Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Kisah Pilu Siti Aja, Ojek Perempuan Palu Diseruduk Sapi hingga Patah Tulang, Kini Hidupnya Serba Sakit dan Sepi

Muhammad Awaludin • Sabtu, 25 Oktober 2025 | 20:35 WIB
Seorang ibu pengojek perempuan diseruduk sapi di jalan Layana, Palu/ Siti Aja.
Seorang ibu pengojek perempuan diseruduk sapi di jalan Layana, Palu/ Siti Aja.

RADAR PALU – Suasana di rumah Siti Aja malam itu, Jumat (24/10/2025) masih tampak lengang. Di depan tiang teras rumah diikat bendera kuning ukuran kecil. Ruang tamu digelar karpet berwarna merah. Malam itu, rumah berdinding kayu tengah berduka, menunggu tamunya untuk tahlilan yang ke-40 malam.

Sementara, sang pemilik rumah terbaring ringkih di kamar. Siti Aja namanya. Perempuan tangguh yang ditinggal meninggal suaminya. Perempuan yang dikenal sebagai tukang pijat sekaligus ojek.

Perempuan berdaster itu tengah berbaring miring ke kiri. Punggungnya masih nyeri, tangan, dan kepalanya diperban. Harusnya, Siti masih terbaring di rumah sakit sebab luka yang diterimanya ulah sapi perah betina. Sudah dua malam tiga hari dia mendekam di bangsal rumah sakit. Namun, khusus malam ini, Siti ingin pulang ke rumah demi mendengar doa-doa yang dilangitkan untuk sang suami.

“Ini dibikin kasihan ini 40 malamnya suami saya meninggal,” tutur perempuan berusia 66 tahun itu.

Awalnya, Rabu (22/10) Siti Aja pergi mengambil nisan untuk suaminya di jalan Kayumalue, lalu pulang beristirahat sejenak di rumahnya di kelurahan Layana, kecamatan Mantikulore, kota Palu. Kemudian dia bertolak menuju sekolah SMP Negeri 12 di jalan Dupa Indah menjemput langganannya.

“Saya jemput anak sekolah itu. Kelas 3 SMP itu anak. Anak yatim juga kasihan, dia minta bantu ibunya. Jadi, saya pigi jemput,” ceritanya.

Nahasnya, di perjalanan pulang, tepat di jalan Layana, seekor sapi perah betina memblokade jalan. Sontak, anak yang diboncengnya berteriak memperingati, Siti pun sigap membelokkan setang motor mengambil lajur lain ke arah lorong. Celakanya, hewan perah itu lebih dulu menyadari keberadaan keduanya. Bagai kesetanan, hewan itu mengejar, menyerunduk motor Siti.

Medan jalan yang sulit, belum beraspal dan dipenuhi pasir serta bebatuan menyusahkannya. Sontak perempuan baya itu jatuh membentur tanah. Sementara, anak yang diboncengnya terpental cukup jauh. Bagai belum puas, dengan kepala dan kakinya, sapi putih itu menyundul dan menginjak Siti seolah ibu dua anak itu adalah mainannya. Jilbab Siti sobek dan terlepas, tubuhnya telengkup tidak berdaya. Rambut panjangnya yang memutih ditindih setang motor. Alhasil dia pasrah tubuh rentanya jadi bulan-bulanan. Sementara, sapi itu membabi buta menanduk kepalanya sambil menginjak dada dan punggung Siti.

“Tolong saya, Pak!” kenang Siti saat berteriak kesakitan di bawah kukungan sapi betina yang kesetanan.

Seorang Dosen yang melihat kejadian itu bergegas membantu. Bersama istrinya, mereka berusaha mengusir sapi tersebut dengan cara memukulnya menggunakan kayu dan melemparnya dengan batu. Siti yang berlumuran darah diamankan di rumah si dosen sebelum dibawa pulang ke rumahnya. Sementara, anak yang dibawanya selamat.

Pemerintah Kelurahan yang mendengar kabar tersebut lekas mendatangi rumah Siti dan membawanya ke Rumah Sakit Mamboro menggunakan ambulance.

Peristiwa kelam itu membuat jari tengah di tangan kirinya patah. Padahal, hanya tangan itulah penopang keluarga. Di mana Siti Aja mengambil peran suaminya sebagai tulang punggung, dari jari yang patah penghasil pundi rupiah.

