Ekstremisme Menyusup Lewat Ruang Digital, Generasi Muda Jadi Sasaran Rentan

RADAR PALU – Ancaman ekstremisme berbasis kekerasan kini tidak selalu bermula dari pertemuan tertutup atau jaringan di dunia nyata. Telepon genggam dan media sosial justru menjadi salah satu pintu yang memungkinkan intoleransi, ujaran kebencian, disinformasi hingga propaganda kekerasan menyebar lebih cepat.
Generasi muda menjadi kelompok yang dinilai rentan terpapar karena aktivitas mereka yang tinggi di ruang digital. Konten dengan narasi provokatif dapat muncul dan menyebar melalui berbagai platform, bahkan tanpa disadari audiens yang menjadi sasarannya.
Persoalan tersebut mengemuka dalam Sosialisasi dan Inisiasi Pelaksanaan Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme (RAN-PE) Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme 2026-2029 di Ruang Polibu Kantor Gubernur Sulawesi Tengah, Selasa (8/9).
Staf Ahli Gubernur Sulteng Bidang SDM, Pengembangan Kawasan dan Wilayah, Rusmiadi, mengatakan perkembangan teknologi membuat pola penyebaran paham ekstrem menjadi semakin kompleks.
Menurutnya, ruang digital memungkinkan sebuah narasi menyebar dengan cepat dan menjangkau kelompok masyarakat yang lebih luas.
“Penyebaran dapat berlangsung dengan cepat melalui ruang digital dan dapat menyasar berbagai kelompok masyarakat, khususnya generasi muda,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat upaya pencegahan tidak cukup dilakukan setelah muncul tindakan kekerasan. Deteksi dini dan penguatan daya tahan masyarakat menjadi bagian penting untuk mencegah berkembangnya paham yang mengarah pada ekstremisme.
Salah satu pendekatan yang didorong adalah memperkuat literasi digital, pendidikan karakter, wawasan kebangsaan dan sikap toleransi di tengah masyarakat.
Rusmiadi menegaskan pencegahan harus dilakukan sebelum propaganda atau narasi kebencian berkembang menjadi tindakan nyata.



