Cafe miliknya, Noesis Coffee, berdiri pada 9 Mei 2025 di Jalan Suprapto, Palu Timur, dan sejak hari pertama langsung menarik perhatian generasi muda. Karena konsepnya yang santai dan dekat dengan karakter Gen Z.
Pria yang dikenal dengan nama Aldi Maddukelleng ini bercerita bahwa ketertarikannya membangun cafe bukan datang dari dunia kopi. Ia hanya ingin punya ruang berkumpul untuk dirinya dan teman-teman.
“Awalnya saya cuma pengen ada tempat nongkrong buat teman-teman dan diri saya sendiri. Lama-lama saya pikir, kenapa nggak dijadikan coffee shop sekalian,” ujar Aldi sambil tersenyum.
Nama Noesis sendiri muncul secara tidak sengaja saat masa kuliah. Mendengar istilah itu dari dosen, ia kemudian mencarinya di internet dan jatuh hati dengan maknanya. Kata tersebut akhirnya ia jadikan identitas usahanya.
Perjalanan membangun Noesis tidak selalu mulus. Aldi mengaku sempat dipenuhi keraguan di awal, mulai dari takut rugi hingga takut tidak mendapat pengunjung. Rasa overthinking itu membuat proses persiapan terasa berat, namun ia akhirnya menyadari pentingnya belajar pemasaran dan membangun relasi. Menurutnya, sikap baik terhadap orang-orang di sekitar juga ikut menentukan keberlangsungan usahanya.
Saat beroperasi, menu Noesis Coffee hadir dengan harga terjangkau, mulai dari Rp18.000 hingga Rp26.000. Menu andalannya antara lain Signature Kells dan Signature Noesis. Tidak hanya kopi, pilihan minuman non-kopi seperti matcha dan strawberry cheesecake latte menjadi favorit pengunjung. Sementara itu, untuk camilan tersedia roti cream keju, roti pisang coklat, serta berbagai keripik titipan UMKM lokal.
Aldi mengungkapkan bahwa dukungan teman-temannya menjadi alasan besar ia terus bertahan dan tidak menyerah. Banyak yang mendorongnya agar tidak berhenti di tengah jalan setelah proses panjang yang ia lalui. Dari situ pula muncul tekad untuk menjaga konsistensi dan terus mengembangkan Noesis. Bahkan konsep interior cafe ini berkembang secara spontan dari waktu ke waktu. Setiap kali datang ke lokasi, selalu muncul ide baru yang membuat tampilan Noesis berubah mengikuti proses kreatifnya.
Menurut Aldi, keberhasilan Noesis tidak lepas dari pelayanan yang tulus kepada pelanggan. Media sosial tetap ia gunakan, terutama Instagram @kopinoesis.id, tetapi baginya pengalaman langsung pengunjung jauh lebih berkesan. Untuk saat ini, pemesanan masih dilakukan secara langsung karena ia masih ingin memastikan alur operasional berjalan stabil sebelum membuka layanan daring.
Noesis beroperasi setiap hari dengan jam buka berbeda: Senin hingga Kamis pukul 11.00–00.00, dan Jumat hingga Minggu pukul 16.00–00.00. Di balik kesibukannya menjalankan cafe, Aldi menekankan pentingnya berbagi rezeki. Ia percaya keberkahan usaha datang dari banyak memberi, bukan hanya pada program khusus seperti Jumat Berkah, tetapi juga pada setiap kesempatan yang ada.
Ke depan, ia berharap Noesis dapat berkembang lebih luas dan hadir di berbagai kota di Palu. Impiannya adalah menjadikan Noesis inspirasi bagi generasi muda lain agar berani memulai dari hal kecil. “Jangan takut mulai dari hal kecil. Karena dari hal kecil itu bisa jadi besar. Saya sendiri dulu cuma ingin tempat nongkrong, tapi lihat sekarang, Alhamdulillah bisa jadi cafe beneran. Walaupun kecil, harus tetap disyukuri,” pesannya.
Noesis Coffee menjadi bukti bahwa ide spontan, jika dijalankan dengan tekad, keberanian, dan konsistensi, dapat tumbuh menjadi bisnis yang berarti. (mg2)
Editor : Nur Soima Ulfa