RADAR PALU - Puluhan warga Desa Tanauge, Kecamatan Petasia, Kabupaten Morowali Utara (Morut), menggeruduk kantor PT Nadesico Nickel Industry (NNI), Jumat (2/10/2026), setelah seorang tenaga kerja asing (TKA) asal Tiongkok disebut mengusir warga dari kawasan perusahaan.
Warga yang tergabung dalam Forum Kesejahteraan Masyarakat Desa Tanauge itu awalnya datang untuk menyampaikan aspirasi terkait pemberdayaan masyarakat lokal, penyerapan tenaga kerja, program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), dan kemitraan.
Namun, kedatangan sekitar 30 warga yang didominasi perempuan tersebut sempat memanas setelah terjadi ketegangan dengan seorang karyawan asing asal Tiongkok di kawasan kantor PT NNI.
Baca Juga: Kerja Sama TNI Polri dan Masyarakat Berhasil Padamkan Karhutla di Dampelas
Ketua Forum Kesejahteraan Masyarakat Desa Tanauge, Syukur, mengatakan warga mendatangi perusahaan karena upaya komunikasi sebelumnya belum menghasilkan pertemuan dengan manajemen.
"Jadi kita ada persoalan. Lahirlah forum kesejahteraan masyarakat yang ada di Desa Tanauge," kata Syukur saat dihubungi Radar Palu usai aksi.
Menurut Syukur, forum tersebut dibentuk sebagai wadah masyarakat untuk menyampaikan aspirasi kepada perusahaan yang beroperasi di sekitar Desa Tanauge.
Baca Juga: Perkuat Sinergi Lintas instansi melalui Empat Kesepakatan Kerja Sama
Sebelum mendatangi kantor PT NNI, pengurus forum telah berkomunikasi dengan pihak perusahaan terkait rencana pertemuan. Namun, warga kemudian mendapat informasi bahwa pertemuan tidak dapat berlangsung karena pihak perusahaan memiliki agenda lain.
Kondisi itu sempat memunculkan keinginan warga melakukan pemalangan. Namun, pengurus forum meminta masyarakat menahan diri dan tetap mengedepankan komunikasi.
"Kami para pengurus yang ada tidak inginkan hal-hal yang seperti begitu. Karena kan kita selalu mengedepankan komunikasi," ujar Syukur.
Baca Juga: Kasus Kekerasan Seksual di Luwuk Timur, Polresta Banggai Tahan Seorang Pria
Warga akhirnya memilih datang langsung ke kantor PT NNI untuk menyampaikan aspirasi.
Ketegangan terjadi ketika warga tiba di kawasan perusahaan. Pihak keamanan meminta hanya perwakilan masyarakat yang masuk untuk berdiskusi.
Warga kemudian meminta seluruh masyarakat yang datang ikut masuk agar aspirasi dapat disampaikan secara langsung.
Baca Juga: Diterjang Gelombang Tinggi, KM Empat Bersaudara Karam di Perairan Desa Bunga
Situasi semakin tegang ketika seorang karyawan asing asal Tiongkok melintas di tengah kerumunan warga.
Syukur mengatakan karyawan tersebut melakukan tindakan yang dianggap warga sebagai upaya mengusir mereka. Tindakan itu kemudian memicu reaksi warga hingga terjadi pengejaran.
Karyawan tersebut kemudian masuk ke dalam kantor perusahaan.
Baca Juga: AMCF Bangun Rumah Layak Huni untuk Warga Duafa di Desa Biak
"Spontanitas kemarahan warga itu tidak sampai berujung pada aksi pemukulan maupun perusakan properti perusahaan. Alhamdulillah itu tidak sampai terjadi," katanya.
Dalam sebuah video yang diunggah akun di media sosial, nampak situasi kecau. Mereka berusaha mengejar TKA tersebut.
"Kita ini mau datang baik-baik, masa diusir begini," kata seorang warga di video itu.
Baca Juga: Ancaman Kekeringan, Dinas TPH Optimistis Produksi Padi Sulteng Tetap Stabil
Syukur memastikan kedatangan warga bukan untuk mencari keributan. Warga, kata dia, ingin menyampaikan aspirasi terkait keberadaan perusahaan dan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat Desa Tanauge.
Syukur mengatakan masyarakat berharap PT NNI memberikan ruang lebih besar bagi warga lokal, terutama dalam akses lapangan kerja.
Menurut dia, posisi Desa Tanauge yang berada dekat dengan kawasan industri membuat masyarakat berharap keberadaan perusahaan juga memberikan manfaat langsung bagi warga setempat.
Baca Juga: Sekolah Lansia Jadi Wadah Belajar dan Berdaya bagi 456 Lansia di Sulteng
"Kita ini boleh dibilang desa yang paling terdampak," kata Syukur.
Karena itu, forum meminta perusahaan memperhatikan masyarakat lokal dalam kebijakan ketenagakerjaan.
Syukur mengatakan efisiensi perusahaan tetap perlu berjalan, tetapi tidak menutup kesempatan masyarakat sekitar memperoleh akses terhadap lapangan kerja.
