RADAR PALU- Kabut tipis masih menggantung saat lima lelaki itu menyesap kopi panas di halaman warkop Sudimari K3 Jalan MT Haryono, Kelurahan Besusu Tengah, Kecamatan Palu Timur. Kursi plastik berderit pelan, namun cerita yang mereka bawa jauh lebih “keras” dari suara itu. Di hadapan wartawan Radar Palu Jawa Pos, kisah perjalanan panjang selama 16 hari 15 malam pun mengalir tentang hutan lebat, jalur tak ramah, dan sebuah lintasan yang kini mereka sebut sebagai jalur “Iblis”.
Mereka adalah Abd Aziz, Rahmansa (Ken) dan Fahim, tiga pendaki asal Sulawesi Tengah dari komunitas pecinta alam Spalacipa Tadulako Sigalei, bersama dua pendaki luar daerah, Amsir Sinaga dan Ganjar yang akrab disapa Mas Greg. Berlima, mereka mencatatkan diri sebagai tim kedua yang berhasil menaklukkan jalur Gunung Katopasa (2865 mdpl) lintas Kondoruang (2907 mdpl) di Kabupaten Tojo Una-Una.
Perjalanan itu tidak dimulai di hutan, melainkan di Kota Palu. Di sekretariat Spalacipa Tadulako Sigalei, peta dibentangkan, jalur dipelajari, dan logistik disusun dengan cermat. Tidak ada ruang untuk kesalahan dalam ekspedisi seperti ini. Segala sesuatu harus diperhitungkan, mulai dari kebutuhan makanan, peralatan navigasi, hingga strategi bertahan di tengah cuaca ekstrem.
Tanggal 7 April 2026 menjadi titik awal perjalanan. Setelah memastikan seluruh persiapan matang dan melaporkan rencana ekspedisi kepada aparat kepolisian serta pemerintah desa setempat, tim bergerak menuju Kabupaten Tojo Una-Una. Malam itu, tepat pukul 21.41 WITA, mereka tiba di Desa Mire, Kecamatan Ulubongka. Di sana, mereka beristirahat sejenak, memulihkan tenaga sebelum benar-benar masuk ke dunia yang berbeda keesokan harinya.
Baca Juga: Optimalkan Potensi Lokal, Serahkan Pengelolaan Destinasi Wisata Permandian
Pagi datang, dan langkah pertama pun dimulai. Perlahan mereka meninggalkan perkampungan, memasuki jalur yang semakin lama semakin sunyi. Dari pos satu ke pos berikutnya, mereka menapaki jalur yang belum banyak dijamah manusia atau disebut jalur "Sunyi". Setiap langkah dicatat, setiap titik koordinat direkam sebagai bagian dari dokumentasi perjalanan.
Namun, apa yang mereka hadapi jauh dari kata mudah. “Awalnya kami targetkan selesai dalam 14 hari. Tapi cuaca mengubah semuanya,” ujar Mas Greg, mengenang hari-hari berat di tengah rimba, Senin (27/4).
Hujan menjadi “teman” yang tak diundang. Hampir setiap hari, langit seolah tak pernah benar-benar cerah. Tanah berubah menjadi lumpur licin, jalur semakin sulit dilalui, dan setiap langkah terasa seperti melawan alam. Sepatu mereka tak pernah benar-benar kering. Bahkan, untuk sekadar menyalakan api pun menjadi tantangan.
“Lilin saja tidak bisa menyala karena lembap. Itu momen yang paling berat, saat tubuh dingin tapi kami tidak bisa menghangatkan diri,” tambahnya.
Baca Juga: Lonjakan Wisatawan saat Libur Panjang, Sektor Kuliner dan Transportasi Sulteng Terdongkrak
Di titik-titik tertentu, mereka terpaksa berhenti. Bukan karena menyerah, tetapi karena alam memang tidak bisa dipaksa. Mereka belajar menunggu, menunggu hujan reda, menunggu kondisi memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan.
Namun di balik kerasnya perjalanan, ada pula momen-momen yang tak terlupakan. Salah satunya ketika mereka menemukan sebuah parang tua di tengah jalur. Parang itu diduga milik pendaki sebelumnya yang pernah mencoba menembus lintasan yang sama.
“Itu seperti tanda bahwa jalur ini memang bukan jalur biasa. Ada jejak orang lain yang juga pernah berjuang di sini,” kata Aziz.
Hari demi hari berlalu, tenaga terkuras, mental diuji. Jalur yang mereka lintasi semakin liar, semakin tidak bersahabat. Itulah yang kemudian membuat mereka sepakat menyebutnya sebagai jalur “Iblis”, bukan karena hal mistis, melainkan karena tingkat kesulitannya yang ekstrem.
Meski begitu, semangat mereka tidak pernah padam. Satu sama lain saling menguatkan. Dalam kondisi seperti itu, kebersamaan menjadi kunci utama. Tidak ada yang berjalan sendiri. Setiap langkah adalah hasil kerja tim.
Kabar baik akhirnya datang pada 24 April 2026. Melalui sambungan handy talky (HT) yang terhubung dengan Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Kabupaten Tojo Una-Una, mereka mengabarkan telah tiba di puncak Kondoruang. Sebuah pencapaian yang tidak hanya soal menaklukkan gunung, tetapi juga menaklukkan diri sendiri.
Baca Juga: Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sulteng Serahkan Bantuan Desa Wisata Touna
Dari puncak, perjalanan belum usai. Mereka masih harus turun menuju kaki gunung untuk menuntaskan ekspedisi. Meski lelah, langkah mereka kini terasa lebih ringan. Ada rasa lega, ada kebanggaan, dan tentu saja rasa syukur.
Sesampainya di perkampungan di kaki Gunung Kondoruang, perjalanan itu sejatinya telah selesai. Namun bagi Mas Greg, ada satu rencana terakhir yang tidak ingin dilewatkan, menutup ekspedisi dengan cara yang berbeda.
Ia mengajak tim menikmati keindahan alam di Desa Takibangke, Dusun Linte Tua. Di sana, mereka menemukan sebuah Sungai yang diapit perbukitan hijau di kanan dan kiri. Sebuah pemandangan yang kontras dengan kerasnya jalur yang baru saja mereka lewati.
"Itu harus bisa dikembangkan oleh Pemerintah dalam sektor wisata, indah sekali sekali, saat saya diatas perahu kayu melintasi diantara perbukitan, lelah itu benar-benar terbayarkan,"ujar Mas Greg.
Di tepi Sungai itu, perjalanan panjang mereka seakan menemukan maknanya. Bahwa setiap tantangan, setiap rasa lelah, setiap ketakutan yang berhasil dilalui, semuanya terbayar dengan pengalaman yang tak ternilai.
Ekspedisi ini bukan hanya tentang mendaki gunung. Ini adalah cerita tentang keberanian, tentang ketekunan, dan tentang bagaimana manusia belajar berdamai dengan alam. Jalur “Iblis” Katopasa-Kondoruang (K2) kini bukan sekadar lintasan ekstrem, tetapi juga simbol dari perjalanan batin para pendaki yang pernah menapakinya.
Editor : Wahono.