Merajut Kerukunan di Tengah Industri Nikel Morowali, IMIP dan Warga Menjaga Keberagaman

lib • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 09:22 WIB
Suasana HUT RI ke 81 di Kawasan PT IMIP Morowali (kiri) dan Foto Qoutes Prof Zainal Abidin ketua FKUB Sulteng (kanan). (Foto Humas IMIP)
Suasana HUT RI ke 81 di Kawasan PT IMIP Morowali (kiri) dan Foto Qoutes Prof Zainal Abidin ketua FKUB Sulteng (kanan). (Foto Humas IMIP)

Laporan: Murtalib, Radar Palu Jawa Pos

Suara mesin industri biasanya menjadi bunyi yang paling mudah dikenali dari kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). 

Truk-truk logistik bergerak, aktivitas produksi berlangsung, dan ribuan pekerja datang silih berganti memenuhi kawasan industri yang tumbuh cepat di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.

Namun, pada waktu-waktu tertentu, suara itu seperti mengambil jeda.

Pada Selasa pagi, 25 Agustus 2026, misalnya. Dari Masjid Al-Mutakabbir di Desa Siumbatu, Kecamatan Bahodopi, suara takbir dan selawat terdengar. Ratusan orang duduk bersila. Ada pekerja, santri, perangkat desa, pengurus masjid, hingga tokoh agama.

Mereka berkumpul untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah.
Di luar masjid, kawasan industri tetap berjalan sebagaimana biasanya. 

Di dalam rumah ibadah, orang-orang berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih mendasar, bagaimana hidup bersama di tengah perbedaan.

Tema Maulid tahun ini adalah “Merajut Persatuan, Menjaga Kerukunan, Menuju Siumbatu yang Damai dan Berkah”.

Suasana acara Maulid yang diselenggarakan PT IMIP (kiri), dan foto kegiatan tarik tambang melibatkan karyawan dan tenant PT IMIP pada perayaan HUT RI ke 81. (Foto Humas PT IMIP)
Suasana acara Maulid yang diselenggarakan PT IMIP (kiri), dan foto kegiatan tarik tambang melibatkan karyawan dan tenant PT IMIP pada perayaan HUT RI ke 81. (Foto Humas PT IMIP)

Tema tersebut terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari di Bahodopi. Kawasan ini tidak hanya mempertemukan aktivitas industri dengan permukiman warga, tetapi juga mempertemukan orang-orang dari latar belakang yang beragam.

Ada warga lokal Morowali. Ada pekerja yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Ada pula tenaga kerja asing. Mereka membawa bahasa, kebiasaan, budaya, dan pengalaman hidup masing-masing.

Di tengah keragaman itu, ruang-ruang bersama menjadi penting.
“Momentum Maulid ini hendaknya dapat terus mengingatkan kita tentang kebaikan, saling bersinergi dalam keikhlasan serta kesabaran,” kata Ketua Dewan Kemakmuran Masjid PT IMIP, Djoko Suprapto.

Maulid, bagi Djoko, tidak berhenti sebagai acara tahunan. Nilai yang dibawa Nabi Muhammad SAW diharapkan menjadi bagian dari kehidupan di tempat kerja maupun di tengah masyarakat, sabar menghadapi persoalan, jujur dalam pekerjaan, serta tidak mudah terprovokasi oleh perbedaan.

Masjid Al-Mutakabbir sendiri menjadi salah satu ruang perjumpaan itu.
Djoko menyebut keberadaan masjid tersebut bukan hanya untuk kepentingan pekerja.
 Pemerintah Desa Siumbatu turut terlibat dalam kegiatan Maulid.

“Ini rumah kita bersama. Masjid ini berdiri di tanah Siumbatu, dan keberkahannya harus dirasakan warga Siumbatu,” ujarnya.

Pesan yang sama disampaikan Ketua MUI Morowali, H. Mauluddin, dalam ceramahnya. Ia mengajak jamaah melihat peringatan kelahiran Nabi sebagai momentum untuk merawat kemajemukan.

“Peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW menjadi semangat dan landasan kuat bagi perubahan peradaban Islam ke depan. Mari kita merajut kemajemukan agar tidak terjadi permusuhan,” katanya.

Kejujuran, kesabaran, dan keikhlasan menjadi tiga nilai yang ia tekankan.
Bagi Mauluddin, kemajuan Bahodopi tidak cukup hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi. Kemajuan juga harus terlihat dari kemampuan masyarakat menjaga kebersamaan.

Di barisan depan, para santri TPA duduk mengikuti rangkaian acara. Di belakang mereka, beberapa karyawan masih mengenakan tanda pengenal perusahaan. Tokoh pemerintahan dan agama turut hadir.
Pemandangan itu sederhana, tetapi menggambarkan wajah Bahodopi hari ini.

Gambaran tentang kerukunan di kawasan industri itu juga mendapat perhatian Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah, Prof. Dr. KH. Zainal Abidin, M.Ag.

Guru besar filsafat UIN Datokarama Palu itu mengatakan harmonisasi umat beragama di kawasan IMIP sangat baik. Salah satu indikatornya, menurut dia, adalah tersedianya fasilitas rumah ibadah bagi pekerja.

Di kawasan tersebut terdapat masjid serta gereja Oekumene.
Fasilitas itu memberi ruang bagi karyawan untuk menjalankan ibadah dengan lebih tenang dan nyaman. 

Prof Zainal mengatakan FKUB Sulawesi Tengah bahkan pernah melakukan pemantauan langsung ke kawasan IMIP.
Ia juga melihat rumah ibadah menjadi ruang yang mempertemukan umat.

Gereja Oekumene, misalnya, menjadi tempat berkumpul umat Nasrani dari berbagai latar sekte. Begitu pula masjid menjadi ruang perjumpaan umat Islam tanpa membedakan mazhab.

Bagi sebuah kawasan industri yang dihuni orang-orang dari berbagai daerah dan latar belakang, ruang bersama semacam itu menjadi penting.
Perbedaan tidak selalu harus dihilangkan. Ia justru bisa dikelola agar orang tetap dapat bekerja dan hidup berdampingan.

“Selain diundang secara pribadi, kami dari FKUB Sulteng pernah melakukan pemantauan langsung ke lapangan,” ujar Prof Zainal kepada Radar Palu, Selasa (1/9).

Ia mengatakan, dalam peninjauan tersebut, isu mengenai hambatan beribadah yang sempat beredar tidak ditemukan.
Tentu saja, kehidupan di kawasan industri tidak hanya soal agama.
Ada pula budaya yang ikut bergerak bersama pertumbuhan kawasan.

Prof Zainal menyebut perkembangan kota, meningkatnya jumlah tenaga kerja, tingginya perputaran ekonomi, serta kemajuan kawasan dapat memengaruhi dinamika budaya masyarakat.

FKUB Sulawesi Tengah, katanya, belum melakukan penelitian khusus mengenai perubahan budaya tersebut.
Tetapi satu hal jelas, ketika puluhan ribu orang bertemu di satu kawasan dengan latar belakang berbeda, kehidupan sosial di sekitarnya ikut berubah.

Bahodopi menjadi salah satu ruang perjumpaan itu.
Semangat merangkul keberagaman juga terlihat pada momentum lain, beberapa hari sebelum Maulid.

Senin pagi, 17 Agustus 2026, kawasan IMIP berubah wajah.
Ribuan karyawan, manajemen, serta perwakilan tenant berkumpul di lapangan upacara untuk memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Deru aktivitas industri sejenak digantikan suasana khidmat. Di barisan depan berdiri Satgas PAM Obvitnas dari TNI dan Polri bersama petugas PT Morowali Security Service (MSS).

Inspektur upacara, Head of External Affairs PT IMIP yang juga Direktur PT MSS, Thomas Deni Bintoro, berdiri di hadapan peserta.

