Mendesak Gubernur Agar Mengganti atau Memutus Tiga Generasi Pejabat Bermasalah di RSUD Undata

Muchsin Siradjudin • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 16:21 WIB
Nurdin Usman (FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU).
Nurdin Usman (FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU).

RADAR PALU – Menyikapi kondisi manajemen RSUD Undata, yang terlihat belum maksimal dari berbagai pelayanan, maka salah seorang tokoh masyarakat Sulteng dari Pantai Barat Kabupaten Donggala, Nurdin Usman, yang merasakan langsung “amburadulnya” manajemen pelayanan di rumah sakit pelat merah itu, mendesak agar pihak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulteng melakukan evaluasi dan segera membenahi persoalan manajemen yang dinilai sebagai titik permasalahan akut.

“Iya, kami sangat merasakan betapa manajemen RSUD Undata terlihat tidak maksimal. Begitu banyak keluhan dari pasien dan keluarga pasien mereka tidak dilayani dengan baik, “ kata Nurdin, kepada media Radar Palu, Jawa Pos, Senin (14/9/2026).

Nurdin mengatakan, apa yang disampaikan saat ini merupakan pengalaman yang dirasakan keluarganya ketika orang tuanya harus dirawat di RSUD Undata sebagai rujukan dari RS Pandeu Tambu, Kabupaten Donggala.

Baca Juga: Direktur RSUD Undata Jelaskan Kondisi Ny. Masdiana, Disebut Sesak Berat dan Tak Ada Rencana Operasi

Pihak keluarganya merasa pelayanan yang tidak maksimal dari RSUD Undata, sehingga orang tuanya yang datang dari jauh berpuluh kilometer harus bolak balik, setelah dirawat 8 hari, dan dokter yang menanganainya, tiga orang dokter ahli mengatakan tidak ada penyakit. 

“Orang tua kami harus pulang, setelah didiagnosa oleh tiga dokter ahli RSUD Undata. Yakni dokter ahli dalam, ahli USG mengatakan tidak ada penyakit, dan disuruh pulang. Jadi, bukan kami yang mau pulang sendiri, tetapi dari dokter yang menangani orang tua kami yang mengatakan orang tua kami itu tidak ada penyakit, “ bebernya. 

“Tidak ada pilihan kami kecuali harus kembali. Karena kalau bertahan biaya menginap mahal, dan logistik keluarga kami sudah mengurang. Kan harus pulang. Terpaksa pulang, “ tandas Nurdin.

Baca Juga: Keluarga Pasien Kecewa, Manajemen dan Tim Dokter RSUD Undata Tidak Profesional, Terlantarkan Pasien

Begitu juga dengan berbagai kasus lain yang terjadi sebelum dan sesudah orang tua kami ini. Bahkan ada pasien yang sudah menunggu berminggu-minggu dijanji akan dioperasi, tidak tahunya tidak dioperasi.

“Ini ada apa begini. Manajemen bagaiamana ini. RSUD Undata sebagai rumah sakit pemerintah harus segera berbenah, “ ucap Nurdin, melontarkan kekesalannya.

Nurdin juga menyinggung, beberapa pimpinan RSUD Undata terlilit kasus yang kini sudah ditangani oleh Aparat Penegak hukum, harusnya segera melakukan pembenahan.

Baca Juga: BRI dan RSUD Undata Perkuat Kerja Sama, Mudahkan Pembayaran Administrasi Pasien

“Kalau perlu dilakukan pergantian pejabat ASN di RSUD Undata. Putus atau potong tiga generasi pejabatnnya. Gubernur harus tegas. Jangan sungkan-sungkan untuk mengganti petinggi dan penanggungjawab di RSUD Undata sekarang juga, “ seru Nurdin.

Dikatakan Nurdin, program berani sehat yang dprogramkan oleh gubernur sudah sangat luar biasa. Namun sangat disayangkan tidak mampu direalisasikan oleh pejabat yang ada di bawahnya. 

“Bukan karena lemahnya sumber daya manusia (SDM), namun karena tidak disiplinnya pejabat yang ada di bawah, dalam menjalankan program tersebut, “ ungkapnya.

Baca Juga: RSUD Undata Telusuri Keluhan Keluarga Pasien, Bantah Pasien Disuruh Pulang

Dikatakannya, ada beberapa faktor yang bisa memengaruhi kinerja seorang pejabat, apalaga RSUD Undata ini sudah mempunyai otonom sendiri. Sehingga, rasa berkuasa sangat terasa, dan banyak hal yang kini melingkupi manajemen.

“Oleh karena kekurangan itulah, sehingga Gubernur perlu menyegarkan Kembali. Mungkin mereka-mereka yang sudah lama di Undata itu sudah jenuh. Jadi, biar mereka segar perlu di rotasi (pindah) ke tempat yang baru, “ serunya.

