Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Ramadan di Belgia: Puasa 18 Jam dan Iftar 5 Km Satukan Ribuan Warga

Muhammad Awaludin • Sabtu, 21 Februari 2026 | 05:30 WIB

Suasana buka puasa bersama dengan meja panjang di Belgia saat Ramadan, mempertemukan ribuan warga dalam satu hamparan kebersamaan.
Suasana buka puasa bersama dengan meja panjang di Belgia saat Ramadan, mempertemukan ribuan warga dalam satu hamparan kebersamaan.

RADAR PALU - Ramadan di Belgia tak sekadar soal menahan lapar dan dahaga. Di negara dengan durasi siang bisa mencapai 18 jam saat musim panas, umat Muslim menjalani ibadah dengan tantangan waktu yang lebih panjang.

Namun di balik itu, ada momen kebersamaan yang mencuri perhatian: buka puasa bersama dengan hamparan meja hingga sekitar 5 kilometer.

 

 

 

Konten tentang Ramadan di Belgia yang dibagikan akun YouTube @CeritaLagent memperlihatkan bagaimana umat Muslim di negara Eropa Barat itu menjalani ibadah di tengah status sebagai minoritas. 

Siang hari di Belgia saat musim panas bisa berlangsung 16–18 jam. Artinya, waktu berbuka bisa jatuh mendekati pukul 22.00 waktu setempat.

Meski berat, aktivitas warga tetap berjalan normal. Sekolah, kantor, hingga transportasi publik tidak menyesuaikan dengan waktu puasa. 

Namun ketika malam tiba, suasana berubah. 

Masjid-masjid seperti Masjid Agung Brussels dipenuhi jamaah. Salat tarawih dan tadarus Al-Qur’an menjadi penguat spiritual di tengah lingkungan multikultural.

Generasi kedua dan ketiga Muslim Belgia juga tumbuh dengan dua identitas sekaligus: warga Eropa dan Muslim. Ramadan menjadi momentum memperkuat jati diri sekaligus membangun dialog sosial.

Salah satu momen paling menarik adalah acara iftar bersama yang membentang hingga sekitar 5 kilometer. Ribuan orang duduk dalam satu barisan panjang, berbagi kurma dan makanan berbuka.

Tak hanya Muslim, warga non-Muslim juga turut hadir.

Iftar panjang itu bukan sekadar tradisi, melainkan simbol keterbukaan dan toleransi. Percakapan lintas budaya mengalir di antara deretan meja yang memanjang di ruang publik.

Ramadan di Belgia menunjukkan bahwa ibadah tetap bisa dijalankan secara khusyuk meski berada di tengah masyarakat sekuler. 

Minoritas, tetapi terorganisir. Berbeda, namun tetap menjadi bagian dari ruang sosial yang sama.

Komunitas Muslim di Eropa terus berkembang dalam beberapa dekade terakhir. Ramadan menjadi salah satu momen paling terlihat dalam kalender sosial, sekaligus ruang perjumpaan lintas budaya.

Di Belgia, Ramadan bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga bagian dari dinamika sosial modern.***

Editor : Muhammad Awaludin
#Radar Palu #Masjid Agung Brussels #Ramadan Belgia #Muslim minoritas di Eropa #Iftar 5 kilometer #Puasa 18 jam Eropa