Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

IPOC 2025 Resmi Dibuka di Bali, Arah Baru Industri Sawit Dunia Mulai Terbentuk

Muhammad Awaludin • Kamis, 13 November 2025 | 23:05 WIB
Mifta/Radar Bali Ketua Panitia IPOC 2025, Mona Surya
Mifta/Radar Bali Ketua Panitia IPOC 2025, Mona Surya

RADAR PALU – Konferensi sawit terbesar di dunia, IPOC 2025 (Indonesian Palm Oil Conference & 2026 Price Outlook), resmi dibuka di Bali International Convention Center (BICC), The Westin Resort Nusa Dua, Kamis (13/11). Acara pembuka yang berlangsung pukul 10.00 WITA ini menandai dimulainya pembahasan arah baru industri sawit dunia dalam menghadapi tantangan global dan kebijakan baru seperti EUDR serta penguatan sektor biofuel.

Ketua Pelaksana IPOC 2025, Mona Surya, menyebut bahwa konferensi ini menjadi simbol kekuatan kolaborasi global di sektor kelapa sawit. “IPOC adalah homecoming tahunan bagi kita semua. Dari awal sederhana, kini menjadi ajang global yang ditunggu dunia,” kata Mona di hadapan lebih dari 1.500 peserta dari 28 negara.

Tema “Navigating Complexity, Driving Growth: Governance, Biofuel Policy and Global Trade” menjadi sorotan utama. Menurut Mona, industri sawit kini berada di persimpangan jalan — menghadapi volatilitas harga, stagnasi produksi, hingga kebijakan dagang baru. “Kebijakan nasional dan global kini membentuk cara kita beroperasi,” ujarnya. 

Tahun ini, IPOC 2025 mencatat rekor dengan 113 booth pameran dan 38 sponsor utama. Acara juga dihadiri pejabat tinggi negara, duta besar, akademisi, serta lembaga internasional dari berbagai negara.

Ketua GAPKI Eddy Martono dalam pidato pembukaannya menyoroti capaian industri sawit nasional yang terus meningkat. “Produksi sawit Indonesia sudah menembus 43 juta ton, naik 11%. Ekspor lebih dari 25 juta ton, dengan devisa USD 27,3 miliar atau naik 40% dari tahun lalu,” ujarnya.

Namun, Eddy mengingatkan bahwa tantangan industri sawit global tidak ringan. Regulasi EUDR dan stagnasi produktivitas perlu dijawab dengan inovasi serta standar keberlanjutan ISPO yang lebih kuat. “ISPO harus menjadi global gold standard. Keberlanjutan bukan slogan, tapi komitmen,” tegasnya.

Selain kebijakan biofuel seperti B35 dan B40 yang memperkuat permintaan domestik, Eddy menekankan pentingnya gerakan nasional peremajaan sawit. “Kita tak bisa mengandalkan mesin lama untuk menggerakkan masa depan,” katanya. 

Acara juga menampilkan inovasi generasi muda melalui National Palm Oil Hackathon 2025, yang dimenangkan oleh Tim BiFlow dari ITS Surabaya dengan teknologi RAPIDS berbasis machine learning untuk mendeteksi penyakit Ganoderma.

Selain itu, kolaborasi internasional juga menjadi sorotan lewat pembentukan Elaeidobius Consortium bersama Tanzania Agricultural Research Institute guna meningkatkan efisiensi penyerbukan.

IPOC 2025 akan berlangsung hingga 14 November 2025, menghadirkan pakar dunia seperti Thomas Mielke (Oil World), Julian Conway McGill (Glenauk Economics), dan Ryan Chen (Cargill China). Forum ini diharapkan menjadi penentu arah strategis industri sawit global tahun 2026.***

Editor : Muhammad Awaludin
#Industri Sawit #Bali #biofuel #EUDR #IPOC 2025