RADAR PALU - Sebanyak 900 remaja mengikuti perkemahan remaja GKST Klasis Mori Atas yang digelar di Jemaat GKST Betesda Mayumba, Kecamatan Mori Utara, Kabupaten Morowali Utara (Morut).
Perkemahan yang berlangsung selama empat hari ini menjadi wadah pembinaan iman, karakter, dan kepemimpinan bagi generasi muda gereja.
Acara dibuka melalui ibadah yang dipimpin oleh Pendeta Grace Walewangko. Setelah itu, Bupati Morut Delis Julkarson Hehi secara resmi membuka kegiatan tersebut.
Bupati hadir bersama istrinya, Febriyanthi Hongkiriwang, anggota DPD RI dari Dapil Sulawesi Tengah yang juga menjadi pemateri bagi para peserta.
Dalam sambutannya, Bupati Delis berharap kegiatan ini mampu melahirkan generasi muda yang tangguh dan berintegritas serta mampu memberi kontribusi nyata bagi gereja dan pembangunan daerah di masa depan.
Bupati juga menyampaikan pesan kepada para peserta agar mempersiapkan diri menjadi generasi yang beriman, berkarakter, dan siap memimpin di masa depan.
"Remaja hari ini adalah masa depan gereja, masa depan daerah, bahkan masa depan dunia. Karena itu kalian harus dipersiapkan dengan iman, karakter, dan semangat yang kuat," tegasnya.
Bupati mengingatkan bahwa setiap anak muda memiliki nilai di mata Tuhan dan masa depan yang baik, terlepas dari latar belakang keluarga.
"Tidak peduli siapa kita dan dari keluarga seperti apa kita berasal, setiap orang berharga di mata Tuhan. Tuhan memiliki rencana terbaik bagi kehidupan setiap anak muda," sebut Delis.
Ketua Panitia Perkemahan, Pendeta Ertonis Tobeonda menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar pertemuan remaja, tetapi proses pembentukan karakter yang berakar pada nilai-nilai Kristiani.
Menurutnya, gereja harus menempatkan pembinaan generasi muda sebagai investasi jangka panjang.
"Jika dihitung, dana ratusan juta rupiah bisa saja digunakan untuk membangun gedung gereja. Namun sesungguhnya gereja yang sejati adalah manusia. Ketika kita membina remaja dengan iman yang kuat dan karakter Kristus, maka kita sedang membangun ribuan gereja hidup," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa para pembina remaja melayani dengan penuh dedikasi tanpa memperhitungkan tenaga, waktu, maupun biaya.
Kami tidak menghitung pengorbanan tenaga, pikiran, maupun materi. Semua dilakukan agar iman anak-anak Tuhan tidak 'tabola-bale', tetapi semakin kuat dan bertumbuh," katanya.
Sementara itu Ketua Majelis Klasis Mori Atas, Jeffriyanto Tungele, mengatakan ratusan remaja GKST ini dilepas oleh orang tua dan jemaat untuk mengikuti pembinaan iman tersebut.
"Kami bersyukur karena 900 remaja ini dipercayakan oleh orang tua dan jemaat untuk dibina dalam kegiatan perkemahan ini. Mereka adalah generasi yang kelak akan menjadi pemimpin gereja dan masyarakat," ujarnya.
Jefriyanto menyebut kegiatan ini menjadi langkah penting dalam membangun masa depan gereja di wilayah Mori Atas.
"Siapa tahu dari 900 remaja ini, lima sampai sepuluh tahun ke depan akan lahir para pendeta, pemimpin gereja, bahkan pemimpin daerah," tandasnya. (ham)
Editor : Muchsin Siradjudin