Hannah Asa Indonesia Perkuat Ekosistem Perencana Keuangan Syariah dari Sulawesi Tengah

lib • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 20:13 WIB
 Sepanjang kuartal II 2026, program edukasi Hannah Asa Indonesia menjangkau 8.793 peserta dan 586.840 akun melalui media sosial.
 Sepanjang kuartal II 2026, program edukasi Hannah Asa Indonesia menjangkau 8.793 peserta dan 586.840 akun melalui media sosial.

RADRA PALU - Penguatan sumber daya manusia menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan ekosistem perencanaan keuangan syariah di Indonesia. 

Tidak hanya dituntut memahami konsep dan instrumen keuangan, tenaga edukasi dan perencana keuangan juga perlu memiliki kemampuan menerjemahkan pengetahuan tersebut menjadi pendampingan yang bertanggung jawab bagi masyarakat.

Hal ini menjadi perhatian Hannah Asa Indonesia melalui penyelenggaraan Pelatihan Bersertifikat Associate Wealth Planner Syariah (AWPS) Batch 15 yang berlangsung di Kantor Hannah Asa Indonesia, Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (5/9/2026).

Baca Juga: Hannah Asa Indonesia Dorong Literasi Keuangan Generasi Muda Lewat Kampanye Smart Money

Program tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas individu di bidang perencanaan keuangan berbasis prinsip syariah sekaligus memperluas ekosistem literasi keuangan di Indonesia Timur.

Hannah Asa Indonesia menilai tantangan pengelolaan keuangan masyarakat tidak cukup diselesaikan melalui peningkatan pengetahuan mengenai produk finansial.

 Masyarakat juga membutuhkan kemampuan untuk memahami kondisi keuangan, menetapkan tujuan, mengelola arus kas, menyiapkan dana darurat, mengelola utang, merencanakan pendidikan dan masa depan, hingga mengambil keputusan investasi secara lebih bijaksana.

Baca Juga: OJK Perkuat Pembiayaan UMKM Lewat Inovasi Teknologi Sektor Keuangan

Sepanjang kuartal II 2026, program edukasi Hannah Asa Indonesia menjangkau 8.793 peserta dan 586.840 akun melalui media sosial.
Sepanjang kuartal II 2026, program edukasi Hannah Asa Indonesia menjangkau 8.793 peserta dan 586.840 akun melalui media sosial.

Karena itu, pengembangan financial literacy, financial capability, dan financial resilience menjadi bagian dari pendekatan yang dikembangkan Hannah Asa Indonesia.

Upaya tersebut tercermin dari pertumbuhan jangkauan program edukasi. Pada kuartal I 2026, Hannah Asa Indonesia mencatat 5.495 peserta edukasi yang mengikuti program melalui sejumlah kanal, termasuk pesan, edukasi langsung, LMSKU, dan kanal edukasi digital.

Memasuki kuartal II 2026, jumlah peserta melalui edukasi berbasis pesan, edukasi langsung, dan LMSKU meningkat menjadi 8.793 peserta. Pada periode yang sama, konten edukasi Hannah Asa Indonesia melalui media sosial tercatat menjangkau 586.840 akun.

Baca Juga: OJK Sulteng Dorong Pelajar SRT 20 Palu Cerdas Kelola Keuangan

Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa edukasi keuangan semakin diarahkan untuk menjangkau masyarakat melalui berbagai kanal.

 Pembelajaran tidak hanya berlangsung secara tatap muka, tetapi juga diperluas melalui platform digital dan distribusi konten edukasi.

Founder Hannah Asa Indonesia, Mardiyah, mengatakan keberhasilan edukasi keuangan seharusnya tidak hanya diukur dari jumlah peserta yang mengikuti program.

Baca Juga: Komisi I DPRD Sulteng Evaluasi Reses, Dorong Juknis Pertanggungjawaban Keuangan

“Bagi kami, ukuran keberhasilan edukasi keuangan bukan hanya berapa banyak orang yang mengikuti pelatihan, tetapi seberapa jauh pengetahuan tersebut berubah menjadi kemampuan mengambil keputusan dan membangun ketahanan finansial dalam kehidupan nyata," ungkapnya.

AWPS Perkuat Kapasitas Perencana Keuangan Syariah
Melalui program AWPS Batch 15, peserta mendapatkan pembekalan mengenai berbagai aspek perencanaan keuangan yang dapat diterapkan dalam kehidupan individu maupun keluarga.

