RADAR PALU – Tradisi ngabuburit di Kota Palu selalu menghadirkan suasana khas setiap Ramadan. Sejak sore hari, kawasan Kampung Nelayan hingga Kelurahan Lere dipadati warga yang ingin menikmati semilir angin dan panorama Teluk Palu.
Namun, satu lokasi yang tak pernah sepi pengunjung adalah Masjid Arqam Baburahman atau yang lebih dikenal sebagai Masjid Terapung Palu.
Meski bangunannya rusak berat akibat gempa dan tsunami 28 September 2018, masjid yang berdiri di pesisir Teluk Palu dekat Pantai Talise itu tetap menjadi magnet bagi warga.
Struktur bangunan yang sebagian tenggelam justru menghadirkan suasana reflektif bagi masyarakat yang datang untuk menanti waktu berbuka.
Masjid tersebut dibangun pada 19 Januari 2011 dan rampung awal 2012. Keindahannya kala itu menjadikannya ikon religi sekaligus destinasi wisata rohani di ibu kota Sulawesi Tengah.
Kini, setiap sore Ramadan, warga tampak duduk di atas bebatuan, berbincang santai, hingga mengabadikan momen dengan latar belakang masjid dan hamparan laut. Suasana tenang berpadu dengan cahaya senja menciptakan pemandangan yang sarat makna.
“Saya selalu sempatkan datang ke sini setiap Ramadan. Dulu masjid ini megah sekali, sekarang memang sudah rusak, tapi suasananya tetap bikin hati tenang,” ujar Lina Apriani saat ditemui, Selasa (24/2) sore.
Ia menambahkan, kebersamaan bersama keluarga menjadi alasan utama memilih lokasi tersebut. “Sambil menunggu azan magrib, kami foto-foto dulu. Anak-anak juga senang duduk di batu sambil lihat laut. Rasanya beda kalau ngabuburit di sini,” katanya.
Bagi warga Palu, Masjid Terapung bukan sekadar bangunan, melainkan saksi sejarah dan ruang untuk mengenang sekaligus mensyukuri waktu yang terus berjalan.
Editor : Wahono.