RADAR PALU - Ada waktu ketika kepala terasa penuh. Masalah datang bersamaan, pikiran berputar tanpa henti, dan malam terasa lebih panjang dari biasanya.
Dalam situasi seperti itu, Nabi Muhammad SAW mengajarkan doa yang singkat, tapi sarat makna.
Doa tersebut berbunyi:
يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ
Ya Hayyu Ya Qayyum, bi rahmatika astaghith
Artinya: Wahai Dzat Yang Maha Hidup, Wahai Dzat Yang Maha Berdiri Sendiri, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan.
Doa ini diriwayatkan dalam Jami` at-Tirmidhi. Sahabat Anas ibn Malik menyebutkan, ketika suatu perkara membuat Nabi Muhammad SAW merasa gelisah, beliau membaca kalimat tersebut.
Kalimatnya pendek. Namun memanggil dua nama Allah yang agung: Al-Hayy dan Al-Qayyum.
Al-Hayy berarti Maha Hidup, tidak pernah lelah, tidak pernah tidur.
Al-Qayyum berarti Maha Berdiri Sendiri, tidak bergantung pada siapa pun, sementara seluruh makhluk bergantung kepada-Nya.
Di tengah tekanan hidup—soal pekerjaan, ekonomi, relasi, atau sekadar kecemasan yang sulit dijelaskan—doa ini menjadi pengingat sederhana: ada tempat bergantung yang tidak pernah goyah.
Tidak ada jumlah khusus untuk membacanya. Ucapkan sebanyak yang dibutuhkan, hingga hati terasa lebih ringan.
Dalam tradisi Islam, doa bukan hanya permintaan. Ia juga cara menenangkan diri, mengatur napas, dan menata kembali keyakinan bahwa setiap kesulitan berada dalam kuasa Allah.
Kadang, yang dibutuhkan bukan kalimat panjang. Cukup satu seruan, diulang perlahan, sampai pikiran yang riuh mulai reda.***
Editor : Muhammad Awaludin