Namun, Hannah Asa Indonesia menempatkan kompetensi tersebut sebagai bagian dari tanggung jawab yang lebih luas. Seorang perencana keuangan syariah dinilai perlu memiliki kemampuan memahami kondisi klien, membangun komunikasi, menjaga integritas, serta menyampaikan edukasi secara bertanggung jawab.

Baca Juga: PT Mamuang dan Karsa Perkuat Ekonomi Masyarakat Adat Kaili Tado melalui Literasi Keuangan

Mardiyah menegaskan, pengembangan AWPS tidak semata-mata diarahkan untuk menghasilkan individu yang memahami aspek teknis perencanaan keuangan.

“Kami tidak ingin sekadar mencetak orang yang mampu berbicara tentang keuangan. Kami ingin melahirkan pribadi-pribadi yang mampu membantu masyarakat mengambil keputusan keuangan dengan lebih bijak, terencana, dan bertanggung jawab," ujar Mardiyah.

Menurut dia, kepercayaan masyarakat merupakan amanah yang harus dijaga oleh setiap individu yang terlibat dalam edukasi maupun pendampingan keuangan.

Baca Juga: IPKD 2026, Pemprov Sulteng Siapkan Tim Validasi untuk Uji Kinerja Keuangan 13 Kabupaten/Kota

“Ketika seseorang mempercayakan perjalanan keuangannya kepada kita, ada tanggung jawab besar untuk memberikan edukasi dan pendampingan dengan kompetensi, integritas, dan niat untuk memberikan manfaat," sebutnya.

Bangun Gerakan Literasi Keuangan dari Indonesia Timur
Pengembangan AWPS menjadi salah satu bagian dari strategi Hannah Asa Indonesia dalam membangun kapasitas masyarakat. Program edukasi dikembangkan melalui pembelajaran langsung, bootcamp, pelatihan bersertifikat, platform pembelajaran, hingga kanal digital.

Pendekatan tersebut diarahkan untuk membangun masyarakat yang tidak hanya financially literate, tetapi juga memiliki kemampuan mengambil keputusan serta menghadapi risiko keuangan.

Baca Juga: Pramuka Cerdas Keuangan, OJK Perkuat Literasi Finansial Generasi Muda di Jambore Nasional XII 2026

Peserta AWPS Batch 15, Nurfadilah dari UIN Datokarama, menilai pelatihan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya memperluas dampak edukasi keuangan di masyarakat.

“Melalui Pelatihan Bersertifikat AWPS Batch 15, Hannah Asa Indonesia kembali menegaskan bahwa edukasi keuangan merupakan investasi jangka panjang. Semakin banyak masyarakat yang memiliki pemahaman dan kesadaran dalam mengelola keuangan, semakin besar pula peluang terciptanya individu dan keluarga yang memiliki ketahanan ekonomi serta kemampuan mempersiapkan masa depan dengan lebih baik," sebutnya.

Dari Palu, Hannah Asa Indonesia menargetkan perluasan ruang belajar bagi masyarakat sekaligus mendorong lebih banyak individu membawa pengetahuan keuangan ke lingkungan keluarga, komunitas, institusi, UMKM, dan masyarakat sekitar.

Baca Juga: Hannah Asa Indonesia Perkuat Literasi Keuangan Perempuan Adat di Kalimantan Barat, Dorong Ketahanan

Mardiyah mengatakan dampak literasi keuangan akan semakin besar ketika pengetahuan yang diperoleh peserta dapat diteruskan kepada masyarakat yang lebih luas.

“Kami percaya bahwa literasi keuangan akan memiliki dampak yang lebih besar ketika orang yang belajar tidak berhenti pada dirinya sendiri, tetapi mampu meneruskan pengetahuan tersebut kepada orang lain," kata Mardiyah.

Penguatan kapasitas perencana keuangan syariah tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya membangun ekosistem edukasi keuangan yang berkelanjutan. 

Baca Juga: KUPS Sanggau Belajar Hitung Bisnis, Hannah Asa Indonesia Perkuat Literasi Keuangan Usaha Perhutanan

Dengan menggabungkan literasi, kapabilitas, dan ketahanan finansial, edukasi keuangan diharapkan tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi berujung pada perubahan perilaku dan kemampuan masyarakat dalam mengambil keputusan ekonomi.

Dari Sulawesi Tengah, Hannah Asa Indonesia menempatkan pengembangan kompetensi perencana keuangan syariah sebagai salah satu pijakan untuk memperluas gerakan literasi keuangan dan memperkuat ketahanan finansial masyarakat di Indonesia Timur. ***

Editor : lib
Hannah Asa Indonesia AWPS Batch 15 Perencana Keuangan Literasi Keuangan keuangan syariah