Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

GEM Group Dorong Hilirisasi Nikel, Perkuat Posisi RI di Rantai Pasok Baterai Global

Muhammad Awaludin • Jumat, 27 Maret 2026 | 15:51 WIB

Kawasan industri QMB di Morowali yang menjadi pusat pengolahan nikel untuk mendukung hilirisasi nikel Indonesia dan produksi baterai kendaraan listrik.
Kawasan industri QMB di Morowali yang menjadi pusat pengolahan nikel untuk mendukung hilirisasi nikel Indonesia dan produksi baterai kendaraan listrik.

RADAR PALU - Hilirisasi nikel Indonesia terus dipercepat seiring meningkatnya kebutuhan global terhadap material baterai kendaraan listrik, dengan GEM Group menjadi salah satu pemain utama.

Indonesia dikenal sebagai pemilik cadangan nikel terbesar di dunia. Namun selama ini, pemanfaatannya masih didominasi produk stainless steel dan ekspor bahan mentah.

 

Kini, arah industri mulai bergeser. Hilirisasi nikel Indonesia difokuskan pada produk bernilai tambah tinggi, terutama bahan baku baterai kendaraan listrik.

Melalui anak usahanya, PT QMB New Energy Materials, GEM mengembangkan teknologi pengolahan berbasis hidrometalurgi.

Salah satu teknologi utama yang digunakan adalah High Pressure Acid Leach (HPAL), yang memungkinkan ekstraksi nikel, kobalt, dan mangan dalam satu proses.

Dalam kondisi sebelumnya, teknologi ini sempat menghadapi tantangan biaya tinggi dan profitabilitas, baik di Indonesia maupun global.

GEM mengklaim mampu meningkatkan efisiensi industri. Investasi per 10.000 ton nikel ditekan hingga di bawah USD 200 juta, dengan biaya produksi kurang dari USD 10.000 per ton.

Chairman GEM Group, Xu Kai Hua, mengatakan teknologi ini juga mampu mengolah bijih nikel kadar rendah yang sebelumnya tidak dimanfaatkan.

“Dulu bijih laterit kadar rendah di Indonesia banyak yang tidak dimanfaatkan. Sekarang kami bisa mengolahnya,” ujarnya.

Pengembangan fasilitas terintegrasi dari hulu ke hilir menjadi kunci dalam hilirisasi nikel Indonesia.

Mulai dari pengolahan bijih hingga produksi nikel sulfat dan prekursor baterai, seluruh proses dilakukan dalam satu ekosistem industri.

Langkah ini memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok baterai global, dari sebelumnya hanya pemasok bahan mentah menjadi pemain strategis.

Sepanjang 2024–2025, kawasan industri mencatat ekspor sekitar USD 2,5 miliar.

Selain itu, kontribusi pajak mencapai USD 400 juta dan menyerap lebih dari 10.000 tenaga kerja.

Angka ini menunjukkan bahwa hilirisasi nikel Indonesia tidak hanya berdampak pada industri, tetapi juga ekonomi nasional. 

GEM juga memperkuat kolaborasi riset dengan membangun fasilitas di Institut Teknologi Bandung dengan investasi sekitar USD 30 juta.

Laboratorium ini dilengkapi lebih dari 300 perangkat untuk mendukung riset metalurgi hingga pengembangan material baterai.

Langkah ini diharapkan mempercepat inovasi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap teknologi luar negeri.

Dengan penguatan teknologi, investasi, dan riset, hilirisasi nikel Indonesia kian menunjukkan arah menuju kemandirian industri dan peran strategis dalam ekosistem energi global.***

Editor : Muhammad Awaludin
#kendaraan listrik #industri baterai #GEM Group #Radar Palu #morowali #Hilirisasi Nikel Indonesia