
Oleh : Asep Firman Ilahi
Hilal El Niño sudah nampak terlihat sangat jelas, di dasarian II Mei indeks ini terpantau +0.97 (menjelang El Niño Moderat). Namun hujan ekstrem masih kerap mengguyur sebagian wilayah Indonesia bahkan di Sulawesi Tengah sendiri tercatat beberapa kali kejadian cuaca ekstrim menerpa di beberapa wilayah. Hal ini bukan kontradiksi, melainkan dinamika iklim tropis yang kompleks.
Fenomena El Niño bukan tombol on/off yang jika ditekan seketika mematikan hujan. Dampaknya bertahap, dan hujan ekstrem di fase awal adalah bagian dari transisi. Faktanya, iklim dan cuaca di wilayah seperti Sulawesi Tengah ini sangat kompleks. El Niño memengaruhi curah hujan secara musiman dan jangka panjang, namun hujan ekstrem harian dikendalikan oleh dinamika atmosfer jangka pendek dan lokal.
Indeks Niño 3.4 mengukur anomali suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Ketika laut memanas (Indeks Positif), atmosfer tidak langsung merespons di detik yang sama. Proses interaksi antara lautan dan atmosfer (ocean-atmosphere coupling) membutuhkan waktu berminggu-minggu hingga beberapa bulan untuk mengubah sirkulasi angin global (Sirkulasi Walker) secara signifikan hingga dampaknya mengeringkan Indonesia.
Cuaca sangat bergantung pada suplai uap air lokal. Jika perairan di sekitar Sulawesi Tengah seperti Laut Sulawesi, Selat Makassar, Teluk Tomini, dan Laut Maluku masih hangat, laju penguapan lokal akan tetap tinggi. Penguapan inilah yang menjadi "bahan bakar" utama terbentuknya awan awan konvektif yang tebal (Kumulonimbus) penghasil hujan ekstrem dan badai petir, tidak peduli seberapa hangat Pasifik Tengah saat ini. Inilah sebabnya hujan ekstrem masih muncul di beberapa daerah di Sulawesi Tengah. Fenomena ini terasa nyata, meski sinyal El Niño sudah datang, hujan deras masih terjadi di beberapa kabupaten.
Di bulan Mei ini, wilayah Donggala dan Sigi masih dilanda hujan lebat akibat pengaruh lokal Teluk Palu dan konveksi pegunungan. Namun, tren defisit hujan diprediksi mulai kuat sejak Juni. Hujan ekstrem sesekali muncul di Parigi Moutong dan Banggai, tapi pola kering sudah mulai terasa. Risiko gagal panen meningkat bila tanam mundur. Sementara Poso dan Tojo Una‑Una dengan topografi pegunungan membuat hujan lokal masih bertahan, namun debit sungai diperkirakan menurun drastis pada Agustus–September. Lain halnya Tolitoli dan Buol relatif lebih basah karena pengaruh monsun barat. Meski begitu, ancaman kekeringan tetap ada bila El Niño berlanjut hingga akhir tahun.
Kewaspadaan Ganda
Menghadapi fase transisi iklim ini memang menuntut kita untuk memiliki kewaspadaan ganda. Sangat bisa dipahami jika masyarakat merasa kebingungan, di satu sisi harus waspada banjir, namun di sisi lain harus menabung air untuk kekeringan.
Mengingat saat ini kita sudah berada di penghujung bulan Mei 2026 yang merupakan masa yang sangat krusial menjelang memasuki fase El Niño, strategi mitigasi yang diterapkan harus bersifat adaptif dan memanfaatkan hujan ekstrem saat ini sebagai modal menghadapi kemarau panjang.



