RADAR PALU - Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah berpotensi mendorong kenaikan harga BBM di Indonesia. Pemerintah dihadapkan pada dilema antara menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas fiskal.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk penutupan Selat Hormuz oleh Iran, memicu lonjakan harga minyak dunia. Dampaknya mulai dirasakan sejumlah negara melalui kenaikan harga bahan bakar minyak.
Kondisi ini diperkirakan ikut menekan Indonesia, mengingat ketergantungan terhadap harga minyak global masih cukup tinggi.
Ekonom Universitas Negeri Surabaya (UNESA), , menilai kenaikan harga BBM merupakan langkah rasional dalam situasi saat ini.
Menurutnya, kebijakan tersebut diperlukan untuk menjaga stabilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) agar tidak tertekan lebih dalam.
“Harga minyak dunia berpotensi menembus di atas USD 100 per barel, jauh dari asumsi dalam APBN 2026 sebesar USD 70 per barel,” ujarnya, Jumat (27/3/2026).
Hendry menyebut pemerintah berada dalam posisi sulit. Menahan harga BBM bisa menjaga daya beli masyarakat, tetapi berisiko memperlebar defisit anggaran.
Sebaliknya, kenaikan harga BBM dapat menekan inflasi, bahkan berpotensi memicu stagflasi jika tidak diimbangi kebijakan perlindungan sosial.
“Kondisi geopolitik sekarang membawa pemerintah dalam dilema yang sulit,” jelasnya.
Kenaikan harga minyak mentah berdampak langsung pada beban subsidi energi. Setiap kenaikan USD 1 per barel diperkirakan menambah beban hingga Rp 10,3 triliun.
Selain itu, defisit APBN juga berpotensi melebar sekitar Rp 6,8 triliun untuk setiap kenaikan tersebut.
Jika harga BBM tidak disesuaikan, beban fiskal dinilai akan semakin berat dan berisiko melampaui batas aman defisit 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Dalam skenario harga minyak di kisaran USD 85–92 per barel, harga BBM jenis Pertalite diperkirakan naik 5–10 persen menjadi Rp 10.500 hingga Rp 11.000 per liter.
Sementara itu, solar subsidi diprediksi naik ke kisaran Rp 7.150 hingga Rp 7.500 per liter dari sebelumnya Rp 6.800.
Namun, jika harga minyak dunia menembus USD 100 per barel dalam waktu lama, kenaikan harga BBM bisa lebih tinggi.
Pertalite berpotensi naik hingga 15–20 persen menjadi Rp 11.500–Rp 12.000 per liter. Sedangkan solar bisa mencapai Rp 7.800–Rp 8.200 per liter.
Hendry mengingatkan, kenaikan harga BBM tanpa diikuti bantuan sosial dapat berdampak serius terhadap perekonomian.
Daya beli masyarakat berpotensi melemah akibat kenaikan harga barang, sementara pendapatan tidak meningkat.
“Kenaikan harga tanpa kompensasi social safety net akan menyebabkan stagflasi,” tegasnya.
Di tengah tekanan global, kebijakan harga BBM menjadi faktor krusial yang akan menentukan stabilitas ekonomi nasional. Pemerintah dituntut mengambil langkah yang tepat agar dampaknya tetap terkendali.***
Editor : Muhammad Awaludin