Dikonfirmasi kepada Wakil Gubernur (Wagub) Sulteng, dr Renny Lamadjido, Sp.PK., M.Kes, yang dikenal sebagai Gubernur Kesehatan Sulteng, mengatakan siap untuk turun ke bawah melakukan pembenahan menindaklanjuti adanya permasalahan pelayanan di RSUD Undata Palu, yang diungkap media ini.

Baca Juga: Transparansi Remunerasi Nakes RSUD Undata Jadi Fokus Evaluasi DPRD

"Baik terima kasih konfirmasinya. Saya akan turun dan membenahi permasalahan yang ada di RSUD Undata ini, " kata Wagub Renny, memberi janji.

Diberitakan sebelumnya Pelayanan RSUD Undata mendapat sorotan. Tatkala, seorang pasien rujukan dari RS Pendau Tambu, Kabupaten Donggala yang dirujuk ke RSUD Donggala kecewa.

Lantaran tidak ada kepastian tindakan medis yang dilakukan oleh dokter-dokter ahli di RSUD Undata untuk menangani pasien ini.

Baca Juga: RSUD Undata Siapkan Skema Kirim Dokter Spesialis dari Unhas, Atasi Kekurangan Tenaga Ahli

"Kami sangat kecewa dengan pelayanan medis yang diberikan oleh tim dokter di RSUD Undata. Berhari-hari tidak ada kepastian. Katanya tidak ada penyakit, " tutur Nurdin Usman, kepada media Radar Palu, Selasa (1/9/2026).

Padahal, ungkap Nurdin, pasien dirujuk ke RSUD Undata karena hasil USG RS Pendau Tambu menemukan ada benjolan di sekitar ginjal pasien seperti kista. Tetapi di RSUD Undata sebagai rumah sakit rujukan, justeru mengatakan bahwa itu sudah ada dari lahir, tapi anehnya  pasien tetap merasakan sakit yang luar biasa. 

"Pasien ditangani oleh tiga orang dokter spesialis, dan semua  dokter yang menangani ini menyatakan tidak menemukan penyakit, hingga pasienpun di suruh pulang, " bebernya.

Baca Juga: RSUD Undata Ubah Skema Layanan Onkologi, Antrean Pasien Disebut Kini Lebih Terkendali

Sempat terjadi  insiden antara pasien dengan dokternya. Keluarga pasien mengatakan bagaimana mungkin kami disuruh pulang dan dianggap tidak ada penyakit yang ditemukan.

Ditambahkannya, pasien hingga saat ini masih merasakan sakit yang amat sangat, sama seperti sakitnya pasien waktu pertamakali dirujuk di Undata.

"Ada  apa ini ? Kok bisa-bisanya rumah sakit nomor satu di Sulawesi Tengah yang memiliki peralatan medis canggih masa tidak menemukan penyakit yang diderita keluarga saya ini, " ucapnya kesal.

Baca Juga: Kontrak Dokter Onkologi Berakhir, RSUD Undata Pastikan Layanan Kanker Tetap Jalan

Bahkan, tokoh pemuda dari pantai Barat Donggala ini pernah menemukan sebuah fakta, ada pernyataan menarik  dari seorang  dokter di RSUD Undata yang kebetulan saat itu Nurdin berada di gang ruang pegawai RSUD Undata.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Direktur (Wadir) Pelayanan RSUD Undata, dr. Franklin L. Sinanu, mengatakan pihaknya menghargai keluhan keluarga pasien. Namun, ia menegaskan penilaian mengenai profesional atau tidaknya pelayanan harus berdasarkan fakta dan rekam medis secara lengkap.

“Kami menghargai keluhan yang disampaikan oleh keluarga pasien. Tapi untuk mengatakan bahwa suatu pelayanan tidak profesional, kita harus lihat faktanya dulu,” kata Franklin saat diwawancarai di RSUD Undata, Kamis (3/9/2026).

Baca Juga: Layanan RSUD Undata Palu Dikeluhkan Warga, Antrean Panjang hingga Rontgen Gigi Tak Ada

Menurut Franklin, berdasarkan data awal dalam rekam medis, tidak tepat jika dikatakan pasien datang kemudian dinyatakan tidak memiliki penyakit dan langsung disuruh pulang. Pasien disebut telah menjalani rawat inap dan dievaluasi oleh tiga dokter spesialis, termasuk terkait temuan kista.

Franklin menjelaskan, pasien masih akan menjalani penelusuran lebih lengkap. Namun, pasien kemudian meminta untuk pulang terlebih dahulu.

“Pasien pulang atas permintaan sendiri, bukan disuruh pulang,” ujarnya.

Baca Juga: Pelayanan RSUD Undata Dikritik Oknum Anggota Dewan, drg Herry : Jangan Sampai Mengeluarkan Kata-kata Fitnah

Ia mengatakan, dua dokter menyatakan pasien sudah boleh pulang. Sementara dokter yang terakhir memeriksa masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut karena pasien masih mengeluhkan nyeri.

