Pendidikan Membuka Jalan bagi Perempuan Orang Rimba Menuju Perguruan Tinggi

RADAR PALU - Melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi dulu menjadi sesuatu yang sulit dibayangkan bagi sebagian anak Orang Rimba, terutama perempuan yang menghadapi keterbatasan akses pendidikan dan kesempatan untuk menentukan pilihan masa depan.
Kini, kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi mulai terbuka bagi generasi muda Orang Rimba.
Desi dan Kurnia adalah dua perempuan dari komunitas Orang Rimba atau Suku Anak Dalam (SAD) di Jambi yang menempuh pendidikan tinggi di Kota Jambi.
Baca Juga: Ratusan TKA China Masuk Palu Tiap Pekan, Mayoritas Melanjutkan Perjalanan ke Morowali
Desi masih berkuliah di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jambi, sementara Kurnia telah menyelesaikan pendidikan di Politeknik Kesehatan Jambi. Keduanya mendapat dukungan pendidikan dari PT Sari Aditya Loka (SAL).
“Saya bangga menjadi anak Rimba. Saya ingin terus sekolah supaya bisa meraih cita-cita, membanggakan orang tua, dan menjadi contoh bagi adik-adik saya. Saya juga ingin suatu hari kembali dan membantu anak-anak di komunitas saya belajar,” kata Desi.
Desi merupakan anak sulung dari empat bersaudara. Kedua orang tuanya hanya mengenyam pendidikan hingga sekolah dasar. Kondisi itu menjadi salah satu alasan Desi bertekad melanjutkan pendidikan, sekaligus menjadi contoh bagi adik-adiknya.
Bagi Desi, pendidikan bukan hanya soal sekolah. Ia melihat masih ada anak perempuan di komunitasnya yang memilih menikah daripada melanjutkan pendidikan. Karena itu, kesempatan mengenyam pendidikan lebih tinggi menjadi jalan yang ingin ia perjuangkan.
Keputusan untuk merantau ke Kota Jambi juga tidak mudah. Desi harus meninggalkan keluarga dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Namun, keinginan untuk terus sekolah membuatnya bertahan hingga kini.
Kisah Kurnia tidak jauh berbeda. Perempuan 20 tahun asal Desa Bukit Suban, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Jambi, itu sejak sekolah dasar telah bercita-cita menjadi tenaga kesehatan.
Ketika menyampaikan keinginannya melanjutkan pendidikan di bidang kesehatan, Kurnia sempat menghadapi keraguan dari orang-orang di sekitarnya. Kekhawatiran mengenai biaya dan kehidupan di Kota Jambi juga sempat membuatnya bimbang.



