23.569 Mahasiswa Terjangkau, Seberapa Jauh Berani Cerdas Mengubah Masa Depan Anak Sulteng?

Muhammad Awaludin • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 17:39 WIB
Ilustrasi Mahasiswa mengikuti aktivitas perkuliahan. Program BERANI CERDAS telah menjangkau 23.569 mahasiswa dan terus memperluas akses bantuan pendidikan di Sulawesi Tengah. FOTO: ILUSTRASI AI
Ilustrasi Mahasiswa mengikuti aktivitas perkuliahan. Program BERANI CERDAS telah menjangkau 23.569 mahasiswa dan terus memperluas akses bantuan pendidikan di Sulawesi Tengah. FOTO: ILUSTRASI AI

 

RADAR PALU – Bagi keluarga dengan kemampuan ekonomi terbatas, biaya kuliah sering kali menjadi batas antara mimpi dan kenyataan. Banyak anak mampu secara akademik, tetapi harus mengubur keinginan melanjutkan pendidikan karena orang tua tidak sanggup membiayai.

Di Sulawesi Tengah, persoalan itu coba dijawab melalui Program BERANI CERDAS. Hingga tahap awal pendataan, program bantuan pendidikan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah ini telah menjangkau 23.569 mahasiswa.

Angka tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap dukungan biaya pendidikan. Namun di balik jumlah penerima manfaat, muncul pertanyaan yang lebih penting: seberapa jauh program ini mampu mengubah masa depan anak-anak Sulawesi Tengah?

Baca Juga: Polisi Tangkap Warga Parigi Selatan Pelaku Pencabulan Anak di Poso

Pendidikan tidak berhenti pada pembayaran uang kuliah. Tantangan sebenarnya adalah memastikan mahasiswa dapat bertahan hingga menyelesaikan studi dan memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidup keluarganya.

Ketika Biaya Menjadi Penghalang

Bagi sebagian besar keluarga, menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi bukan perkara mudah.

Baca Juga: Fun Walk Banggai Diikuti Masyarakat, Dukung Hidup Sehat

Biaya kuliah, tempat tinggal, transportasi hingga kebutuhan sehari-hari mahasiswa dapat menjadi beban yang terus meningkat. Kondisi itu membuat sebagian keluarga memilih pilihan paling realistis: anak segera bekerja setelah lulus sekolah.

Jemmy, salah seorang orang tua siswa asal Kabupaten Banggai, melihat Program BERANI CERDAS sebagai peluang bagi keluarga yang sebelumnya kesulitan membiayai pendidikan anak.

Menurut dia, bantuan pendidikan memberi ruang bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk tetap melanjutkan sekolah dan kuliah.

“Program seperti ini sangat membantu orang tua. Anak-anak tinggal diarahkan agar benar-benar fokus belajar dan memanfaatkan kesempatan yang ada,” ujar Jemmy.

Ia berharap persoalan ekonomi tidak lagi menjadi alasan utama anak-anak Sulawesi Tengah menghentikan pendidikan.

Sebab bagi keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas, satu anak yang berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi dapat membawa perubahan besar bagi masa depan keluarga.

Baca Juga: Enam Jam Berjalan Kaki, Tim Puskesmas Kaleke Jangkau Warga Dusun III Waturalele

Ribuan Mahasiswa Masuk Penerima Manfaat

Data tahap awal menunjukkan Program BERANI CERDAS telah menjangkau 23.569 mahasiswa di berbagai perguruan tinggi.

Pada 2025, bantuan biaya pendidikan tersebut disebut didukung anggaran lebih dari Rp84 miliar.

Universitas Tadulako menjadi salah satu kampus dengan jumlah penerima terbesar. Berdasarkan hasil validasi yang diserahkan pihak kampus kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sulawesi Tengah pada Januari 2026, sebanyak 10.768 mahasiswa tercatat sebagai penerima manfaat.

