RADAR PALU- Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Sulawesi Tengah melakukan pemantauan hilal untuk menentukan awal bulan Zulhijah 1446 H, Selasa (27/5). Pemantauan ini dilaksanakan di Observatorium Hisab Rukyat Kemenag Sulteng, yang terletak di Desa Marana, Kabupaten Donggala.
Namun, dari hasil pemantauan yang melibatkan berbagai pihak, termasuk Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta organisasi masyarakat (ormas) Islam, disimpulkan bahwa hilal tidak terlihat akibat kondisi cuaca yang tidak mendukung.
Kepala Bidang Bimas Islam Kanwil Kemenag Sulteng, H. Junaidin, menjelaskan bahwa kondisi di lokasi pengamatan saat itu tidak ideal. “Cuaca di Desa Marana, tertutup awan dan disertai hujan ringan. Ini menghambat proses pengamatan hilal secara langsung,” ujar Junaidin.
Selain itu, berdasarkan paparan dari tim Falakiyah Dolo dan BMKG, posisi hilal pada saat pengamatan masih berada di ketinggian satu derajat. Angka ini belum memenuhi kriteria visibilitas hilal yang ditetapkan oleh Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), yakni minimal tiga derajat.
“Karena belum memenuhi kriteria, maka wilayah Sulawesi Tengah belum bisa menetapkan awal Zulhijah secara mandiri. Sementara di beberapa wilayah lain, seperti Aceh, hilal sudah berada di posisi yang memenuhi syarat, yakni tiga derajat,” tambahnya.
Dengan kondisi tersebut, Kementerian Agama akan menunggu hasil Sidang Isbat yang digelar secara nasional di Jakarta pada malam hari yang sama. Sidang ini akan menetapkan secara resmi tanggal 1 Zulhijah dan hari pelaksanaan Idul Adha 1446 H di Indonesia. (who)
Editor : Wahono.