RADAR PALU – Belasan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli Rakyat (AMPERA) menggelar aksi demonstrasi di Kantor PLN UP3 Palu, Jalan RA Kartini, Kelurahan Lolu Selatan, Kecamatan Palu Selatan, Senin (28/9). Mereka menyuarakan keresahan masyarakat terkait pemadaman listrik bergilir yang dinilai belum memiliki jadwal yang jelas.
Koordinator Lapangan (Korlap) aksi, Moh Fitra, mengatakan kedatangan mereka bertujuan meminta penjelasan sekaligus solusi dari PLN terkait kondisi kelistrikan yang terjadi di Kota Palu.
Menurutnya, jadwal pemadaman yang disampaikan PLN kepada masyarakat belum sepenuhnya membantu. Sebab, dalam sejumlah kondisi, pemadaman justru dilakukan lebih awal dari jadwal yang telah diumumkan.
Baca Juga: APINDO Sulteng dan PLN Suluttenggo Bahas Krisis Listrik, Diesel Disiapkan untuk Jaga Dunia Usaha
“Kami datang untuk menyuarakan keresahan masyarakat, terutama berkaitan dengan pemadaman bergilir dan jadwal yang tidak jelas. Misalnya jadwal pemadaman pukul 07.00 WITA, tetapi sebelum waktu tersebut listrik sudah padam,” ujar Fitra.
Selain meminta kejelasan jadwal, massa AMPERA juga mendesak PLN mengevaluasi kinerjanya serta menyiapkan solusi agar pemadaman listrik tidak terus berlangsung dan mengganggu aktivitas masyarakat.
Dalam aksi tersebut, massa kemudian diterima pihak PLN untuk mengikuti audiensi. Dalam pertemuan itu, PLN menjelaskan sejumlah faktor yang menyebabkan terjadinya pemadaman, termasuk kondisi pasokan listrik di kawasan Sulawesi.
Baca Juga: PLN Ungkap Penyebab Pemadaman Listrik di Sulteng, Sewa PLTD Jadi Solusi
Asisten Manajer PLN UP3 Palu Bidang Perencanaan, I Made Agus Adimertha, menjelaskan persoalan kelistrikan saat ini tidak hanya terjadi di Sulawesi Tengah. Wilayah Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah turut terdampak akibat berkurangnya daya listrik.
“Kalau kita melihat terkait dengan pemadaman ini, yang merasakan Sulbar, Sulsel, Sultra dan Sulteng. PLN Palu sendiri mendapatkan total pemadaman sekitar 10 persen,” jelas I Made Agus.
Ia menerangkan, pemadaman bergilir dilakukan sebagai langkah untuk menjaga kestabilan sistem kelistrikan. Menurutnya, apabila langkah tersebut tidak dilakukan, terdapat risiko terjadinya blackout yang membutuhkan waktu lebih lama untuk memulihkan sistem.
“Pemadaman yang dilakukan adalah untuk menjaga sistem. Kalau itu tidak dilakukan, maka akan terjadi blackout. Kami tidak menginginkan hal tersebut karena untuk normal kembali bisa membutuhkan waktu satu hari bahkan lebih,” katanya.
I Made Agus menambahkan, berkurangnya kemampuan pembangkit turut memengaruhi pasokan listrik. Salah satunya PLTU Palu 3 yang saat ini hanya mampu menghasilkan daya sekitar 2x40 hingga 2x50 MW. Kondisi tersebut disebut berkaitan dengan dampak El Nino dan kemarau berkepanjangan.
Terkait jadwal pemadaman yang terkadang tidak sesuai pengumuman, ia mengatakan kondisi tersebut dipengaruhi kebutuhan daya yang berubah-ubah. PLN tidak dapat memastikan penggunaan listrik setiap pelanggan pada waktu tertentu.
Baca Juga: Bupati Sampaikan Aspirasi Masyarakat Terkait Kebutuhan Listrik Saat Audiensi Bersama PLN di Jakarta
“PLN tidak bisa memastikan jumlah daya yang digunakan pelanggan. Misalnya di rumah A menggunakan daya yang cukup besar saat itu, sehingga kami harus mengambil langkah memadamkan agar kestabilan kelistrikan tetap terjaga,” jelasnya.
Ia mengapresiasi aksi mahasiswa dan menyebut sejumlah langkah penanganan sebenarnya telah dilakukan PLN sebelum aksi berlangsung. PLN juga terus mendorong percepatan pembangunan pembangkit, termasuk PLTS dan PLTU, untuk memperkuat sistem kelistrikan.
“Kami mengapresiasi teman-teman mahasiswa yang sudah melakukan aksi. Pada dasarnya diskusinya berjalan dengan baik dan teman-teman mahasiswa juga sudah memahami kondisi kelistrikan saat ini. Kami terus mengupayakan agar penanganan pemadaman ini bisa cepat selesai,” pungkasnya.
Editor : Wahono.