Terkait kondisi pasien yang masih merasakan sakit, Franklin mengatakan ditemukan atau tidak ditemukannya kelainan tertentu bukan berarti pasien dinyatakan tidak sakit. Rasa nyeri tetap harus dievaluasi, termasuk apakah berkaitan dengan kista ginjal yang ditemukan sebelumnya, karena kista ginjal bisa saja bukan menjadi penyebab utama nyeri.

Adapun terkait pengakuan Nurdin mengenai percakapan seorang dokter soal insentif dan keinginan untuk pindah rumah sakit, Franklin mengatakan pihaknya tidak ingin berspekulasi karena belum mengetahui konteks pembicaraan maupun dokter yang dimaksud.

Baca Juga: Bersinergi dengan Program “Berani Sehat”, RSUD Undata Kini Punya Rumah Sakit Pengampuh

Ia menegaskan, persoalan kesejahteraan tenaga kesehatan tidak boleh memengaruhi profesionalisme dan pelayanan kepada pasien. Untuk persoalan insentif maupun remunerasi, kata Franklin, terdapat mekanisme internal yang dievaluasi setiap bulan.

“Persoalan kesejahteraan tenaga kesehatan tidak boleh memengaruhi profesionalisme dan pelayanan kepada pasien,” tegasnya.

Franklin menambahkan, keluhan tersebut saat ini juga telah masuk melalui jalur pengaduan resmi. RSUD Undata akan melakukan penelusuran secara menyeluruh dan memberikan jawaban resmi kepada keluarga melalui mekanisme pengaduan tersebut.

Baca Juga: Keluarga Pasien Kecewa, Manajemen dan Tim Dokter RSUD Undata Tidak Profesional, Terlantarkan Pasien

Ia memastikan, apabila ditemukan kekurangan dalam pelayanan maupun komunikasi, pihak rumah sakit akan melakukan perbaikan dan tindak lanjut.

RSUD Undata, lanjutnya, tidak menutup diri terhadap kritik. Namun, setiap kesimpulan harus berdasarkan fakta yang lengkap dan tidak hanya berasal dari satu pihak. Keselamatan dan kepentingan pasien tetap menjadi prioritas.

Ditambah lagi kasus yang lain, dialami  oleh pasien atas nama Ny. Masdiana, keluarganya mempertanyakan penanganan pasien yang menjalani perawatan di RSUD Undata Palu. Keluarga menyebut pasien telah menjalani perawatan selama dua minggu dan masih menunggu tindakan operasi.

Baca Juga: Direktur Baru RSUD Undata Dilantik, Reny Lamadjido Minta UGD Lebih Cepat dan Profesional

Keluhan tersebut disampaikan keluarga melalui pesan WhatsApp (WA) kepada Radar Palu. Keluarga juga menyebut istrinya telah menemani sang tante selama menjalani perawatan di rumah sakit.

“Ada tanteku di rumah sakit Palu, sudah dua minggu menunggu operasi tapi belum juga dioperasi. Tolong dibantu,” tulis keluarga pasien.

Keluarga juga menyampaikan kondisi Ny. Masdiana sempat memburuk. Pasien disebut mengalami gelisah dan sesak.

Baca Juga: Transparansi Remunerasi Nakes RSUD Undata Jadi Fokus Evaluasi DPRD

Menanggapi keluhan tersebut, Direktur RSUD Undata dr. Jumriani menyampaikan melalui pesan WhatsApp bahwa Ny. Masdiana saat ini mengalami sesak berat dan direncanakan mendapat penanganan di ruang Intensive Cardiac/Vascular Care (ICVC).

“Hari ini rencana masuk ICVC kalau sesak berat,” jelasnya.

Terkait lama perawatan, dr. Jumriani menyebut berdasarkan catatan dalam sistem rumah sakit, pasien tercatat masuk pada 3 September 2026 dan telah mendapatkan pelayanan sesuai dengan diagnosis penyakitnya.

Baca Juga: Keluarga Pasien Kecewa, Manajemen dan Tim Dokter RSUD Undata Tidak Profesional, Terlantarkan Pasien

“Tercatat masuk tanggal 3 September berarti enam hari yang lalu,” kata dr. Jumriani.

Sementara mengenai tindakan operasi yang dipertanyakan keluarga, dr. Jumriani menegaskan bahwa saat ini tidak ada rencana operasi terhadap Ny. Masdiana.

“Tapi tidak ada rencana untuk operasi pasien ini,” ujarnya.

Baca Juga: RSUD Undata Palu Klarifikasi Antrean Panjang dan Rontgen Gigi, Ini Penjelasannya

Dengan demikian, pihak rumah sakit menyebut penanganan Ny. Masdiana saat ini difokuskan pada kondisi sesak berat dan rencana perawatan di ICVC, bukan pada pelaksanaan tindakan operasi.(***)

Editor : Muchsin Siradjudin
Mendesak Gubernur Mengganti pejabat Dilakukan penyegaran RSUD Undata