patah bercampur gemuruh air. Ada yang kehilangan keluarga. Ada yang kehilangan usaha. Ada yang kehilangan arah.

Sejak itu, Palu seperti terputus — bukan hanya secara fisik, tapi juga secara batin.

Kini, Jembatan Palu IV berdiri dengan desain berbeda. Tidak lagi berwarna kuning, tidak lagi berbentuk lengkung seperti dulu. Tetapi posisinya sama: menyambung dua sisi kota yang pernah tercerai.

Wakil Gubernur Sulawesi Tengah dr. Reny A. Lamadjido membuka akses lalu lintas dan mengingatkan agar fasilitas itu dijaga.

“Ini aset bersama,” ujarnya. 

Namun maknanya terasa lebih dalam dari sekadar aset.

Bagi warga Kampung Lere dan sekitarnya, jembatan ini adalah tanda bahwa kota tidak menyerah pada ingatan buruk. Bahwa aktivitas ekonomi bisa kembali berdenyut. Bahwa anak-anak yang dulu mengungsi kini bisa tumbuh di kota yang perlahan pulih. 

Kepala BPJN Sulawesi Tengah Bambang Razak menyebut pembangunan kembali jembatan melibatkan dukungan pemerintah pusat dan mitra internasional, termasuk Japan International Cooperation Agency (JICA). 

Setelah open traffic, pengelolaan akan diserahkan ke Pemerintah Kota Palu. Kawasan sekitar juga akan ditata ulang, termasuk ruang bagi pelaku UMKM.

Peresmian penuh dijadwalkan April mendatang.

Tetapi bagi banyak orang, momen pentingnya justru pagi ini.

Saat kendaraan pertama melintas, saat roda menyentuh aspal baru, saat Teluk Palu tetap tenang di bawahnya.

Kota ini tidak melupakan 2018.

Namun hari ini, Palu memilih menyeberang lagi.***

Editor : Muhammad Awaludin
#Radar Palu #jembatan kuning palu #Gempa tsunami 2018 #Open traffic Palu #Rekonstruksi Sulteng #Jembatan Palu IV