Pengemudi moge yang dikenal sebagai Bos rokok HS, Muhammad Suryo, menunjukkan tanggung jawab dan empati kepada pengendara Jupiter MX, Aab Abdullah, serta putranya, Deva.
Padahal, dalam insiden tersebut, Suryo harus kehilangan istri tercintanya, Anis Syarifah.
Baca Juga: Usai Ditangkap KPK, Harta Milik Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Bikin Melongo
Meski masih dalam suasana duka, Suryo memastikan akan menanggung seluruh biaya pengobatan Aab dan Deva hingga sembuh total.
Tak hanya itu, ia juga menjamin pendidikan Deva yang kini masih duduk di bangku SD sampai meraih gelar sarjana.
Komitmen itu disampaikan melalui utusannya, Dandan, saat menjenguk kedua korban di RSUD Wates, Selasa (3/3/2026).
Baca Juga: Industri Asuransi Sulteng Perkuat Sinergi Lewat Bukber Ramadan 1447 H
“Kami diutus Bapak Muhammad Suryo untuk menjenguk Pak Aab dan Adek Deva. Kami menyampaikan permohonan maaf karena baru bisa menjenguk sekarang, karena baru selesai prosesi pemakaman istri Pak Suryo yang menjadi korban akibat kecelakaan ini,” ujar Dandan.
Selain biaya medis, Suryo juga berjanji memberikan satu unit sepeda motor baru kepada Aab serta menanggung kebutuhan hidup keluarga selama masa pemulihan.
Saat ini, kondisi Aab dan Deva dilaporkan berangsur membaik usai menjalani operasi. Sempat direncanakan dirujuk ke rumah sakit lain, keluarga memilih tetap dirawat di RSUD Wates dengan pertimbangan jarak dan pelayanan yang dinilai sudah memadai.
Baca Juga: Wamendagri Bima: Penugasan Praja IPDN di Aceh Tamiang Jadi Misi Kemanusiaan Sekaligus Kebangsaan
Di tengah perawatan, Suryo juga menyempatkan diri melakukan panggilan video dengan Aab. Dengan suara bergetar, ia menyampaikan permintaan maaf.
“Bapak, saya mohon maaf ya. Kalau istri saya ada salah, saya mohon maaf. Tidak ada yang menginginkan semua ini. Semoga kita bisa jadi keluarga. Mulai hari ini saya menganggap panjenengan keluarga saya,” ucapnya.
Istri Aab, Ratih, menerima niat baik tersebut. Ia menyampaikan belasungkawa atas wafatnya istri Suryo dan menegaskan keluarganya memilih berdamai dengan musibah yang terjadi.
“Saya inginnya damai. Kasihan, nggak ada yang mau kejadian ini. Kita sama-sama korban. Nggak ada yang salah. Kami juga minta maaf karena mendengar istri Bapak meninggal dunia. Kami saling memaafkan,” kata Ratih.
Di tengah duka mendalam, peristiwa ini justru menghadirkan pelajaran tentang tanggung jawab, empati, dan pilihan untuk saling memaafkan. (*)
Editor : Agung Sumandjaya