Sementara di Universitas Islam Negeri Datokarama Palu, terdapat 2.173 mahasiswa yang masuk dalam daftar penerima.

Pendataan dan validasi juga terus berlangsung terhadap mahasiswa Sulawesi Tengah yang menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi swasta maupun kampus di luar daerah.

Program ini direncanakan tidak hanya menyasar mahasiswa S1. Jangkauan bantuan juga diperluas hingga pendidikan S2, S3, dokter spesialis dan bantuan penyelesaian studi untuk bidang tertentu yang dibutuhkan daerah.

Besarnya jumlah penerima menunjukkan bahwa kebutuhan bantuan pendidikan masih tinggi.

Di sisi lain, angka tersebut juga menjadi pekerjaan rumah pemerintah daerah untuk memastikan mekanisme penyaluran berjalan tepat sasaran dan berkelanjutan.

Bukan Sekadar Membayar Uang Kuliah

Keberhasilan program beasiswa tidak seharusnya hanya diukur dari jumlah penerima.

Ada ukuran yang lebih penting: berapa banyak mahasiswa yang berhasil menyelesaikan studi.

Mahasiswa dari keluarga kurang mampu sering menghadapi persoalan di luar biaya kuliah. Mereka masih harus membayar biaya hidup, membeli buku, memenuhi kebutuhan penelitian hingga membiayai tempat tinggal.

Karena itu, bantuan pendidikan perlu dilihat sebagai bagian dari upaya yang lebih besar untuk membangun sumber daya manusia.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah melalui program tersebut membawa semangat agar pendidikan tidak lagi menjadi hak istimewa bagi keluarga yang memiliki kemampuan ekonomi.

Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai salah satu fokus pemerintahannya.

Menurutnya, pembangunan daerah tidak hanya diukur dari infrastruktur fisik yang terlihat, tetapi juga dari kemampuan pemerintah menyiapkan generasi masa depan.

“Biarlah saya tidak populer dalam pembangunan, tapi yang pasti saya ingin membangun sumber daya manusia,” demikian salah satu penegasan Anwar Hafid dalam sejumlah kesempatan.

Dari SMA hingga Perguruan Tinggi

Program bantuan pendidikan juga menyentuh siswa pendidikan menengah melalui Bantuan Operasional Sekolah Daerah atau BOSDA. 

Baca Juga: Pemkab Buol Buka Kesempatan Pemuda Kuliah dan Kerja di Jepang

BOSDA diberikan kepada sekolah SMA, SMK dan SLB, baik negeri maupun swasta.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sulawesi Tengah Firmanza DP menjelaskan program tersebut menjangkau sekitar 453 sekolah di Sulawesi Tengah.

“Kalau BOSDA itu untuk seluruh sekolah negeri dan swasta di Sulteng, sekitar 453 sekolah. Tidak menggunakan desil,” jelasnya.

Selain bantuan operasional pendidikan, pemerintah juga menyiapkan sejumlah dukungan bagi siswa dari keluarga kurang mampu.

Siswa SMK juga mendapat perhatian melalui pembiayaan sejumlah kebutuhan pendidikan, termasuk pelaksanaan praktik kerja industri dan uji kompetensi.

Rangkaian kebijakan tersebut menunjukkan pendidikan sedang ditempatkan sebagai investasi jangka panjang.

Namun investasi pendidikan membutuhkan konsistensi yang lebih panjang dibanding pembangunan fisik.

Jalan dapat selesai dibangun dalam beberapa tahun. Gedung dapat berdiri dalam hitungan bulan. Sementara hasil pembangunan manusia baru terlihat ketika seorang anak yang hari ini menerima bantuan pendidikan berhasil menyelesaikan studi dan memasuki dunia kerja.

Harapan Satu Rumah Satu Sarjana

Di tengah keterbatasan ekonomi keluarga, pendidikan tinggi masih menjadi harapan untuk memperbaiki masa depan.