Sementara, dahinya robek meninggalkan lima jahitan. Tubuh belakangnya membiru dan kepalanya nyeri. Insiden itu bukan hanya meninggalkan memar dan tulang yang patah, melainkan juga trauma yang dalam bagi sang perempuan senja.

Ini bukan kali pertama. Tiga hari usai suaminya meninggal, saat dia dan putrinya berziarah ke makam, tiba-tiba dari arah belakang motor, sapi yang sama berlari memburu mereka. Dari jok belakang, putrinya berteriak memberi tahu, Siti awalnya tidak percaya. 

“Ini anak ini, anakku bilang Mama, sapi Mama ba kejar! Ah, kita tidak ada sapi! Ini Mama, ini Mama!” ujarnya menirukan kejadian itu.

Melihat sendiri sapi berlari ke arahnya dan sang putri yang sudah bersiap pergi dari pemakaman, Siti pun menarik kencang gas motor. Beruntungnya jalan di area Tempat Pemakaman Umum (TPU) beraspal sehingga memudahkannya melarikan diri ke arah orang berkerumun. Melihat banyak orang, entah karena takut, sapi itu berhenti mengejar. Kala itu Siti dan anaknya selamat. Namun, bagai menaruh dendam, sapi betina berhasil menghajarnya hingga nyaris meregang nyawa.

Karena sakitnya, Siti terpaksa berhenti mengojek dan memijat. Padahal, hanya dari dua pekerjaan itu dia mendapatkan pemasukan untuk kebutuhan sehari-hari.

Anak SMP yang diboncengnya merupakan langganan satu-satunya. Ibu si anak yang suaminya juga meninggal meminta Siti mengantar-jemput anaknya dengan bayaran Rp300 ribu per bulan. Upah itulah yang menutupi pembayaran kontrakan rumah seharga Rp500 ribu per bulan.

“Saya ini kasihan orang susah. Sedangkan rumah ini bukan rumahku kasihan, Ibu. Cuman disewa, cuma Bapak (suaminya) sudah meninggal,” ucapnya.

Siti mengenang kembali saat dia dan suami masih tinggal di Tojo Una-Una. Di sana, hidup Siti dam keluarga serba berkecukupan. Dia punya rumah, tanaman sekitar 300 pohon cengkeh, cokelat, kelapa, hingga ternak sapi. Sayangnya, kata Siti, harta hanyalah titipan-Nya. Tahun 1983 bencana melanda, gunung Colo meletus melalap habis harta bendanya.

“Sudah tiba saatnya Allah yang punya, sedangkan nyawa diambil. Kalau kemarin itu (saat diseruduk sapi) sudah saya punya ajal, tapi masih Allah berikan kesempatan untuk bertobat,” syukurnya.

Siti dan keluarga pun pindah ke Poso. Namun, hidup kembali mengujinya dengan kerusuhan Poso sekitar tahun 1998. Dia dan keluarga akhirnya mengungsi dan menetap di kota Palu, tepatnya di kompleks Perumahan Layana Sosial, kelurahan Layana, kecamatan Mantikulore.

Siti juga bercerita bagaimana dia menggalih potensi akupunturnya. Masa itu sekitar lima tahun sebelum gempa Palu pada tahun 2018.

Sekitar 1 bulan Siti belajar teknik terapi jarum dan pijat akupuntur. Dari pelatihan itu, Siti mendapatkan sertifikat tingkat pertama. Siti bercerita di masa pemerintahan Presiden Gusdur, salah satu keponakan sang Presiden bernama Wardah melalui komunitasnya, memberikan Siti kursus gratis akupuntur. Dia dan beberapa peserta lainnya menginap di Palu Plaza selama dua minggu untuk belajar. Praktek pertamanya di Makassar selama satu minggu, lalu ke Kendari, panjut ke Jogja, dan berakhir di Palogadung Jakarta Timur.

“Setelah itu, sakit anakku. Tidak ikut lagi saya. Karena sudah sakit anak ini,” curhatnya.