Baca Juga: BRI Gebyar Lelang 2026 Tawarkan 5.000 Aset Properti di 74 Lokasi, KPR Mulai 3,17 Persen
Selain tenaga kerja lokal, forum juga meminta PT NNI memperkuat program CSR dan membuka pola kemitraan dengan masyarakat Desa Tanauge.
Forum Kesejahteraan Masyarakat Desa Tanauge bahkan menawarkan sejumlah kegiatan yang dapat dikerjakan melalui kemitraan dengan perusahaan.
Salah satunya pengelolaan limbah non-B3.
Baca Juga: Menjangkau Siberut, Kementerian UMKM Perkuat Wirausaha Terdampak Bencana
"Contohnya pengelolaan limbah. Kami berharap kegiatan ini bisa dikelola melalui kemitraan dengan pihak perusahaan," ujarnya.
Menurut Syukur, kemitraan tersebut dapat membuka sumber pendapatan baru bagi masyarakat sekaligus membuat program pemberdayaan berjalan lebih berkelanjutan.
Forum juga mendorong agar program perusahaan menyentuh kebutuhan masyarakat, termasuk sarana dan fasilitas umum desa.
Baca Juga: Mahasiswa Ditemukan Meninggal Dunia di Kamar Kost Ayam Jago Tondo
Syukur mencontohkan kebutuhan listrik masyarakat Desa Tanauge. Menurut dia, terdapat hampir 200 titik sambungan listrik, termasuk fasilitas umum seperti balai desa dan musala.
Namun, jaringan listrik yang tersedia masih terbatas sehingga gangguan pasokan masih terjadi di sejumlah titik.
Kebutuhan internet juga menjadi rencana forum tersebut. Jika pola kemitraan berjalan, hasilnya dapat digunakan untuk pengadaan layanan internet seperti Starlink.
Baca Juga: Dokumen Asli Surat Bupati Sigi Ditemukan Jadi Bungkus Nasi Pecel di Jakarta, Bupati Terkejut
Karena itu, masyarakat berharap program CSR dan kemitraan PT NNI tidak berhenti pada kegiatan seremonial.
Ketegangan akhirnya mereda setelah Cipta, yang disebut sebagai perwakilan perusahaan dari Jakarta bagian external relation, membuka ruang dialog dengan warga.
"Saya meminta maaf atas kesalahpahaman. Untuk itu saya datang kesini untuk berbicara dengan perwakilan. Jadi kami mohon sabar. Kita orang timur, baik-baik saja kita bicara, boleh ya ibu-ibu," kata perwakilan PT NNI dalam video itu.
Baca Juga: Tokoh Gereja Dukung Penuh Kerja Dakwah Prof Zainal Abidin Merawat Toleransi Sulawesi Tengah
Syukur kemudian meminta masyarakat menahan diri agar penyampaian aspirasi tetap berjalan.
Warga diarahkan masuk ke sebuah ruangan untuk berdiskusi bersama pihak perusahaan.
Dalam pertemuan tersebut, forum kembali menjelaskan tujuan pembentukan Forum Kesejahteraan Masyarakat Desa Tanauge sebagai wadah untuk menjembatani aspirasi masyarakat dengan perusahaan.
Baca Juga: Muhammad Basir Cyio Bertemu Tak Sengaja dengan Abraham Samad, Kenang Kuliah Umum 13 Tahun Lalu
Syukur berharap PT NNI membuka komunikasi langsung dengan masyarakat ketika muncul persoalan yang berkaitan dengan kehidupan warga.
Dia menambahkan, pihak perusahaan akan menggelar pertemuan lanjutan untuk membahas aspirasi warga.
Kepala Desa Tanauge, Arman, dikonfirmasi terpisah mengaku tidak mengetahui aksi warga yang mendatangi kantor PT NNI.
Baca Juga: Bupati Morowali Tekankan Pentingnya Menjaga Tradisi Upacara
Menurut Arman, warga juga tidak menyampaikan pemberitahuan kepada pemerintah desa sebelum mendatangi perusahaan.
Dia mengatakan, apabila masyarakat ingin menyampaikan aspirasi kepada perusahaan, sebaiknya dilakukan melalui komunikasi dan surat resmi sehingga pemerintah desa mengetahui persoalan yang akan disampaikan.
"Tidak ada pemberitahuan. Jadi apa tujuan warga ke perusahaan tadi, pemerintah desa tidak ada yang tahu," kata Arman.
Baca Juga: PLTS di Kawasan Pertambangan PT COR Tbk Diresmikan Bupati Morut
Sementara itu, pihak PT NNI belum berhasil dikonfirmasi terkait insiden warga Tanauge dengan karyawan asing tersebut maupun tuntutan masyarakat.
Selain persoalan pemberdayaan dan kemitraan, Forum Kesejahteraan Masyarakat Desa Tanauge juga menampung aspirasi warga terkait aktivitas PT BMU serta persoalan lahan yang hingga saat ini belum diganti rugi perusahaan di kawasan industri nikel PT SEI. (***)
Editor : Ilham Nusi