Semangat “Satu Rumah Satu Sarjana” menjadi salah satu gagasan yang ingin didorong melalui Program BERANI CERDAS.

Bagi sebagian keluarga, memiliki satu anggota keluarga bergelar sarjana bukan hanya pencapaian pribadi.

Ada harapan mobilitas sosial di belakangnya.

Anak yang memperoleh pendidikan lebih tinggi diharapkan memiliki kesempatan lebih besar mendapatkan pekerjaan dan meningkatkan taraf hidup keluarga.

Namun harapan tersebut harus dijaga melalui keberlanjutan kebijakan.

Orang tua dan mahasiswa tentu berharap bantuan tidak berhenti hanya pada tahap awal program. Mahasiswa yang telah memulai pendidikan membutuhkan kepastian bahwa mereka dapat menyelesaikan studi hingga lulus.

Di sinilah tantangan terbesar sebuah program pendidikan.

Bukan hanya membuka pintu masuk perguruan tinggi, tetapi memastikan mahasiswa tidak keluar sebelum waktunya.

Ujian Keberlanjutan Program

Program BERANI CERDAS kini memasuki fase penting.

Setelah jumlah penerima manfaat terus bertambah, perhatian publik perlu diarahkan pada kualitas pelaksanaan program.

Validasi data penerima harus berjalan ketat. Penyaluran bantuan harus tepat waktu. Mekanisme administrasi harus mudah diakses masyarakat. Dan yang paling penting, penerima manfaat harus benar-benar berasal dari kelompok yang membutuhkan.

Pemerintah juga perlu memiliki indikator jangka panjang untuk mengukur dampak program.

Berapa mahasiswa yang berhasil menyelesaikan studi? Berapa lama rata-rata mereka menyelesaikan pendidikan? Bagaimana kondisi mereka setelah lulus?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting agar bantuan pendidikan tidak berhenti sebagai angka dalam laporan anggaran.

Keberhasilan sebenarnya baru dapat diukur ketika bantuan yang diberikan hari ini menghasilkan generasi yang lebih terdidik dan mampu berkontribusi bagi daerah.

Pendidikan sebagai Investasi Masa Depan

Konstitusi telah menempatkan pendidikan sebagai hak dasar warga negara.

Pasal 31 Undang-Undang Dasar 1945 menegaskan setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan.

Negara juga memiliki kewajiban menyelenggarakan sistem pendidikan nasional dan memprioritaskan anggaran pendidikan.

Di tingkat daerah, kebijakan seperti BERANI CERDAS menjadi salah satu bentuk intervensi pemerintah untuk memperkecil kesenjangan akses pendidikan.

Tantangannya kini bukan sekadar mempertahankan jumlah penerima manfaat.

Lebih dari itu, bagaimana memastikan puluhan ribu anak muda yang mendapat kesempatan hari ini benar-benar mampu menyelesaikan pendidikan dan kembali menjadi kekuatan baru bagi Sulawesi Tengah.

Sebab pendidikan mungkin tidak menghasilkan bangunan yang bisa langsung dilihat.

Hasilnya membutuhkan waktu.

Tetapi ketika seorang anak dari keluarga sederhana berhasil menjadi sarjana, dokter, guru, peneliti atau profesional berkat kesempatan yang diberikan hari ini, di situlah investasi pendidikan mulai menunjukkan nilainya.

Dan mungkin, puluhan tahun mendatang, dampak terbesar sebuah program pemerintah bukan terletak pada berapa banyak anggaran yang dibelanjakan.

Melainkan pada berapa banyak mimpi anak-anak Sulawesi Tengah yang gagal terhenti hanya karena keluarganya tidak mampu membayar biaya pendidikan.***   

Editor : Muhammad Awaludin
Mahasiswa Sulawesi Tengah Anwar Hafid beasiswa sulteng Berani Cerdas pendidikan gratis