Reses Ulfa Soroti Jalan Gelap dan Layanan Dasar Warga di Lambara

RADAR PALU - Persoalan akses jalan, penerangan, air bersih, hingga kondisi ekonomi menjadi aspirasi utama warga dalam Reses Caturwulan II Anggota DPRD Kota Palu, Ulfa, di RT 02/RW 01, Jalan Anja, Kelurahan Lambara, Kecamatan Tawaeli, Rabu (19/8/2026).
Ulfa mengatakan, reses tersebut menjadi kesempatan untuk melihat langsung kondisi masyarakat sekaligus menyerap berbagai keluhan yang selama ini dirasakan warga, khususnya terkait kebutuhan dasar yang belum terpenuhi secara optimal.
“Alhamdulillah saya bisa melakukan reses di sini sehingga saya bisa menyerap aspirasi yang memang masyarakat sini miris sekali sebenarnya,” kata Ulfa.
Baca Juga: Pemberdayaan Berbasis Tugas Kesehatan Keluarga: Strategi Membangun Kemandirian Pencegahan Tuberkulos
Ia menyebut persoalan yang paling banyak dikeluhkan warga meliputi penghasilan, ketersediaan air, kondisi jalan, serta penerangan. Menurutnya, aspirasi tersebut perlu segera didorong kepada pemerintah karena menyangkut kebutuhan dasar masyarakat.
“Insya Allah, semoga ini bisa didorong nanti ke pemerintah, bisa memperhatikan masyarakat di ujung kota ini,” ujarnya.
Ulfa menegaskan, meski berada di wilayah pinggiran Kota Palu, masyarakat Lambara tetap memiliki hak yang sama untuk mendapatkan perhatian dan pelayanan pemerintah. Ia berkomitmen memperjuangkan aspirasi tersebut melalui DPRD.
“Ini kan di ujung kota ya, masuk. Tapi mereka juga berhak mendapatkan perhatian penuh dari pemerintah. Insya Allah saya akan perjuangkan,” katanya.
Selain layanan dasar, Ulfa menyoroti kondisi jalan yang dinilai membahayakan warga, terutama mereka yang beraktivitas hingga malam hari. Minimnya penerangan membuat warga merasa khawatir saat melintasi jalan tersebut.
Menurut Ulfa, sebagian warga berjualan di pasar dan baru pulang hingga tengah malam. Kondisi jalan yang gelap dan kurang memadai dinilai dapat meningkatkan risiko terjadinya tindak kriminal serta membahayakan keselamatan warga.
“Ini bayangkan, ini bisa saja merenggut jiwa ketika pergi, kan mereka bilang jam 1, jam 12 mereka pulang menjual. Ini kan dengan jalan yang begitu ngeri sekali,” tutur Ulfa.