Teks Proklamasi dibacakan Djoko Suprapto. Paskibraka kemudian mengibarkan Sang Saka.
Lalu, setelah Indonesia Raya berkumandang, paduan suara mahasiswa Politeknik Industri Logam Morowali membawakan lagu daerah Bungku.

Lagu kebangsaan bertemu dengan identitas budaya setempat. Di situlah keberagaman tidak lagi menjadi kata yang abstrak. Ia terdengar. Ia terlihat. Dan ia dirayakan.
IMIP mengangkat tema “Embracing Diversity” atau merangkul keberagaman dalam rangkaian perayaan kemerdekaan tahun ini.

Setelah upacara selesai, suasana berubah menjadi lebih cair. Lapangan dipenuhi lomba tradisional mulai, balap karung, tarik tambang, bakiak, engrang, balap balok, hingga lomba menggiring bola menggunakan corong.

Ada pula fashion show dengan busana yang dibuat dari bahan daur ulang limbah industri.
Sejak Juli, rangkaian kegiatan telah diisi kompetisi seni dan budaya, mulai dari lomba nyanyi duet, vokal grup, hingga tari kreasi. 
Bazaar kuliner UMKM turut hadir, mempertemukan pekerja dan masyarakat dengan produk kuliner lokal Morowali.

Deputi Direktur Operasional PT IMIP, Yulius Susanto, mengatakan kemerdekaan seharusnya diisi dengan kerja nyata dan kontribusi bagi bangsa.

“Bagi IMIP, Hari Kemerdekaan menjadi momen untuk mengingat kembali perjuangan para pahlawan, sekaligus mengingatkan kita untuk terus berjuang dan semangat dalam berkarya,” katanya.

Di kawasan yang mempertemukan orang dari berbagai suku, agama, daerah, dan budaya itu, keberagaman kemudian menemukan bentuknya sendiri.
Kadang melalui upacara.
Kadang melalui lagu daerah.
Kadang melalui lomba sederhana.

Dan pada hari lain, melalui doa bersama di rumah ibadah.
Menjelang siang setelah Maulid di Masjid Al-Mutakabbir, warga dan pekerja kembali berbaur. Hidangan makan bersama disiapkan.
Di luar, aktivitas kawasan industri kembali mengambil ruang. Mesin bergerak. Kendaraan melintas. Pabrik terus berproduksi.

Tetapi pesan dari dalam masjid masih tersisa, menahan amarah, menebar manfaat, menjaga tetangga, dan tidak membiarkan perbedaan berubah menjadi permusuhan.

Bagi IMIP, menjaga keseimbangan antara aktivitas produksi dan kehidupan sosial menjadi bagian dari perjalanan kawasan industri tersebut.
Sebab sebuah kawasan industri bukan hanya tentang angka investasi, produksi, atau ekspor.

Di dalamnya ada manusia.
Ada pekerja yang meninggalkan kampung halaman. Ada warga yang hidup berdampingan dengan kawasan industri. Ada keluarga yang tumbuh bersama perubahan ekonomi. Ada pula tradisi dan budaya yang terus mencari ruang di tengah modernisasi.

Karena itu, kerukunan tidak selalu lahir dari pidato besar.
Ia bisa tumbuh dari rumah ibadah yang pintunya terbuka.
Dari makan bersama setelah Maulid. Dari lagu daerah yang dinyanyikan setelah Indonesia Raya. Dari pekerja dan warga yang berdiri di lapangan yang sama.

Di Morowali, cerobong asap dan suara mesin mungkin menjadi penanda kemajuan industri.
Tetapi di antara semua itu, ada hal lain yang sedang dibangun yakni, kemampuan untuk hidup bersama.

Di tengah derasnya industrialisasi, persatuan mungkin memang tidak perlu selalu diteriakkan.
Cukup dirawat. Hari demi hari.
Di masjid, di tempat kerja, di lapangan upacara, di ruang budaya, dan di antara orang-orang yang berbeda tetapi memilih untuk tetap berdiri di bawah satu bendera.
Merah Putih. (*)

Editor : lib
keberagaman Bahodopi morowali kerukunan IMIP