Oleh: Dedi Askary
RADAR PALU - Di tengah dinamika politik di Kabupaten Parigi Moutong yang kerap dipenuhi retorika dan janji besar, sosok Erwin Burase hadir dengan pendekatan yang berbeda.
Ia bukan tipe pemimpin yang menjaga jarak dengan masyarakat, melainkan figur yang kehadirannya terasa dekat dengan kehidupan rakyat sehari-hari.
Bagi masyarakat di wilayah pesisir hingga pelosok pegunungan, Erwin bukan sekadar nama dalam struktur pemerintahan.
Ia dipandang sebagai pemimpin yang tumbuh bersama rakyat—mengerti denyut kehidupan petani, nelayan, dan warga desa yang selama ini menjadi tulang punggung daerah.
Memimpin dengan Mendengar
Dalam praktik politik modern, tidak sedikit pemimpin yang lebih senang berbicara daripada mendengar.
Namun Erwin Burase justru dikenal dengan gaya kepemimpinan yang sebaliknya. Ia memilih hadir di tengah masyarakat, mendengar langsung persoalan yang mereka hadapi.
Bagi Erwin, memahami persoalan daerah tidak cukup hanya melalui laporan di meja kerja. Persoalan pertanian, perikanan, hingga infrastruktur desa, menurutnya harus dipahami dari cerita langsung warga—di teras rumah, di kebun, atau di tepi pantai tempat para nelayan beraktivitas.
Pendekatan seperti ini mencerminkan gaya kepemimpinan yang sederhana dan membumi.
Ia berupaya meruntuhkan sekat antara pejabat dan rakyat, menunjukkan bahwa kekuasaan sejatinya hanyalah alat untuk menyambung aspirasi masyarakat yang selama ini kurang terdengar.
Baca Juga: Erwin dan Amirudin Dilantik, Gubernur: Jangan Tunggu Lowbat, Gunakan 100 Hari Pertama!
Kesederhanaan yang Otentik
Salah satu hal yang membuat Erwin Burase mudah diterima oleh berbagai kalangan adalah kesederhanaannya yang terasa alami.
Ia tampil apa adanya, berbicara dengan bahasa yang mudah dipahami, dan menunjukkan kepekaan sosial yang kuat.
Bagi Erwin, jabatan bukan sekadar simbol kekuasaan.
Kepemimpinan, dalam pandangannya, adalah tanggung jawab moral untuk memastikan masyarakat merasakan perubahan yang nyata dalam kehidupan mereka.
Semangat kerakyatan itu tercermin dalam beberapa pendekatan yang ia jalankan, antara lain:
Kehadiran nyata di lapangan, memastikan program pemerintah benar-benar dirasakan masyarakat.
Membangun kedekatan emosional, dengan menjalin hubungan yang hangat dan kekeluargaan dengan warga.
Fokus pada sektor akar rumput, seperti pertanian dan perikanan yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.
Kepemimpinan yang Tenang, Namun Tegas
Kepemimpinan yang kuat tidak selalu ditunjukkan dengan sikap keras atau retorika yang menggelegar.
Dalam banyak kesempatan, kekuatan kepemimpinan justru tampak pada ketenangan dalam menghadapi persoalan serta ketegasan dalam berpihak pada kepentingan rakyat.
Erwin Burase menunjukkan pendekatan tersebut melalui kerja-kerja yang lebih banyak dilakukan secara langsung, tanpa perlu sorotan berlebihan.
Baginya, kepuasan masyarakat yang merasakan manfaat kebijakan pemerintah adalah bentuk penghargaan tertinggi.
Baca Juga: Parameter Objektif Jadi Dasar Tambahan Penghasilan PNS Parigi Moutong
Di pundak Erwin, masyarakat Parigi Moutong menaruh harapan akan masa depan daerah yang lebih adil dan berpihak pada rakyat kecil.
Ia menjadi simbol bahwa seorang anak daerah dapat memimpin dengan kerendahan hati, sekaligus membawa perubahan tanpa kehilangan jati diri.
Sebab pada akhirnya, kepemimpinan sejati tidak lahir dari panggung pidato yang gemerlap, melainkan dari jejak langkah yang membekas di tanah perjuangan rakyatnya. (*)
Penulis merupakan mantan Ketua Komnas HAM Sulteng dan warga yang tinggal di Mbaliara, Parigi Barat.
Editor : Talib