Siti biasanya buka praktek di rumah. Terkadang pula dia dipanggil ke rumah-rumah. Dia tidak pernah memandang gender saat memijat akupuntur. Langganannya mulai dari anak sekolahan, guru, dosen, hingga polisi dan tentara. Dalam sekali pijat, Siti meraup keuntungan Rp50 ribu – Rp200 ribu. Sekali pijat biasanya memakan durasi 30 menit sampai 1 jam.

“Tapi, saya juga tidak saya targetkan (pasang tarif), keikhlasan berapa,” bukanya sembari tertawa kecil.

Sebelumnya, dari pelatihan itu Siti mendapatkan bantuan jarum akupuntur. Namun, karena berhenti, kiriman jarum tidak diterimanya lagi. Kini dia hanya mengandalkan kekuatan fisiknya, memijat menggunakan tangan. Berkat kemampuan itulah jarinya yang patah dan mati rasa mulai terasa aliran darahnya serta nyeri berangsur menghilang. Siti rajin memijat dan mengompresnya menggunakan air hangat. 

“Lebih baik yang ini, ekspresor ini tangan. Ditahu itu butiran-butiran, kan kalau peredaran darah tidak lancar, dapat tahu itu,” ujarnya sembari menunjukkan titik-titik akupuntur di tangannya.

Dia mengenang pengalamannya praktek terapi di Jakarta. Di sana, dari klien akupunturnya, Siti bisa meraup keuntungan Rp300 - Rp1 juta rupiah. Bahkan ada yang menghadiahkan pakaian untuknya.

“Pokoknya saya berterapi dari jam 4 (sore), nanti jam 12 malam berhenti. Hanya air saya minum, air putih, berkeringat saya,” kata Siti.

Netra perempuan baya itu menerawang. Ingatannya kembali pada sebelum tsunami Palu. Sekitar lima tahun sebelum gempa 2018.

“Dulunya saya ada rumah, di sebelah itu (kompleks perumahan yang sama). Cuma ada anak yang sakit dulu kasihan, terpaksa ta jual, tidak ada biaya kasihan. Dulu kan tidak ada BPJS,” kesahnya.

Anak laki-laki Siti pergi merantau sekolah SMA di Poso. Saat itu, sang putra pergi dari Palu ke Poso untuk mengambil ijazah SMA. Di tengah perjalanan, mobil yang ditumpangi singgah, beberapa penumpang termasuk putranya pergi buang air kecil. Toilet yang sudah penuh membuat anak laki-lakinya memutuskan buang hajat di sebuah pohon. Seketika kejadian aneh menyerangnya, putranya jatuh terduduk dan linglung.

Sejak kejadian itu, putranya jatuh sakit hingga saat ini bagai orang linglung dan terkadang seperti kesurupan. Padahal, putranya yang kini berusia 38 tahun ialah satu-satunya anak kandungnya. Sementara, sang putri, dia adopsi sejak bayi dari tetangganya yang sudah meninggal.

Dahulu, sebelum suaminya meninggal, saudara sang suami dari Gorontalo terkadang membantu Siti dengan mengirimkan sejumlah uang. Namun, selepas suaminya meninggal, kebiasaan itu seolah berhenti. Siti pun enggan meminta bantuan.

“Takut juga saya ba minta, sudah tidak ada saudaranya,” ucapnya dengan nada pelan.

Terkenang kembali bagaimana usahanya dulu membantu pemasukan keluarga dengan berjualan kue. Sementara, almarhum suami berprofesi sebagai tukang kayu. Sayangnya, sang suami jatuh sakit. Rencananya memanggil dua teman dari Palu yang lolos pelatihan kala itu untuk membuka klinik praktek pun terpaksa dikuburnya lagi. Usaha kuenya juga gulung tikar.

Tidak banyak pinta perempuan renta itu. Siti hanya berharap pemerintah dapat mengulurkan tangan memberikan bantuan usaha sesuai kemampuannya entah dalam keterampilan akupuntur atau modal usaha penjualan kue. Dia juga berharap, pemerintah dan aparat bertindak tegas pada semua pemilik hewan ternak agar menertibkan peliharaannya. Kini, keluarga Siti hanya bisa bertopang pada penghasilan menantunya yang berprofesi sebagai tukang kayu. (cr1)

Editor : Muhammad Awaludin
#diseruduk sapi #Perempuan tangguh #palu #sulteng #sapi #kecelakaan #ojek perempuan