Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Tak Punya WC Sejak Dua Dekade, Beginilah Warga Desa Malewa Bertahan

Muhammad Awaludin • Selasa, 10 Februari 2026 | 17:11 WIB
Anggota Komisi III DPRD Sulawesi Tengah dari Partai Gerindra, Marthen Tibe saat reses meninjau kondisi permukiman warga di Desa Malewa, Kabupaten Tojo Una-Una.
Anggota Komisi III DPRD Sulawesi Tengah dari Partai Gerindra, Marthen Tibe saat reses meninjau kondisi permukiman warga di Desa Malewa, Kabupaten Tojo Una-Una.

RADAR PALU — Marthen Tibe terdiam sejenak sebelum berbicara. Di hadapan jurnalis Radar Palu, Jawa pos, Anggota Komisi III DPRD Sulawesi Tengah itu menghela napas panjang, seolah mencoba merangkai kata untuk menggambarkan kondisi yang sulit diterima akal sehat.

“Di sana, orang masih buang hajat dengan menggali tanah,” ujarnya pelan. 

 

 

 

Yang ia ceritakan bukan kisah daerah terpencil di masa lampau. Melainkan Desa Malewa, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah—permukiman yang sudah berdiri lebih dari dua dekade, tetapi hingga hari ini tak memiliki fasilitas sanitasi paling dasar: WC.

Buang Air di Tanah, Irigasi, dan Sungai 

Di Desa Malewa, rutinitas harian warga berlangsung dengan cara yang terpaksa. Sebagian warga menggali lubang di tanah belakang rumah untuk buang air. Sebagian lainnya memanfaatkan saluran irigasi dan sungai kecil yang mengalir di sekitar permukiman.

Ironisnya, sungai dan irigasi itu pula yang digunakan warga untuk mandi, mencuci, dan memenuhi kebutuhan air sehari-hari. 

Tak ada WC di dalam rumah. Tak ada pula MCK komunal. Yang ada hanya tanah terbuka, aliran air tanpa pengelolaan, dan kebiasaan darurat yang diwariskan dari tahun ke tahun.

“Kondisi ini sudah berlangsung lebih dari 20 tahun,” kata Marthen.

Permukiman Pascakonflik yang Tak Pernah Tuntas

Desa Malewa dibangun pada 2001, saat konflik Poso masih menyisakan gelombang pengungsian. TNI kala itu membangun lebih dari seratus unit rumah untuk warga yang dipindahkan demi keselamatan.

Rumah berdiri, atap terpasang, dinding mengeras.
Namun sanitasi tak pernah disiapkan.

“Sejak awal tidak ada satu pun WC,” ujar Marthen mengenang kunjungannya ke Malewa saat reses 2025.

Akibatnya, selama lebih dari dua dekade, warga bertahan hidup tanpa standar sanitasi layak. Desa yang dibangun negara itu seolah berhenti pada tahap menyediakan bangunan—tanpa memastikan martabat penghuninya terjaga.

Ancaman Penyakit dari Lingkungan Tak Sehat

Kondisi sanitasi yang buruk mulai memunculkan dampak serius. Marthen mengaku menerima laporan adanya warga yang mengidap penyakit menular, termasuk TBC.

“Ini tentu tidak lepas dari lingkungan yang tidak sehat,” katanya. 

Buang air di ruang terbuka, bercampur dengan aktivitas mandi dan mencuci di sungai, menciptakan siklus pencemaran yang sulit diputus. Risiko kesehatan paling besar mengintai anak-anak dan lansia.

Bagi Marthen, masalah Malewa tak lagi sebatas fasilitas, melainkan sudah masuk kategori darurat kesehatan dan kemanusiaan.

Reses yang Membuka Fakta di Lapangan

Marthen mengaku kondisi Malewa jauh berbeda dari laporan-laporan formal yang biasa diterima dewan. Karena itu, ia memilih turun langsung. 

“Saya lebih percaya apa yang saya lihat sendiri,” ujarnya.

Yang ia temukan bukan hanya rumah tanpa WC, tetapi potret kemiskinan yang berlangsung lama dan nyaris tak terdengar. Warga hidup dengan menekan kebutuhan paling dasar, bukan karena tidak ingin berubah, melainkan karena tak memiliki pilihan.

Jalur Tak Biasa untuk Harapan

Keterbatasan anggaran daerah menjadi tantangan tersendiri. Namun Marthen menilai persoalan kemanusiaan tak boleh menunggu terlalu lama. 

Kesempatan datang saat Menteri Hukum Supratman Andi Agtas berkunjung ke Palu bersama Wakil Ketua MPR RI Abcandra Muhammad Akbar. Kondisi Desa Malewa disampaikan langsung.

Respons pun datang cepat. Salah satu opsi awal yang disiapkan adalah pemanfaatan dana Corporate Social Responsibility (CSR) PT IMIP untuk pembangunan MCK dan rehabilitasi rumah.

Proposal untuk Desa Malewa dan desa tetangga Mawomba kini telah disusun, menunggu tindak lanjut konkret. 

WC dan Martabat Warga

Bagi warga Malewa, WC bukan sekadar bangunan kecil berdinding semen. Ia adalah simbol pengakuan.

Pengakuan bahwa mereka berhak hidup layak. Bahwa anak-anak tak harus tumbuh dengan rasa malu. Bahwa sungai kembali menjadi sumber kehidupan, bukan tempat pembuangan. Bahwa kesehatan bukan kemewahan.

Sudah lebih dari dua dekade warga Malewa bertahan dengan cara-cara darurat untuk buang hajat. Kini, mereka menunggu sesuatu yang lebih mendasar dari sekadar bantuan—kehadiran negara yang benar-benar tuntas, hingga ke halaman belakang rumah mereka sendiri.***

Editor : Muhammad Awaludin
#sanitasi buruk #Desa Malewa #kemiskinan ekstrem #Radar Palu #tanpa WC #Tojo Una Una