RADAR PALU – Persoalan ekonomi keluarga dan pernikahan dini menjadi pemicu utama tingginya angka anak tidak sekolah (ATS) di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Hingga saat ini, tercatat sekitar 4.000 anak di daerah tersebut belum mengenyam pendidikan formal.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sigi, Hajar Modjo, mengungkapkan bahwa angka tersebut merupakan hasil verifikasi dan validasi terbaru dari data awal yang sebelumnya mencapai 6.048 anak.
“Data tahun ini jumlah anak tidak sekolah mencapai 6.048 anak, tetapi setelah kami verifikasi dan validasi kembali angka itu berkurang menjadi 4.000 anak,” kata Hajar saat ditemui awak media di Kalukubula, beberapa waktu lalu.
Menurutnya, faktor ekonomi keluarga masih menjadi alasan dominan anak-anak tidak melanjutkan sekolah, terutama pada jenjang sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP). Selain itu, praktik pernikahan dini juga berkontribusi signifikan terhadap meningkatnya angka putus sekolah.
“Sebagian besar disebabkan faktor ekonomi keluarga dan pernikahan dini,” ujarnya.
Hajar mengakui, Kabupaten Sigi saat ini menempati urutan pertama di Sulawesi Tengah dalam jumlah anak tidak sekolah. Kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
“Memang anak tidak sekolah di Kabupaten Sigi cukup tinggi dan urutan pertama di Sulawesi Tengah,” tegasnya.
Wilayah dengan angka tertinggi berada di Kecamatan Sigi Biromaru dan Marawola. Kedua wilayah tersebut merupakan daerah perbatasan dengan Kota Palu, yang memiliki dinamika sosial cukup kompleks.
Untuk menekan angka tersebut, Disdikbud Sigi memperkuat kolaborasi dengan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD), di antaranya Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD), Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil), serta Dinas Sosial.
“Kerja sama ini melibatkan Dinas PMD, Disdukcapil dan Dinas Sosial setempat, sehingga data yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan,” jelasnya.
Selain itu, Pemerintah Kabupaten Sigi juga menyalurkan 2.306 paket bantuan seragam sekolah gratis pada 2025, terdiri dari 1.500 paket untuk jenjang SD dan 806 paket untuk jenjang SMP, sebagai salah satu langkah meringankan beban keluarga.
Disdikbud berharap keterlibatan pemerintah kecamatan dan desa, serta dukungan keluarga dan masyarakat, dapat menekan angka anak tidak sekolah secara bertahap, sehingga setiap anak di Kabupaten Sigi memperoleh hak pendidikan yang layak dan berkelanjutan.(***)
Editor : Muchsin Siradjudin