Jembatan Wombo Kalonggo Disebut “Tol Desa”, Ini yang Membuat Jalurnya Penting

Muhammad Awaludin • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 16:33 WIB
Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid saat meninjau pembangunan Jembatan Wombo Kalonggo di Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala. FOTO: Biro Adpim Sulteng
Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid saat meninjau pembangunan Jembatan Wombo Kalonggo di Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala. FOTO: Biro Adpim Sulteng

 

RADAR PALU– Sebuah jembatan di Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, mendapat sebutan tak biasa. Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid menyebut Jembatan Wombo Kalonggo sebagai “tol desa”.

Bukan karena bentuknya menyerupai jalan bebas hambatan. Istilah itu merujuk pada fungsi jembatan yang dinilai menjadi jalur penting bagi mobilitas warga di kawasan tersebut.

Anwar menyampaikan hal itu saat meninjau pembangunan Jembatan Wombo Kalonggo, Minggu (4/10).

Baca Juga: Sepekan di Morowali Ditemukan Bayi di Jembatan dan Tempat Sampah

Menurut dia, jembatan tersebut tidak hanya menghubungkan Desa Wombo dan Desa Wombo Kalonggo. Akses itu juga berkaitan dengan pergerakan warga menuju Desa Wombo Mpanau dan wilayah di sekitarnya.

“Ini jalur yang sangat vital bagi masyarakat antara dua desa. Ini sama dengan Berani Lancar, namanya tol desa,” kata Anwar.

Bagi masyarakat, keberadaan jalan dan jembatan bukan semata soal konstruksi. Kelancaran akses ikut menentukan seberapa mudah warga menuju pusat ekonomi, sekolah, fasilitas pelayanan publik maupun menjalankan aktivitas sehari-hari.

Baca Juga: RAPBD Sulteng 2027 Mulai Dibahas, Ujian Pemerintah Ada di Prioritas Anggaran

Dari sisi konektivitas wilayah, Pemprov Sulteng juga melihat jalur Siniu–Pantolon sebagai salah satu alternatif yang dapat memperbanyak pilihan akses dari kawasan tersebut.

Gagasan itu berkaitan dengan kondisi lalu lintas di jalur Kebun Kopi. Ketika terjadi kepadatan, akses melalui Siniu maupun Sausu dapat menjadi pilihan lain.

“Kalau Kebun Kopi macet, bisa lewat Siniu, bisa lewat Sausu,” ujar Anwar.

Jalur alternatif tersebut juga dikaitkan dengan rencana pengembangan kawasan industri, termasuk kawasan pengolahan baterai dan industri pendukung di Siniu.

Dengan demikian, pembangunan konektivitas di wilayah Tanantovea tidak hanya menyangkut satu jembatan. Infrastruktur tersebut ditempatkan dalam jaringan akses yang lebih luas, dari mobilitas antarwilayah hingga jalur menuju kawasan ekonomi.

Dalam kunjungan itu, Pemprov Sulteng juga menyerahkan 1.500 paket sembako kepada masyarakat di tiga desa. Masing-masing desa menerima 500 paket.

Baca Juga: Sekkab Banggai Ikuti Rakor Pengendalian Inflasi, Dampak Kenaikan BBM dan Tarif Penerbangan

Sejumlah program lain turut disampaikan, termasuk Berani Cerdas Kuliah yang disebut telah menjangkau sekitar 47 ribu mahasiswa dan Berani Sehat yang melayani sekitar 270 ribu masyarakat.

Masyarakat juga dapat menyampaikan pengaduan melalui layanan Berani Samporoa di nomor 0811-6662-222 yang disebut tersedia selama 24 jam.

Namun, di Tanantovea, perhatian utama hari itu berada pada sebuah jembatan yang diharapkan membuka akses lebih lancar bagi warga. Sebutan “tol desa” yang diberikan gubernur pada akhirnya menggambarkan satu hal: nilai sebuah jembatan tidak hanya terletak pada bangunannya, tetapi pada aktivitas warga yang bisa bergerak lebih mudah setelah akses itu tersedia.*** 

Editor : Muhammad Awaludin
Jembatan Wombo Kalonggo Tanantovea Infrastruktur Sulteng Anwar Hafid donggala