Jerman Melirik Sulteng, Kakao hingga Mineral Jadi Target Investasi

Muhammad Awaludin • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 16:27 WIB
Wakil Gubernur Sulteng Reny Lamadjido menerima kunjungan Duta Besar Jerman untuk Indonesia Ralf Beste di Palu, Rabu (26/8/2026). FOTO: BIRO ADPIM SULTENG 
Wakil Gubernur Sulteng Reny Lamadjido menerima kunjungan Duta Besar Jerman untuk Indonesia Ralf Beste di Palu, Rabu (26/8/2026). FOTO: BIRO ADPIM SULTENG 

 

RADAR PALU — Sulawesi Tengah tak hanya menawarkan kekayaan sumber daya alam. Di balik kakao, kelapa, hasil perikanan dan mineral, pemerintah daerah kini mencoba membuka pintu bagi investasi yang membawa teknologi dan nilai tambah.

Peluang itu muncul dalam pertemuan Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Reny Lamadjido dengan Duta Besar Jerman untuk Indonesia Ralf Beste di Kantor Gubernur Sulteng, Rabu (26/8/2026).

Pertemuan tersebut menjadi pembuka pembicaraan mengenai peluang kerja sama ekonomi antara Sulteng dan Jerman. Sektor yang dibahas cukup luas, mulai dari pertanian, perkebunan dan perikanan hingga perdagangan serta mineral. 

Baca Juga: Pelaku Pembunuhan Satu Keluarga di Duyu Ditangkap Setelah Hampir Sebulan Buron

Yang menarik perhatian adalah komoditas kakao.

Sulteng memproduksi sekitar 126.516 ton kakao sepanjang 2025. Angka itu menunjukkan besarnya potensi perkebunan daerah, tetapi sekaligus menyisakan pekerjaan rumah karena produktivitas petani masih menghadapi persoalan tanaman tua, hama, perubahan cuaca dan keterbatasan teknologi. 

Baca Juga: Polisi Periksa SPPG Kanali, Dapur MBG di Bangkep Disuspend

Bagi pemerintah daerah, persoalannya bukan sekadar meningkatkan produksi.

Kakao dan komoditas perkebunan lainnya diharapkan bisa masuk ke tahap pengolahan sehingga keuntungan ekonomi tidak berhenti di tingkat bahan mentah.

Hal serupa ingin didorong pada komoditas kelapa. Produk turunannya dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan, mulai dari santan dan susu kelapa hingga pemanfaatan tempurung sebagai sumber energi alternatif.

“Semua bagian dari komoditas harus memiliki nilai ekonomi. Dengan hilirisasi, masyarakat tidak hanya menjual bahan mentah tetapi mendapatkan manfaat yang lebih besar,” kata Reny.

Mineral Ikut Masuk Pembicaraan

Ruang kerja sama dengan Jerman ternyata tidak berhenti pada sektor pangan dan perkebunan.

Ralf Beste turut menyoroti sektor mineral yang menjadi salah satu kekuatan ekonomi Sulteng. Jerman melihat peluang untuk mempertemukan perusahaan asal negaranya dengan pelaku usaha lokal guna mencari bentuk kerja sama yang sesuai. 

Baca Juga: Selidiki Dugaan PETI, Polda Sulteng Amankan 22 Excavator dari Perkebunan Warga Buol

“Kami siap membantu mencocokkan peluang bisnis yang ada di Sulawesi Tengah dengan perusahaan-perusahaan Jerman yang memiliki ketertarikan untuk berinvestasi,” ujar Ralf.

Langkah tersebut membuka peluang kerja sama yang lebih konkret, terutama jika investasi nantinya disertai transfer teknologi, peningkatan kapasitas tenaga kerja dan pengembangan industri pengolahan di daerah.

Bagi Sulteng, tantangannya adalah memastikan kekayaan sumber daya alam tidak hanya menghasilkan aktivitas ekonomi jangka pendek. 

Baca Juga: Komisi III DPRD Sulteng Kawal Tiga Rekomendasi Utama Terkait PT IMNI

Pemerintah daerah ingin membangun rantai nilai yang lebih panjang dengan melibatkan swasta, BUMN, BUMD hingga koperasi.

Dengan begitu, komoditas yang keluar dari Sulteng tidak lagi sekadar berbentuk bahan mentah.

Pertemuan dengan Dubes Jerman menjadi langkah awal untuk menguji peluang tersebut. Dari kakao hingga mineral, Sulteng kini menawarkan potensi sumber daya sekaligus ruang bagi teknologi dan investasi untuk masuk.

Jika pembicaraan berlanjut ke tingkat pelaku usaha, kerja sama tersebut akan memasuki tahap yang lebih konkret: siapa yang berinvestasi, teknologi apa yang dibawa, dan seberapa besar nilai tambah yang bisa tinggal di Sulawesi Tengah.*** 

Editor : Muhammad Awaludin
Jerman kakao hilirisasi sulawesi tengah Investasi Sulteng